Skip to main content

Akar Permusuhan Manchester United Vs Leeds United

Akar Permusuhan Manchester United Vs Leeds United

Salah satu laha pembuka saat Premier League atau kasta tertinggi sepak bola Inggris kembali bergulir mempertemukan Manchester United yang menjamu Leeds United pada Sabtu, 14 Agustus 2020. Manchester United berhasil mempermalukan tamunya dengan skor yang cukup telak dengan skor 5-1. Sontak para fans Manchester United merespon kemenangan mereka pada laga perdana tersebut

 

Kemenangan Manchster United jelas membawa euforia bagi para pecintanya, media elektronik dengan cepat memberitakan kemenangan United. Namun tidak lama dari itu, terjadi pertikaian antara suporter Manchester United dengan fans Leeds United. Beberapa potongan video dengan cepat tersebar walaupun dengan kualitas gambar yang diambil dari warga yang turut mengabadikan momen tersebut. Hal ini jelas memberikan sedikit gambaran bahwa hooliganisme belum berakhir seperti apa yang khalayak luas bayangkan.

 

Namun, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Bukannya musuh bebuyutan Manchester United itu Liverpool? Atau tim asal Inggris bagian selatan seperti Chelsea atau Arsenal? Atau tim satu kota Manchester City?

 

Rivalitas Manchester United dengan beberapa tim di atas memang tak dapat terbantahkan, namun ada satu derby yang cukup panas dan sudah lama terlewatkan, ya, derby tersebut bertajuk Pennines derby atau Roses Rivalry, derby panas yang mempertemukan Manchester United dengan Leeds United. Derby ini tidak semena-mena terjadi, ada sejarah yang diyakini sebagai pemantik dari tensi panas yang terjadi di atas lapangan hijau dan kekerasan sepak bola yang terjadi diluar lapangan.

Rivalitas antara Manchester United dan Leeds United ini merupakan persaingan dua klub Inggris di bagian utara (Northern English). Rivalitas ini begitu mengakar antara wilayah bersejarah Lancashire (basis United) dan Yorkshire (basis Leeds). Asal usul persaingan United dan Leeds diyakini berasal dari Wars of the Roses alias Perang Mawar pada abad ke-15. Lalu apa sebenarnya Wars of the Roses ini?

 

Wars of the Roses

Wars of The Roses merupakan merupakan rangkaian perang saudara dalam dinasti Tudors. Lebih tepatnya antara Keluarga Lancaster dengan Keluarga York. Perang bertahun-tahun ini bertujuan untuk memperebutkan tahta tertinggi Inggris. Mawar Putih mewakili York, sementara Mawar Merah mewakili Lancaster. Wars of the Roses ini berlangsung selama 30 tahun dari 1455-1487.

 

Kedua keluarga yang masih erat terkait ini mengklaim tahta satu sama lain, mengingat keturunan dari anak-anak Edward III, raja Inggris yang berkuasa dari 1327 sampai 1377. Penerus dari Raja Edward III ini adalah Raja Henry IV yang berasal dari Lancaster. Ia berkuasa mulai pada tahun 1399 dan selama masa pemerintahannya ini marak terjadi pelanggaran hukum.

Gayung bersambut, putra dari Raja Henry IV yaitu Henry V dinilai berhasil dan memenangkan Perang Seratus Tahun melawan Perancis (konflik bersenjata sepanjang 116 tahun antara Kerajaan Inggris dan Prancis.) Penerus berikutnya, Henry VI  dianggap tidak memiliki kemampuan memimpin dan dianggap tidak becus untuk melakukan tugas sebagai raja karena ia kehilangan sebagian besar tanah Prancis yang telah direbut oleh ayahnya pada saat perang sebelumnya.

 

Dalam periode ini, secara bersamaan keadaan di dalam negeri Inggris juga sedang mengalami kekacauan. Merespon ketidakbecusan Henry VI, terjadilah pemberontakkan dari para bangsawan dan tentara swasta menantang otoritas Henry VI. Dalam keadaan seperti ini muncul ratu ambisius, Margaret dari Anjou yang mengendalikan kerajaan.

 

Pada tahun 1453, Henry VI terjerumus ke dalam “kegilaan”. Oleh karena itu pada tahun 1454 Parlemen Inggris menunjuk Richard, Duke of York, sebagai pelindung dari kerajaan Inggris. Berdasarkan silsilah keluarga, Henry IV dan kakek York adalah anak-anak keempat dan ketiga Raja Edward III. Ketika Henry VI telah dalam kondisi yang lebih stabil pada akhir 1454, ia diberhentikan Duke of York. Untuk sementara otoritas dikendalikan oleh Margaret, Ratu Inggris, istri Henry VI. Tetapi Margaret beranggapan bahwa York sebagai ancaman bagi keberlangsungan generasi keluarga mereka.

 

Ketika perang pertama kali terjadi, pada Mei 1455, pasukan York membawa 3.000 orang menuju London. Pada tanggal 22 Mei 1455, pasukan York bertemu pasukan Henry di St. Albans yang merupakan jalan utara untuk menuju ibu kota. Pertempuran berdarah ini berlangsung kurang dari satu jam dengan kemenangan di pihak York. Duke of Somerset, sekutu besar Margaret, tewas, dan Henry VI ditangkap.

 

Edward, anak Richard  naik tahta sebagai Raja Edward IV. Pada bulan Maret 1461, terjadi Pertempuran paling berdarah antara Lancaster dan York. Dan kemenangan pun di tangan York. Henry, Margaret dan keluarga mereka melarikan diri ke Skotlandia. Tahap pertama perang ini kemudian usai.

Konflik kemudian mengarah pada penggulingan Edward pada 1470 dan pemulihan tahta Henry VI. Tahun berikutnya, setelah Edward kembali dari Belanda, ia berhasil mengalahkan pasukan Margaret, membunuh anaknya, dan memenjarakan Henry IV di Tower of London, di mana ia dibunuh. Edward IV kemudian memerintah tanpa gangguan sampai kematiannya pada 1483. Anak tertuanya menjadi Raja  Edward V. Sayangya terjadi konflik di tubuh keluarga York sendiri. Saudara Edward IV, Richard III, merebut mahkota dan memenjarakan Edward IV dan adiknya di Tower of London. Ditempat tersebut mereka mati karena dibunuh. Pada 1485, Raja Richard III dikalahkan dan dibunuh oleh pasukan Lancaster yang dipimpin oleh Henry Tudor di Pertempuran Bosworth.

 

Henry Tudor memperoleh kemenangan dan memproklamasikan diri menjadi Raja Henry VII, raja Tudor pertama. Henry adalah cucu dari Catherine dari Valois, janda Henry V, dan Owen Tudor. Pada 1486, ia menikah dengan putri Edward IV yaitu Elizabeth dari York. Dengan pernikahan ini maka menyatukan antara York dan Lancaster. Peristiwa ini dipandang sebagai akhir Perang Mawar. Meskipun beberapa orang York pada 1487 melakukan pemberontakan melawan Henry, yang dipimpin oleh Lambert Simnel. Tetapi dapat diatasi.

 

Dalam perang ini, pasukan Lancaster mengibarkan bendera kebesaran mereka yaitu mawar merah, sedangkan pasukan York mengibarkan bendera dengan lambang mawar putih. Itulah mengapa perang ini kemudian dijuluki Perang Mawar (Wars of Roses).

 

Persaingan Pada Masa Revolusi Industri

Masa revolusi industri di akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-19 juga menjadi salah satu pemantik persaingan Leeds dan Manchester. Leeds yang kala itu unggul dalam industri wol, harus mengakui keunggulan industri kapas milik kota Manchester yang sedang berkembang dengan pesat pada saat itu. Murahnya kapas serta transportasi kereta api batu bara yang murah melewati kanal Bridgewater menjadi cikal bakal industri wol Leeds yang semakin menurun akibat industri kapas Manchester. Manchester mendapat gelar Raja Katuna karena pesatnya industri katun mereka, sehingga menimbulkan kecemburuan kultural masyarakat Leeds terhadap pesatnya perkembangan industri masyarakat Manchester.

 

Tidak hanya itu, bidang seni pun turut menjadi pemantik kecemburuan serupa. Produk dari Yorkshire seperti novel-novel karya Keith Waterhouse, buku dan karya seni dari David Storey yang dianggap sebagai masterpiece modern oleh kalangan di Inggris, harus kalah oleh produk dari Manchester seperti musik dari band Oasis atau opera sabun Coronation Street. Orang-orang Yorkshire berpendapat kalau Manchester selalu menjadi "media darling" dan perlakuan tidak adil diperoleh orang-orang Yorkshire.

 

Persaingan Dalam Dunia Sepak Bola

Pertempuran berdarah di medan perang itu memaksa masuk ke stadion yang dijinjing secara dramatis oleh para penggemar sepak bola dari masing-masing wilayah. Salah satu saksi sejarah persaingan yang mungkin akan sangat sulit dilupakan oleh kedua tim adalah pada saat gelaran semifinal Piala FA 1964-1965. Laga yang berakhir dengan skor kacamaya tersebut membawa nuansa Wars of the Roses, para pemain dari kedua tim terlibat baku hantam akibat pemain Manchester United, Nobby Stiles, melayangkan tekel keras kepada pemain Leeds United, Albert Johanneson. Pada laga ulangan, Leeds United akhirnya menyudahi perlawanan Manchester United lewat gol semata wayang Billy Bremner pada menit ke-89.

Pertempuran antara kedua tim ini tidak hanya berhenti di Piala FA, tetapi di Divisi Utama Liga Inggris musim itu. Setan Merah akhirnya keluar sebagai juara setelah hanya unggul selisih gol atas Leeds United yang berada di posisi kedua. Sejak itulah persaingan dalam dunia sepak bola muncul dan pertemuan kedua tim ini selalu menjadi laga yang dinantikan, bukan hanya oleh kedua pendukung namun seluruh penikmat sepak bola Inggris.

 

Sejak saat itu, pertemuan keduanya semakin bertambah panas dan sengit dalam perburuan gelar Liga Inggris. Rivalitas kedua tim terus berlanjut, tidak terkecuali ketika maraknya hooliganisme  di Inggris pada tahun 1970-an. Perkelahian antara Leeds United Service Crew dan Red Army disebut sebagai perkelahian paling mencekam pada saat itu. Untungnya bentrokan antara dua kelompok ini berangsur surut pada musim 1981-1982 setelah Leeds United terdegradasi ke kasta kedua Liga Inggris. Namun, berselang delapan tahun kemudian, rivalitas itu kembali muncul ke permukaan setelah Leeds United langsung menggila di Liga Inggris usai promosi pada 1990-1991.

Tensi panas antara kedua tim sebenarnya sempat mereda saat Manchester United terdegradasi ke Division Two pada tahun 1974 dan musuh besarnya Leeds kala itu sedang masa keemasan, hanya kalah empat kali dari 25 pertemuan atas setan merah. Tampaknya, itu tidak berlaku bagi fans kedua tim yang memiliki sejarah panjang ini. Berlaga dalam divisi yang berbeda tidak melunturkan rivalitas antara kedua penggemar, sebaliknya, malah menjadi lebih panas.

 

Berbagai fenomena pun hampir selalu mengiringi rivalitas keduanya, mulai dari Leeds United meraih juara Liga Inggris pada 1991-1992 hingga perseteruan Alf-Inge Haaland dengan Roy Keane. Kini, pertarungan sengit antara Manchester United dan Leeds United akan kembali terulang pada Premier League musim 2021-2022.

Comments

Be the first to comment.

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.
Thanks for contacting us! We'll get back to you shortly. Thanks for subscribing Thanks! We will notify you when it becomes available! The max number of items have already been added There is only one item left to add to the cart There are only [num_items] items left to add to the cart