Skip to main content

Keterlibatan Suporter Dalam Suatu Klub Sepak Bola

Keterlibatan Suporter Dalam Suatu Klub Sepak Bola

Berbicara tentang sepak bola, selain menyenangkan untuk di mainkan dan dilihat, sebenarnya olahraga di era modern ini investasi dari taipan-taipan besar dunia terhadap klub sepakbola, mereka mencoba merubah cara klub dalam mengelola manajemen dan timnya. Tidak hanya itu, mereka juga turut serta merancang bagaimana suporter diperlakukan layaknya mesin uang dan mengesampingkan perannya sebagai pendukung klub kesebelasan.

Banyaknya klub besar (secara finansial dan jumlah pendukung) di benua Eropa yang dimiliki oleh Investor, Oligarki, Bangsawan, atau hanya segelintir individu yang sangat kaya. Ini berarti beberapa klub yang terhitung legendaris dan sukses di Eropa, seolah dipaksa bergabung atas keputusan dari para petingginya tanpa memikirkan dampak yang terjadi kepada suporter.

Lahirnya era baru di dunia sepak bola dimana para pengusaha sukses mulai menginvestasikan banyak uang ke dunia sepak bola. Sebut saja seperti Paris Saint-Germain dan Manchester City. Gelontoran uang dari pengusaha asal Timur Tengah di kedua klub tersebut membuat mereka menjadi klub yang bisa mendominasi di liganya masing-masing. Namun, hal berbeda tak nampak di kasta tertinggi sepak bola Jerman, Bundesliga. Di Bundesliga, hampir tak ada investor yang berhasil menggelontorkan dana besar di sebuah klub karena adanya aturan 50+1.

Bundesliga Jerman memang tidak semenarik liga Inggris tetapi sepak bola di Jerman harus banyak di contoh oleh klub-klub lain. Sepak bola Jerman pernah mencatat rata-rata kehadiran penonton terbanyak di stadion seluruh dunia pada musim 2017/2018 karena harga tiket yang terjangkau di kalangan menengah ke bawah membuat tribun stadion selalu di penuhi penonton dan mempunyai budaya penggemar yang fanatik terhadap klub kebanggannya sendiri.

Jerman pernah mengalami masa kelam soal pedihnya kala tata pemerintahan begitu mengandalkan tangan besi. Dipaksa satu visi dan tidak boleh membangkang. Kekuatan hanya ada pada satu tangan. Segalanya berjalan otoriter tanpa ada ruang diskusi. Itulah mengapa Jerman kini berupaya demokratis di segala sektor. Tak terkecuali soal sepak bola. Pemangku kebijakan liga, dalam hal ini di level Bundesliga melahirkan sistem 50+1 dalam model kepemilikan klub. Sejak tahun 1990, konsep ini diterapkan demi menuju struktur klub yang lebih profesional.

Untuk menjadi anggota di klub sepak bola di liga Jerman harus membayar biaya tahunan sekitar 30 sampai 60 euro, tergantung kebijakan klub itu dengan keanggotanya itu sendiri akan mendapatkan akses tiket atau akses ke acara tertentu yang paling penting juga mendapatkan hak suara di klub yang mereka dukung menjadikan suporter klub tersebut bukan konsumen untuk tim tersebut. 

Suporter juga memutuskan hal–hal penting mengenai klub dan mereka  memiliki suara mayoritas dan keseluruhan 50+1  aturan ini di rancang  untuk mencegah investor  untuk membeli seluruh klub dan menempatkan kepentingan finansial mereka sendiri di atas kepentingan para suporternya. Keputusan itu sekaligus melindungi dari pemilik yang sembrono dan menjaga kebiasaan demokratis klub-klub Jerman.

Secara historis, tim liga Jerman bukanlah organisasi nirlaba yang dijalankan oleh asosiasi anggota, dan hingga tahun 1998 kepemilikan pribadi dalam bentuk apa pun dilarang. Aturan 50+1, yang diperkenalkan tahun itu, membantu menjelaskan mengapa utang dan upah terkendali dan mengapa harga tiket tetap sangat rendah dibandingkan dengan liga-liga besar lainnya di Eropa.

Bayer Leverkusen dan Wolfsburg adalah dua kasus khusus di Bundesliga, berdasarkan fakta bahwa investor yang memiliki kepentingan di sebuah klub selama lebih dari 20 tahun dapat mengajukan pengecualian dari aturan 50+1. Leverkusen didirikan pada tahun 1904 oleh karyawan perusahaan farmasi Jerman Bayer, yang berbasis di kota. Berafiliasi dengan bengkel lokal, sementara itu, VfL Wolfsburg didirikan pada tahun 1945, hanya tujuh tahun setelah kota itu sendiri dibuat untuk menampung pekerja Volkswagen yang sibuk merakit Beetle atau "mobil rakyat" yang terkenal.

Tantangan pun hadir untuk putusan 50+1. Pada tahun 2009, Raja alat bantu dengar dan Presiden Hannover, Martin Kind berusaha untuk membatalkannya. Tetapi 32 dari 35 klub profesional lainnya menolak proposal tersebut. Tiga abstain setelah pemungutan suara oleh klub di tingkat pertama dan kedua Jerman, Presiden DFL Dr Reinhard Rauball menyatakan kepuasannya.

Bundesliga tetap setia pada prinsipnya dan mempertahankan ketergantungannya pada faktor-faktor yang telah memberikan kontribusi yang menentukan bagi keberhasilan permainan profesional di Jerman dalam beberapa dekade terakhir seperti stabilitas, kontinuitas, dan kedekatan dengan penggemarnya sendiri.

Sementara ribuan dari 290.000 anggota Bayern Munich memenuhi syarat untuk memilih kembali Uli Hoeness sebagai Presiden klub pada tahun 2016. Misalnya, hanya segelintir atau semua karyawan perusahaan induk  diberikan hak istimewa yang sama di Leipzig.

Pengecualian lain disepakati pada Desember 2014, ketika miliarder perangkat lunak, Dietmar Hopp diberi lampu hijau untuk mengambil kendali mayoritas Hoffenheim setelah berinvestasi secara konsisten selama dua dekade.

“Penting dalam penilaian permintaan Hoffenheim adalah bahwa selama lebih dari 20 tahun Dietmar Hopp telah memberikan dukungan keuangan yang cukup besar baik untuk tim profesional maupun amatir klub,” bunyi pernyataan DFL saat itu.

Yang terbaru untuk mencari pengecualian, kini telah mendukung Hannover yang baru dipromosikan selama lebih dari 20 tahun. Setelah pertama kali ditunjuk sebagai Presiden klub pada tahun 1997, pria berusia 82 tahun itu memenuhi syarat untuk mengajukan perlakuan khusus pada tahun 2017 dan tampaknya akan mengambil alih kendali klub.

Dengan pemilik asing yang berhasil memompa miliaran uang ke liga lain, beberapa klub Jerman lainnya juga merasa bahwa perubahan diperlukan agar tetap kompetitif di tingkat global. Pada bulan September 2017, bahkan CEO Bayern Munich, Karl-Heinz Rummenigge mengatakan dia merasa harus diserahkan kepada masing-masing klub untuk memutuskan apakah mereka membuka pintu untuk investasi luar.

Tetapi yang lain mendukung retensi keputusan yang telah membantu mengisi stadion dan menciptakan pengalaman pertandingan yang tak terlupakan. Watzke mengatakan kepada SportBild bahwa dia tidak pernah ingin melihat penggemar Jerman "diperah" demi uang "seperti yang terjadi di Inggris."

Model kepemilikan klub 50+1 ini dianggap demokratis karena menutup peluang terjadi gerak langkah klub yang semena-mena. Pasalnya, setiap ada kebijakan yang dirumuskan, selalu ada proses telaah yang melibatkan banyak kepala. Hal-hal seperti memilih presiden klub misalnya atau mengelola visi klub dilakukan dengan kesepakatan yang mufakat, bukan hanya sepihak.

Menjadi wajar ketika melihat Manchester United atau Liverpool dengan pemiliknya sekarang mulai kelihatan sembrono menjalankan klub karena uang semata lalu seruan memberlakukan 50+1 naik drastis. Tentu sah-sah saja klub Premier League ingin ikut-ikutan cara kesebelasan Bundesliga dengan model 50+1 nya. Namun, apakah serta merta menyelesaikan keriuhan? Jawabannya tidak semudah itu ternyata. Ada batasan kultur dan legal yang membuat klub-klub Premier League menerapkan kepemilikan 50+1 layaknya para kontestan Bundesliga.

Model 50+1 memang membuat kepemilikan klub di banyak tangan, suporter bisa ada di dalamnya sehingga berjalan demokratis. Namun hal tersebut mensyaratkan, dari sudut pandang kultural, bahwa tim dijalankan secara sukarela, bukan bergerak demi keuntungan bisnis dan terlibat pula dalam bagian industri hiburan.

Di Jerman hal seperti ini lumrah terjadi, karena awal klub berkembang lahir dari komunitas lokal. Motivasi menjalankan klub hanya sesederhana siapa saja yang tertarik dengan kegiatan olahraga dapat bergabung menjadi member dan punya hak suara. Masyarakat setempat punya ruang lebih untuk terlibat. Atas dasar fakta kultural di Jerman tersebut menjadikan model 50+1 bisa berjalan di Bundesliga. Adanya kebutuhan akan olahraga semata. Sehingga, lini pergerakannya bukan melebarkan sayap bisnis, melainkan mengembangkan bentuk sarananya.

Bayern Munich misalnya, dominasi yang dilakukan oleh FC Hollywood bukan barang baru di negeri Panzer mengingat sejak tahun 1980 mereka berangkat dari dominasi kuat di olahraga catur pun begitu dengan rivalnya Borussia Dortmund. Die Borussen hadir awalnya sebagai organisasi nirlaba untuk mewadahi masyarakatnya berolahraga.

Jika ditarik ke klub-klub Liga Inggris saat ini, tentu ada halangan besar mengenai pandangan soal bagaimana klub berjalan. Para kontestan Premier League hari ini, terutama The Big Six, telah mendeklarasikan dirinya layaknya firma terbuka. Harus ada pemasukan signifikan karena bagi mereka sepak bola adalah bisnis dan masuk sebagai industri hiburan dengan berbagai gimmick-nya. Dengan halangan soal legal hukum kebanyakan klub-klub Premier League saat ini telah berjalan bagaikan sebuah aset.

Entitasnya dapat diperjual belikan layaknya barang dagangan. Siapa saja latar belakangnya, asal punya uang lebih, dapat memilikinya. Tentu sangat rumit di hadapan pengadilan nantinya untuk mengubahnya menjadi badan non-profit. Ada kerugian hingga sanksi gagal bayar yang membayangi pemilik sebelumnya.

Di Premier League mungkin diperlukan intervensi pemerintah untuk mendorong aturan 50+1 di Inggris Raya. Apakah mereka bersedia atau tidak melakukan itu adalah dugaan siapapun. Runtuhnya Liga Super Eropa telah membuktikan apa yang bisa dilakukan jika para penggemar berdiri sebagai satu kesatuan. Sepak bola Inggris nampaknya masih sangat jauh dari model kepemilikan klub Jerman, tetapi peristiwa baru-baru ini mungkin terbukti menjadi yang pertama dalam perjalanan menuju sesuatu yang dihargai oleh rekan-rekan Bundesliga, yaitu: hak untuk bersuara.

Sebenarnya peluang klub-klub Inggris mengikuti model 50+1 tak tertutup sepenuhnya. Model kepemilikan tim layaknya Bundesliga ini sudah dilakukan, tetapi kebanyakan di level semi-pro dan amatir. Seperti yang dilakukan oleh FC United of Manchester dan AFC Liverpool. Mereka bergerak dari komunitas mereka sendiri dan ujungnya kembali ke marwah yang menjadi identitas bersama. Tentu selalu ada konsekuensi yang harus diterima. Prosesnya tidak bisa menjadi prestasi ataupun gelar juara pun bukan menjadi hal yang sampai di nomor satukan.

Pujian untuk aturan 50+1 ini tidak hanya datang dari dalam Jerman. Pada pembukaan Kongres DFB ke-41 pada tahun 2013, mantan Presiden UEFA, Michel Platini memilih model Bundesliga sebagai standar emas, “Sementara seluruh Eropa memiliki liga yang membosankan, stadion setengah kosong dan klub di ambang kebangkrutan, sepak bola Jerman berada dalam kesehatan yang luar biasa.” Ujar pria berkebangsaan Prancis tersebut.

Aturan ini memastikan bahwa para anggota (suporter) tetap berada di jantung sepak bola Jerman. Mereka adalah orang-orang selalu hadir di dalam stadion-stadion dan berhasil menciptakan atmosfer yang luar biasa di setiap pertandingannya Bundesliga.

Ya, sistem kepemilikan ala klub Jerman ini memang idealnya menjadi standar yang baik untuk pengelolaan klub sepakbola, karena sejatinya sepak bola adalah olahraga yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh penggemarnya, selain sebagai pendukung, mereka juga harus terlibat dalam segala pengambilan keputusan manajemen terhadap klub yang dicintainya. Dengan alasan itulah maka aturan mengenai 50+1 dapat disebut efektif dan berguna bagi seluruh klub sepakbola. Apakah hal ini bisa berlaku di sepakbola Indonesia? Mari kita tunggu.

 

Penulis: Ikhsan Setiawan

Comments

Be the first to comment.

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.
Thanks for contacting us! We'll get back to you shortly. Thanks for subscribing Thanks! We will notify you when it becomes available! The max number of items have already been added There is only one item left to add to the cart There are only [num_items] items left to add to the cart