Skip to main content

Fanatisme The Stone Roses Terhadap Manchester United

Fanatisme The Stone Roses Terhadap Manchester United

Sebelum memiliki banyak penggemar diseluruh penjuru dunia, sepak bola Inggris pada masa lampau sempat dianggap sebagai sesuatu yang sangat dilarang. Sepakbola Inggris adalah olahraga menjijikkan yang sangat amat dihindari oleh orang-orang kelas menengah keatas di Inggris. Mabuk-mabukan, kerusuhan, penganiayaan, kantor polisi, rumah sakit bahkan kematian sudah menjadi bumbu pelengkap dalam sepak bola Inggris pada saat itu.

Sebagai sesuatu yang sangat menjijikan, sepakbola Inggris tidak hanya dihindari, permainan yang cukup banyak diminati ini juga turut dikutuk. Tidak tanggung-tanggung, kutukan itu datang dari berbagai elemen, termasuk dari Pemerintahan Inggris pada saat itu.

Gayung bersambut, sepak bola merasuk dan menjelma menjadi sesuatu yang patut untuk dibanggakan di Inggris. Fanatisme menjadi suatu gambaran yang sangat melekat pada sepak bola Inggris. Tidak hanya kaum kelas pekerja, para musisi dan seniman turut menunjukkan kecintaannya pada tim nasional Inggris maupun tim lokal asal kota dimana mereka dilahirkan atau dibesarkan.

Layaknya aliran darah dalam tubuh, musik dan sepak bola berkembang menjadi bagian yang sangat sulit untuk dipisahkan dalam kehidupan warga Inggris. Bahkan sepak bola dan musik tumbuh layaknya agama dalam kehidupan, pencampuran yang indah di mana keduanya bisa saling melengkapi kehidupan satu sama lain. Kedua hal ini seolah telah menjadi akulturasi, antara musik dan sepak bola di Inggris, jika kita mengingat ketika Inggris menjadi tempat musisi-musisi hebat dan juga negara lahirnya sepak bola modern yang menjadi salah satu negara yang mengenalkan sepak bola pada dunia.

Salah satu momen yang turut beriringan dengan kejayaan sepak bola Inggris adalah kancah musik Britpop. Salah satu pergerakan anak muda di Inggris ini ternyata menjadi penyampaian pesan untuk masyarakat. Selain daripada berisikan pesan mengenai isu sosial, kancah musik ini juga turut memperkenalkan masyarakat Inggris dalam bidang olahraga, khususnya sepakbola. Banyak band Britpop yang memperkenalkan kepada masyarakat tentang fanatisme klub sepakbola di Inggris.

Beberapa band yang mengidentikkan diri dengan tim sepak bola lokal secara tidak langsung memperkenalkan klub kesukaaannya melalui lagu yang mereka ciptakan. Namun tidak cukup sampai disitu, mereka juga memakai jersey kebesaran yang dikenakan saat konser atau kegiatan sehari-hari. Bahkan, mereka berhasil menarik para penggemarnya untuk menyukai klub sepakbola kebanggaannya, seperti Jarvis Cocker dengan Sheffield Wednesday, Damon Albarn dengan Chelsea dan Gallagher Brother dari Oasis dengan Manchester City, Serge Pizzorno dengan Leicester City dan masih banyak musisi yang menjadi fans klub sepak bola lainnya.

 

Britpop dan Premier League memiliki sinergi yang luar biasa. Keduanya lahir dan berkembang di  tempat dan waktu yang hampir bersamaan, Inggris di awal 1990-an, menyambung subgenre shoegaze yang sangat familiar satu dekade sebelumnya. Bila grunge adalah jalan alternatif di Amerika Serikat, maka Britpop dan sepak bola adalah salah satu jalan hidup pilihan bagi para pemuda di negara yang terkenal dengan sepak bola modern nya pada saat itu. 

"Ada sinergi yang luar biasa antara musik dan sepakbola selama periode itu," kata Damon Albarn sebagaimana dilansir Tribuna.

Tidak mau kalah dengan Jarvis Cocker dari Pulp, band asal kota Manchester yang menjadi salah satu pionir dari kancah musik Madchester The Stone Roses merupakan band yang cukup identik dengan Manchester United, kecuali penggebuk drum mereka, Alan Wren yang membela tim sekota mereka, Manchester City, tiga personel lain band asal kota industri tersebut, yaitu Ian Brown (vokal), John Squire (gitar), dan Gary Mounfield (bassis) merupakan die hard fan The Red Devils.

Bersama The Stone Roses, Ian Brown dan Gary Mounfield atau yang lebih familiar dengan nama Mani seolah menjadi simpatisan Manchester United. Pada 29 Mei 1968 jadi momen pertama Ian Brown menyaksikan pertandingan Manchester United, saat vokalis tersebut masih berusia lima tahun.

Angan anak bernama Ian Brown terbayar lunas karena George Best dan kawan-kawan berhasil membungkam Benfica 4-1 di final European Cup kala itu. Tiga tahun kemudian, Brown menyaksikan secara langsung pertandingan kandang Manchester United saat menjamu Southampton, dan pada saat itu usianya baru menginjak 8 tahun waktu itu.

 

Uniknya, Brown tidak lahir dan tumbuh dalam keluarga yang mendukung Manchester United. Alih-alih demikian, ayah dan pamannya merupakan suporter Manchester City. Para sepupunya juga sudah memiliki tiket musiman untuk menyaksikan tim rival Manchester United, The Citizens. Ian Brown adalah satu-satunya pendukung Manchester United dalam keluarga Sky Blues, bagaimanapun, seperti yang ia katakan kepada Guardian: "Ayah dan paman saya adalah City. Kakak, keponakan, dan ipar saya memiliki tiket musiman City. Nana dan kakek saya biasa membeli saya kotak uang City, bendera, hal-hal seperti itu; Saya seperti, 'Saya tidak menginginkannya, saya United!'"

Seperti apa yang banyak fans Manchester kenang, epic comeback ajaib Manchester United di Campnou saat menaklukkan Bayern Muenchen di final Liga Champions 1999 menjadi momen yang paling dikenang dan sangat berkesan bagi Brown. Setelah tertinggal lewat gol cepat Mario Basler, setan merah berhasil melesatkan dua gol balasan di menit akhir lewat bantuan Teddy Sehringham dan Ole Gunnar Solskjaer.  

"Kami menontonnya sebelum naik panggung dan kami pikir semuanya sudah berakhir. Lalu Teddy berhasil mencetak gol, semuanya, lalu Ole memasukkan satu gol lagi. Dan selesai sekaligus menjadi pertandingan terbaik United yang pernah ada," ujar Brown.

The Stone Roses memperkenalkan bahwa mereka penggemar Manchester United melalui musik. Salah satu lagunya yang berjudul 'One Love' yang didedikasikan untuk The Red Devils yang meraih treble winner di tahun 1999.

 

Lagu-lagu Stone Roses juga terlibat dalam film 'The Class of 92'. Film tersebut berceritakan pemain generasi emas akademi Man United yang pada akhirnya sukses membawa klub bermarkas di Old Trafford tersebut meraih treble winner 1999. Pemain-pemain tersebut diantaranya David Beckham, Ryan Giggs, Nicky Butt, Paul Scholes, Gary dan Philip Neville.

Hubungan tersebut membuat Ian Brown dekat dengan sejumlah pemain Manchester United. Pentolan grup musik yang tenar dengan tembang I Wanna Be Adored itu disinyalir bersahabat dengan mantan kapten The Red Devils, Gary Neville.

Selain daripada Ian Brown, Gary Mounfield atau yang sering disapa Mani juga menjadi narasumber dalam salah satu film dokumenter yang memuat persaingan antara Manchester United dan Liverpool F.C. Pemain bass band kenamaan di era 80-an, The Stone Roses itu bercerita tentang rivalitas kedua klub di eranya. Mani menuturkan, rivalitas antara Liverpool dan Manchester United baru lahir di era 70an dan 80an. Menurut Mani, Manchester United begitu dominan di era 60an, sehingga tim asal kota Manchester itu tidak memiliki rival.

"Tetapi Liverpool lalu muncul ketika kami sedang kurang bagus (di era 1970-an dan 1980-an) di bawah berbagai manajer dan kami terbiasa melihat kalian memenangkan segalanya," ujar Mani.

Mani menambahkan, sebagai fans MU, ia tentu sangat cemburu melihat kesuksesan Liverpool pada saat itu. Menurutnya, kecemburuan itu baru terbalaskan saat Manchester United dibawah asuhan Sir Alex Ferguson dan berhasil menuai sukses besar.

"Namun sepak bola seperti roda, setiap tim punya waktunya masing-masing. Kalian lalu kami. Lalu tim-tim London dan sekarang Manchester City serta Liverpool mulai kembali," tambah Mani. Mani adalah fans Manchester United paling gila yang pernah saya temui," kenang Brown. "Pada tahun 1994, ketika kami merekam Second Coming, Mani berkata, 'Kami akan memiliki tahun yang hebat tahun depan. Kami akan memenangkan liga dan kami akan pergi ke Amerika.' Begitulah cara dia menilai hidupnya."

 

Warna merah di kelompok ini semakin melekat ketika lagu mereka "This is the One", sejak 2006 selalu diputar di terowongan Stadion Old Trafford saat pemain bersiap memasuki lapangan hijau. Kepada Guardian, Ian Brown mengaku sangat senang ketika tahu lagu yang mereka ciptakan pada tahun 1986 itu dipakai oleh klub yang sangat ia cintai.

Seperti disinggung sebelumnya, representasi nyata bahwa musik di Inggris amatlah kental dengan sepak bola, tidak hanya tim nasional, mereka juga cukup gila akan klub lokal yang sangat mereka banggakan. Bagaimana tidak, musisi Inggris dengan terang-terangan memperlihatkan kecintaannya pada klub lokal mereka.

 

Comments

zondares

Salut sama mereka (di Inggris) band bisa fanatik dengan klub local, tapi ketika konser dimanapun ngga di lempar sesuatu

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.
Thanks for contacting us! We'll get back to you shortly. Thanks for subscribing Thanks! We will notify you when it becomes available! The max number of items have already been added There is only one item left to add to the cart There are only [num_items] items left to add to the cart