Skip to main content

Kehidupan Ranjang Antara Dunia Musik Dan Sepak Bola

Kehidupan Ranjang Antara Dunia Musik Dan Sepak Bola

Ketika indahnya lantunan nada yang dilengkapi dengan suara merdu dari seorang vokalis bertemu dengan eloknya liukan dan semangat diatas lapangan hijau, maka kedua hal ini tidak mungkin dapat dipisahkan sebagai hiburan bagi masyarakat luas yang membaptis dirinya dengan dua hiburan tersebut untuk melepas penat dikehidupan mereka. Musik dan sepak bola memang memiliki perbedaan tak kasat mata ketika kita melihat sosok yang memainkan sebuah karyanya diatas panggung dengan segala aksi yang mereka suguhkan bagi para penikmatnya. Hal yang serupa juga dapat kita saksikan diatas lapangan hijau ketika para pemain yang bertanding dilapangan memperlihatkan indahnya dan kerasnya perjuangan mereka dalam melakoni laga tersebut dengan sesekali memperlihatkan skill yang mereka miliki dengan tujuan untuk menunjukan keahlian mereka yang mungkin dapat juga didefinisikan dengan kata “karya” mereka.

 

Ketika sepak bola membicarakan tentang histori, fanatisme dan kejayaan dari suatu tim, maka tidak mungkin musik juga tidak berbicara tentang hal yang sama. Bagaimana tidak, ketika musik dan sepak bola memiliki banyak peminat dengan segala fanatisme nya yang berlatar belakang kesamaan kultur dan hubungan emosional maka dapat disimpulkan bahwa kedua hiburan ini memiliki keterikatan yang sangat erat dalam berbagai aspek. Dalam menghasilkan karya nya kedua hiburan ini memiliki kesamaan ketika dimana mereka mengolah suatu materi yang penuh dengan teknik dan penguasaan dalam bidangnya.

 

Selain daripada menjadi sarana hiburan, dunia sepak bola dan musik menjadi media penyampaian aspirasi hingga bentuk perjuangan. Dalam dunia sepak bola tidak jarang kita temui sekumpulan suporter yang berada didalam stadion menyuarakan aspirasi dengan semangat perjuangan untuk mendapatkan atau juga memperjuangkan keadilan. Dinegara kelahiran sepak bola modern yaitu di Inggris, sepak bola adalah salah satu hiburan yang diprakarsai dan dinikmati oleh para kaum kelas pekerja. Setelah diprakarsai oleh kaum kelas pekerja, olah raga ini menjadi media untuk menyampaikan aspirasi dan dapat dilihat juga aksi protes dari para pemain hingga suporter yang berada dilapangan yang syarat akan solidaritas dan kolektivitas. Bagi sebagian besar kaum kelas pekerja, sepak bola bukan hanya sekedar permaian, melebihi itu semua, sepak bola menjadi kendaraan yang dapat mengantarkan mereka pada revolusi yang mereka yakini.

 

Pada tahun 1980 Liverpool menjadi salah satu tim sepak bola yang mendapatkan berbagai rintangan. Dibawah kepemimpinan pemerintahan Margareth Thatcher, Liverpool mendapatkan berbagai masalah. Faktor kerusuhan dan berbagai insiden lainnya menjadikan kota Liverpool tidak layak lagi di investasikan. Pemerintahan Margareth Thatcher memutuskan untuk melakukan “managed decline” bagi kota ini. Keputusan Margareth Thatcher ini berbuah pada pemecatan 500 kaum buruh dikota Liverpool dan hal ini juga menarik perhatian para aktifis dan penggiat sepak bola di kota ini. Salah satu pemain sepak bola yang menyeruakan aspirasi terhadap kasus ini dalah Robbie Fowler, ia melakukan selebrasi setelah mencetak gol keduanya ketika melawan tim asal Norwegia yaitu SK Brann. Fowler melakukan selebrasi dengan membuka jerseynya dan memperlihatkan kaos yang bertuliskan “Dukung 500 buruh yang dipecat” dengan menambahkan logo dari Calvin Klein. Hal ini menjadi perhatian yang menarik, karena setelah melakukan selebrasi tersebut Robbie Fowler mendapatkan hukuman denda sebanyak 900 poundsterling karena melanggar peraturan UEFA yang menentang demonstrasi politik dilapangan sepak bola. Peratruran UEFA ini diyakini oleh para kaum kelas pekerja dibuat hanya untuk memisahkan budaya para kaum kelas pekerja dalam menggeluti dan menikmati sepak bola menjadi sesuatu yang terbatas dan sepak bola hanya dapat dinikmati dan dimainkan oleh para kaum borjuis dan konglomerat.  

 

Ternyata selain daripada sepak bola, musik juga menjadi salah satu media dalam menyampaikan aspirasi dan bentuk protes. Salah satu band asal Wales menjadi band yang lantang menyuarakan ketidak adilan yang dilakukan oleh para fasis. Dalam salah satu lagunya yang berjudul “If You Tolerate This you Children Will Be Next”. Pada penggalan lirik dalam lagu tersebut yang ditulis oleh Nick Jones, James Dean Bradfield dan Sean Moore ini berisi pesan yang sangat bermakna ketika mereka menuliskan “So if I can shoot rabbits, Then I can shoot fascists”. Dari beberapa sumber yang kami dapatkan, Manic Street Preachers terinspirasi dari poster propaganda Partai Republik pada waktu itu yang ditulis dalam bahasa Inggris dan menampilkan foto seorang anak muda yang tewas dibunuh oleh kaum Nasionalis, di bawah langit yang dipenuhi pesawat tempur. Nicky Wire sebagai pemain bass dari Manic Street Preachers juga mengungkapkan bahwa mereka terinspirasi dari lagu The Clash yang memiliki subjek yang sama dengan lagu yang mereka ciptakan.

 

Sepak bola dan musik menjadi sesuatu yang sangat bermakna ketika dimana kita melihat apa yang Robbie Fowler dan Manic Street Preachers sampaikan dalam “karya” mereka. Tetapi ternyata tidak hanya itu, musik dan sepak bola memiliki keterikatan yang sangat kuat ketika kita melihat beberapa musisi yang sangat menggilai dunia sepak bola dan tidak jarang kita melihat langsung kehadiran mereka didalam stadion. Kecintaan pada musik dan sepak bola seperti sudah mendarah daging bagi mereka. Galaghher brother, Serge Pizzorno dan Mani Mounfield adalah beberapa sosok yang sering terlihat hadir dalam pertandingan sepak bola dikota mereka. Tidak hanya meghadiri gelaran pertandingan sepak bola, merek juga sering terlihat memakai dan membawa bendera tim kebanggan mereka diatas panggung.

 

Musik dan sepakbola akan selalu berjalan berdampingan. Perkawinan sepakbola dan musik tidak hanya sebatas di lapangan hijau. Semangat perjuangan, keindahan permainan dan musik yang dilantunkan menjadi roh dalam musik dan sepak bola. Perbedaan pemahaman bukanlah penghalang untuk menikmati keduanya. Karena ketika musik mulai dimainkan dan bola sudah bergulir dilapangan, mereka berbicara dengan satu bahasa yang sama dengan segala keyakinan yang mereka yakini.

 

Ketika musik dan sepak bola menjadi sesuatu yang memiliki keterikatan yang sangat erat dan dapat menjadi alat pemersatu, mengapa tidak sedikit kelompok suporter di Indonesia yang masih mempermasalahkan hal ini? Terkadang musik dan sepak bola memiliki porsinya masing-masing dalam perhelatannya. Biarkan musik tetap terdengar dan nikmati itu semua diatas panggung dan biarkan sepak bola dengan segala fanatisme nya terjadi dilapangan.

 

 

Penulis: Rifqi Maulana

Comments

Be the first to comment.

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.
Thanks for contacting us! We'll get back to you shortly. Thanks for subscribing Thanks! We will notify you when it becomes available! The max number of items have already been added There is only one item left to add to the cart There are only [num_items] items left to add to the cart