Skip to main content

Memelihara Rasa Peduli Bukanlah Hal Yang Hina

Memelihara Rasa Peduli Bukanlah Hal Yang Hina

Belakangan ini kita kembali menyaksikan kekejian para Zionis yang terus berupaya untuk mengokupasi dataran tanah yang berada di Palestina. Banyak media yang ikut memberitakan kekejian ini, mulai dari media mainstream yang mencoba meliput kejadian langsung hingga media alternatif diberbagai platform media sosial yang mengkampanyekan perlawanan dan pemboikotan terhadap Zionis Israel. Tidak hanya negara yang didominasi oleh warga muslim, berbagai negara dibelahan dunia lainpun ikut menyuarakan rasa empati nya pada Palestina yang sudah lama dijajah oleh Zionis Israel.

 

Tidak sedikit media mainstream memberitakan dengan gamblang dalam headline yang mereka tulis bahwa apa yang dialami oleh Palestina adalah suatu konflik. Lalu, apa memang benar terjadi sebuah konflik antara Zionis Israel dan Palestina? Bila kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) konflik adalah percekcokan, perselisihan, dan pertentangan. Adapula konflik sosial yaitu adalah suatu pertentangan antar anggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan. Bila dilihat dari kata percekcokan, perselisihan dan pertentangan, bisa saja kita menganggap bahwa apa yang terjadi di Palestina ini adalah sebuah konflik, tapi rupanya kurang adil jika kita mencoba melabeli suatu peristiwa dengan hanya satu kata saja.

 

Kampanye perlawanan yang dilakukan oleh banyak warga negara diberbagai belahan penjuru dunia menyebut peristiwa yang terjadi di Palestina ini sebagai genosida, lalu apa itu sebenarnya genosida? Makna dari kata genosida di KBBI adalah: pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap suatu bangsa atau ras. Rupanya tidak hanya sampai disitu, jika melihat makna yang ada dalam KBBI, genosida menjadi suatu kejahatan internasional yang sangat keji, berikut bentuk genosida yang memiliki tujuan untuk menghancurkan, seluruhnya atau sebagian, suatu kelompok bangsa, etnis, ras atau agama, seperti:

(a) Membantai anggota kelompok.

(b) Menyebabkan kerusakan fisik atau mental yang serius terhadap anggota kelompok.

(c) Secara sengaja memberikan kondisi hidup yang tidak menyenangkan kepada kepada kelompok masyarakat yang diperhitungkan akan menimbulkan pengrusakan fisik secara keseluruhan atau separuhnya.

(d) Menerapkan tindakan-tindakan yang dimaksudkan untuk mencegah kelahiran di dalam kelompok masyarakat.

(e) Secara paksa memindahkan anak-anak dari suatu kelompok masyarakat ke kelompok masyarakat lainnya.

 

Sebenarnya apa yang terjadi di Palestina? Apakah seperti yang diberitakan oleh media mainstream sebagai suatu konflik? Atau pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap suatu bangsa atau ras? Kita harus adil dalam memaknai suatu peristiwa, terlebih jika menyangkut banyak nyawa umat manusia yang dimana tidak ada satupun manusia yang memiliki atau diberikan kehendak untuk merenggut nyawa manusia lainnya.

 

Awal Mula Genosida Zionis.

Genosida yang dilakukan oleh Zionis terhadap Palestina adalah salah satu kekejian paling abadi dan paling tragis di dunia hingga saat ini, tetapi bagaimana genosida tersebut dimulai, dan apa yang akan terjadi di masa depan? mengapa perdamaian belum tercapai?

 

Hal ini menjadi sebuah kekacauan yang sangat rumit, tetapi pada satu tingkat, kekacauan yang terjadi selama ini dapat dinilai dengan sangat sederhana “Ini adalah konflik tentang wilayah, sesederhana itu,” kata Dr Gil Merom, pakar keamanan internasional dari University of Sydney kepada SBS News.

 

Akar kekacauan ini dimulai sejak zaman Alkitab. Tetapi bila kita melihat dari perspektif sejarah modern, akhir 1800-an dan awal 1900-an adalah awal dari situasi mencekam hingga saat ini. Awal mula kekejian ini berawal pada kisaran tahun 1882 dan 1948, serangkaian Aliyah, gerakan besar-besaran Yahudi dari seluruh dunia merasuk masuk ke suatu daerah, yang dari 1917 secara resmi dikenal sebagai Palestina terjadi. Pada 1917, tak lama sebelum Inggris menjadi kekuatan kolonial di Palestina, negara itu mengeluarkan Deklarasi Balfour yang menyatakan, “Pemerintah Yang Mulia mendukung pendirian rumah nasional untuk rakyat Yahudi di Palestina, dan akan melakukan upaya terbaik mereka untuk memfasilitasi pencapaian tujuan ini.”

Masyarakat Palestina menolak langkah dan keputusan tersebut, tetapi rupanya sejarah tidak berpihak pada mereka. Menyusul kekejian Holocaust di mana hingga enam juta orang Yahudi terbunuh di Eropa, dorongan untuk mendirkan negara Yahudi menjadi semakin kuat.

 

Gayung bersambut, pada tahun 1947, PBB memutuskan untuk membagi wilayah yang diperebutkan menjadi tiga bagian; satu untuk orang Yahudi, satu untuk orang Arab, dan satu lainnya untuk rezim perwalian internasional di Yerusalem. Orang-orang Arab tidak menerima kesepakatan itu, dan mengatakan bahwa PBB tidak punya hak untuk mengambil tanah mereka dan perang pun dimulai.

 

Narasi Palestina mengatakan bahwa Zionis (mereka yang mendukung pembentukan kembali tanah air Yahudi di Israel) kemudian mulai memaksa orang-orang keluar dari rumah mereka. Sedangkan pembelaan dari pihak Zionis adalah bahwa ada pemimpin Arab yang memerintahkan orang-orang untuk pergi dan beberapa orang Arab pergi secara sukarela, apakah mungkin ada orang yang secara sukarela memberikan tanah dimana tempat ia dilahirkan dan tumbuh berkembang dengan begitu saja meninggalkan tanah kelahirannya? Jawabannya ada dikepala kalian masing-masing.

 

Perang Arab-Israel pada 1948 yang membuat 700.000 warga Palestina meninggalkan rumah mereka jelas menjadi sebuah eksodus massal yang dikenal sebagai ‘Nakba‘, bahasa Arab untuk ‘malapetaka’. Perang 1948 penting karena masih menjadi bagian sentral dari genosida Zionis yang sedang berlangsung hingga saat ini. Ada perang besar lain di 1967, di mana Israel mengalahkan pasukan Mesir, Suriah, dan Yordania dalam peperangan yang berlangsung hanya enam hari, dan mengakibatkan Zionis merebut Tepi Barat dan Yerusalem Timur dari Yordania. Mereka telah mengendalikan wilayah-wilayah ini sejak saat itu. Wilayah tersebut dianggap oleh PBB sebagai wilayah Palestina, dan banyak negara lain menganggapnya sebagai tanah “pendudukan”, sementara Israel menganggapnya sebagai wilayah yang disengketakan.

 

Genosida Zionis Sebagai Bentuk Kolonialisme Modern.

Menurut Shadi Hamid, penulis buku “Islamic Exceptionalism: How the Struggle Over Islam Is Reshaping the World” Jared Kushner, sosok di balik perjanjian damai Israel-Palestina yang digadang-gadang sebagai “perjanjian abad ini” melewatkan fakta penting tentang bangsa yang tengah dijajah tersebut. Ia tidak menyadari bahwa apa yang diperebutkan oleh Israel dan Palestina bukanlah soal lahan atau tanah semata. Kushner tidak paham, jika Palestina disuruh memilih antara menyerah atau mati, mereka akan memilih mati.

 

Pada tanggal 15 Mei 1948, di puncak bukit di Galilea utara, sebuah gereja kecil berdiri sendiri dikelilingi oleh puing-puing. Bangunan tersebut adalah bangunan terakhir yang tersisa dari desa Iqrit Palestina, yang ditinggalkan penduduknya dan dihancurkan, setelah berdirinya negara Israel.

 

Sekumpulan orang Yahudi Eropa pertama kali mendarat di pantai Palestina dan mendirikan permukiman pada awal abad ke-19. Pada tahun 1948, pasukan Zionis secara sistematis mengambil alih tanah, mengusir orang-orang dari rumah mereka, dan mengusir banyak orang untuk hidup sebagai pengungsi di daerah yang terisolasi.

Berdirinya negara Israel berakar pada proyek kolonial yang telah merekodii wajahnya secara modern tetapi mereka terus menjadikan warga Palestina sebagai subjek dalam pendudukan militer, perampasan tanah, dan hak yang jelas sangat tidak setara. Tujuh puluh tahun kemudian, luka akibat Nakba masih terbuka, seiring Israel melarang lebih dari lima juta pengungsi dalam memenuhi hak nya untuk kembali, sementara para Zionis ini menjamin kewarganegaraan bagi siapa saja yang dapat menunjukkan keturunan Yahudi.

 

Menurut Ilan Pappe, seorang sejarawan Israel, pemindahan paksa warga Palestina sama dengan pembersihan etnis. “Kisah Palestina dari awal hingga hari ini adalah kisah sederhana kolonialisme dan perampasan, namun dunia memperlakukannya sebagai cerita yang beraneka ragam dan rumit, sulit untuk dipahami dan bahkan lebih sulit untuk dipecahkan,” tegas Pappe dalam buku tahun 2015, ‘On Palestine’, yang ditulis bersama dengan seorang profesor linguistik dari Institut Teknologi Massachusetts, Noam Chomsky.

 

Selama beberapa dekade terakhir, status diaspora Palestina tidak pernah menemukan titik cerah, atau jauh lebih buruk. Persetujuan Oslo pada tahun 1993, walau dirayakan di Barat sebagai langkah pertama menuju solusi dari kedua negara tersebut, namun tidak membahas hak pengembalian pengungsi, dengan demikian perjanjian ini secara tidak langsung mengutuk warga Palestina ke keadaan tanpa kewarganegaraan.

 

Dalam tatanan seperti apartheid ini, individu diminta untuk mendapatkan tingkat otorisasi yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari mereka, semata-mata berdasarkan tempat keluarga mereka bermigrasi pada saat Nakba. Warga Palestina dengan kewarganegaraan Israel tunduk pada praktik diskriminatif dalam pendidikan, layanan publik, dan sistem hukum. Seiring Zionis Israel terus melanggar hak-hak masyarakat Palestina, komunitas internasional berulang kali menutup mata. Inisiatif yang mendukung solusi genosida selama beberapa dekade ini sering diblokir oleh Amerika Serikat (AS) di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

 

Dukungan Bagi Palestina.

Setelah mengalami genosida selama kurang lebih 78 tahun, Nakba Day menjadi saksi kekejian Zionis dalam penghapusan suatu bangsa atau ras secara sangat sadis hingga saat ini. Hal ini menjadi sebuah fokus yang sangat besar mengingat penjajahan bukanlah sesuatu yang ideal dan mungkin tidak ada satupun orang yang memiliki akal sehat yang mengamini penjajahan. Genosida yang dilakukan oleh Zionis ini mendapatkan banyak kecaman dari berbagai kalangan, tidak hanya kaum muslim, khalayak luas yang setuju dengan hal-hal kemanusiaan seutuhnya turut serta mengecam genosida yang dilakukan oleh Zionis terhadap Israel.

Dukungan ini rupanya menjadi perjuangan yang sangat nyata, ketika khalayak luas yang tidak dapat membantu secara langsung perjuangan kebebasan rakyat Palestina. Perjuangan yang dilakukan oleh khalayak luas melalui kampanye yang dilakukan dimedia sosial atau menyuarakan aspirasi secara langsung terkadang mendapat ejekan hingga cemoohan, entah ini hanya sebagai candaan semata atau lainnya, tapi apakah perjuangan dalam mendukung kebebasan dalam penjajahan yang memiliki tujuan penghapusan bangsa atau ras layak untuk dijadikan sebagai candaan atau hiburan semata?

 

Melihat fenomena dalam dukungan yang dilakukan oleh khalayak luas baik dimedia sosial ataupun aksi langsung dilapangan yang mendapatkan ejekan hingga cemoohan secara langsung maupun tidak langsung menjadikan fenomena ini menjadi sebuah tanda tanya besar bagi saya sendiri. Para pemuda khususnya menjadi sosok yang terkadang memiliki sifat sensitif pada orang-orang yang ikut membela menyuarakan aspirasi masyarakat Palestina.

 

Tidak sedikit dari mereka yang melabeli khalayak luas yang turut membela atau menunjukkan rasa pedulinya dengan sebutan kolot, fanatik hingga tidak nasionalis. Beberapa cemoohan seperti “ngapain merhatiin yang jauh, disini juga masih banyak masalah” atau “itu mah masalah agama, jangan terlalu fanatiklah kalo beragama” oke.

 

Dewasa ini rupanya tidak sedikit orang yang melabeli dirinya dengan label “open minded” tapi terkadang tidak sedikit juga dari mereka yang tidak sepenuhnya memenuhi pikiran mereka dengan sangat terbuka, open minded yang mereka amini ini menjadi sesuatu yang memiliki banyak batasan, khususnya dalam menanggapi isu-isu agama dan isu kemanusiaan lainnya. Dapat kita lihat ketika ada kasus pelanggaran hak asasi manusia secara langsung kita ikut serta dalam menyampaikan aspirasi yang sama dengan yang lainnya, masih ingat kasus rasisme yang menimpa orang berkulit hitam yang selalu mendapatkan diskriminasi di Eropa? Atau isu rasial yang terjadi pada rakyat China yang berada di Eropa karena pandemi covid-19 yang hingga saat ini belum usai? Oke, ini memang hal yang menyebalkan ketika kita mengingat white supremacy selalu mengintimidasi ras lainnya yang menurut mereka tidak setara dengan mereka bahkan tidak layak untuk hadir dimuka bumi.

 

Tetapi ada hal menyebalkan lainnya ketika terjadi genosida yang berusaha meluluhlantakkan tanah kelahiran suatu golongan, percobaan penghapusan ras dan pembunuhan terhadap bayi, wanita hamil dan penyerangan rumah peribadatan tidak mendapat perhatian yang sama dibanding dengan kasus-kasus rasial sebelumnya. Apakah kita sudah adil dalam berbagi porsi dalam isu rasial ini? Saya rasa bagi saya sendiri saya tidak adil, saya terlalu sibuk dengan sesuatu yang kebarat-baratan atau isu kemanusiaan lainnya, saya lupa akan aksi Zionis yang secara terus menerus menghujani Palestina dengan kekejian yang mereka lakukan hingga saat ini.

Selain daripada itu saya terkadang merasa malu kalau mau ikut-ikutan ngepost segala sesuatu yang berbau Palestina, saya lebih seneng ngepost yang berbau ala-ala orang open minded, humanity above religion dan hal lainnya. Rasa malu ini ternyata muncul dari hati dan pikiran yang selalu ketakutan akan penilaian teman-teman saya yang berada di sosial media atau dalam kehidupan nyata, saya takut dilabeli norak, fanatik atau label lainnya. Tapi rupanya saya juga lupa akan kewajiban sesama manusia yang harus melindungi sesama manusia lainnya, atau mungkin kemanusiaan kali ya kalau orang-orang ngomong I see human but no humanity.

 

Terkadang saya suka overthink, “emang kalau ikut bela Palestina itu norak ya?” atau “kalau saya ikut bela Palestina, saya jadi orang yang hina gitu?” hal ini muncul karena stigma lingkungan sekitar yang mencoba menghakimi tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, toh sebenernya saya juga gak terlalu tahu sih apa yang terjadi, tapi setelah baca-baca, nonton dan lainnya oh ternyata gini. Selain daripada itu, hal ini juga muncul karena dogma para kaum sekuler yang selalu melabeli atau tidak jarang juga menghardik dengan kata-kata yang gak enak didenger atau bahkan sering dikaitin sama teroris, tapi sebenernya teroris tuh apa dan siapa sih? Hahaha tar lagi aja.

 

Pemikiran barat memang selalu mendapatkan porsi yang lebih dibanding dengan pemikiran timur yang terkesan kuno dan kolot. Barat rupanya berhasil memberikan suntikan pada khalayak luas di negara dunia ketiga untuk meyakini bahwa mereka ratusan langkah lebih maju dibanding kita. Tidak dapat dipungkiri, barat memang selalu memiliki pemikrian yang berkembang pesat jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya, walaupun ternyata ada sisi lain yang mengakibatkan hal ini. Sedangkan timur selalu diidentikan dengan pekerja kasar, terbelakang, bodoh, penuh akan tindak kekerasan dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya. Media yang diprakarsai oleh blok barat rupanya berhasil membingkai image mereka dan merusak citra bangsa lain seolah tertinggal dalam segala hal, saya tidak menyebutkan bahwa Asia lebih baik atau Eropa lebih buruk, namun keadilan dalam berfikir saya pribadi rupanya belum menemukan porsi dan takaran yang pas dalam menyikapi suatu hal, terkadang barat lebih segalanya dibanding semua, padahal saya pribadi di barat gak diakui ditimur gak bernyali.

 

Berbicara tentang peran media yang selalu berhasil menggiring opini mereka dengan tujuan tertentu, timur selalu disudutkan dengan berbagai hal seperti apa yang sudah saya tuliskan diatas. Terorisme selalu menjadi senjata bagi mereka yang tidak dapat menyikapi hal dengan akal sehat seutuhnya. Jika blok timur selalu mendapatkan label teroris, apa blok barat seutuhnya memerankan peran humanis? Atau sebaliknya? Bagaimana dengan imperialisme dan kolonialisme? Apa bukan suatu tindakan keji? Atau itu semua hanya menjadi buah pemikrian semata? Kembali pada adil dalam menyikapi suatu hal, barat bukanlah sesuatu yang sangat mewah dan timur bukanlah tempat sampah, semua memiliki marwah demi menjaga keberagaman umat manusia.     

 

Kembali pada pokok pembahasan, Palestina rupanya membutuhkan dukungan dari kita semua, tidak hanya umat beragama, Palestina membutuhkan dukungan dari manusia yang seutuhnya mengakui dirinya sebagai manusia, karena apa yang terjadi disana bukanlah konflik semata, gempuran senjata dan genosida sedang menghantui warga Palestina hingga saat ini. Keterbatasan akan segala hal dan ruang menjadikan Palestina sebagai penjara terbesar didunia, tidak ada kebebasan berpendapat, tidak ada kebebasan beribadat yang ada hanyalah wajah-wajah pucat yang penuh akan semangat. Demi bebatuan yang kalian lemparkan, demi rudal yang terus menghujam bagai hujan, demi kobaran api semangat perlawanan, doa kami selalu menyertai kalian.  

Comments

Be the first to comment.

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.
Thanks for contacting us! We'll get back to you shortly. Thanks for subscribing Thanks! We will notify you when it becomes available! The max number of items have already been added There is only one item left to add to the cart There are only [num_items] items left to add to the cart