Skip to main content

Akhiri Budaya Catcalling Dalam Dunia Suporter!

Akhiri Budaya Catcalling Dalam Dunia Suporter!

Football for all, mungkin kalimat tersebut sering kita jumpai. Baik dalam sebuah pertandingan sepak bola atau pada beberapa platform media sosial yang sering kita akses. Jika melihat arti dari kalimat tersebut, sudah jelas, bahwa sepak bola milik semua kalangan dan tidak memiliki batasan tertentu.

 

Kalimat tersebut juga adalah sebuah harapan dan mimpi besar dimana sepak bola terus digerus oleh beberapa kalangan yang hanya merauk keuntungan semata. Bagaimana tidak, sepak bola memang sudah sewajarnya dan seharusnya dimiliki oleh semua kalangan, tua, muda, anak-anak, dewasa, kaum pria, bahkan hingga kaum wanita sekalipun, semua berhak memiliki dan menikmati permainan yang sering juga disebut sebagai permainan rakyat. Permainan rakyat ya, bukan permainan beberapa atau segelintir rakyat saja, rakyat secara keseluruhan.

 

Ngomongin tentang mimpi besar dimana sepak bola dapat dinikmati oleh semua kalangan mungkin jadi satu dari sekian banyak masalah yang hinggap dalam tubuh sepak bola itu sendiri. Salah satu elemen yang mungkin sangat berkaitan dengan dunia sepak bola adalah suporter. Dalam suatu pertandingan sepak bola, kita bisa lihat bagaimana dominasi kaum adam. Mulai dari para pemain yang bertanding di lapangan, bangku cadangan, perangkat pertandingan hingga tribun stadion.

 

Nah, balik lagi ke mimpi besar seluruh penikmat sepak bola di dunia, football for all. Keberadaan kaum hawa di tribun sepak bola pun menjadi bukti bahwa sepak bola tidak memiliki batasan tertentu untuk dinikmati dan tidak hanya di dominasi oleh kalangan atau gender tertentu. Namun sayang, beberapa tindakan menjijikan masih sering terjadi di atas tribun stadion sepak bola. Tindakan pelecehan seksual berbentuk catcalling sering dijumpai ketika kaum hawa masuk dan berada di atas tribun.

Bukan perkara mudah jika kita membicarakan perihal hak dan kesetaraan gender di atas tribun sepak bola. Dalam kehidupan yang sarat akan batasan pada gender dalam dunia sepak bola menjadikan kaum hawa hanya diposisikan sebagai sosok yang tidak memahami sebuah permainan rakyat tersebut, bahkan hal yang lebih mengerikan lagi jika segelintir orang dengan bodohnya melakukan tindak pelecehan seksual. Pada dasarnya, mereka hanya menitik beratkan bahwa sepak bola hanya boleh dinikmati oleh kaum pria.

 

Catcalling

Catcalling, istilah yang sudah tidak asing lagi terdengar, terutama di daerah perkotaan besar. Dalam catcalling, terdapat bentuk komunikasi di mana pelaku memberikan ekspresi verbal terhadap korbannya. Misalnya, melalui siulan, celotehan dan juga komentar-komentar tentang bentuk tubuh mereka dengan menyerang atribut seksual korban. Namun, hal ini menjadi sebuah permasalahan karena terdapat ambiguitas makna yang terdapat di masyarakat tentang catcalling sebagai candaan, pujian atau pelecehan seksual, terutama terhadap perempuan.

 

Catcalling juga termasuk dalam salah satu bentuk pelecehan seksual jenis street harrastment, yakni melontarkan komentar sensual dengan nada menggoda yang dilakukan di tempat umum. Sedangkan pelaku catcalling sendiri disebut sebagai catcaller.

 

Catcalling memang paling sering dialami oleh wanita. Namun, tidak menutup kemungkinan laki-laki juga bisa mengalaminya.

 

Perilaku ini cenderung meresahkan dan bisa menyebabkan korbannya merasa takut, cemas, dan tidak percaya diri. Sayangnya, masih banyak orang yang memaklumi dan menganggap bahwa catcalling merupakan sebuah lelucon dan candaan semata. Bahkan tidak sedikit dari mereka (para pelaku) yang membalut perilaku bejad mereka dengan kalimat pujian. Catcalling biasanya terjadi di tempat umum dan dilakukan oleh orang asing yang tidak saling kenal. Meskipun tidak menutup kemungkinan, perilaku ini pun sering dilakukan oleh orang yang saling mengenal satu sama lain.

Tidak sedikit para catcaller yang mengganggap bahwa panggilan-panggilan itu hanyalah keisengan saja. Mereka mengaku, perilaku tersebut dilakukan secara spontan karena ingin menyanjung dan tidak berniat untuk merendahkan atau menyakiti korban.

 

Banyak catcaller lainnya melakukan catcalling dengan tujuan menunjukkan ketertarikan dan mengharapkan respons dari korban, seperti korban yang membalas ucapan pelaku dengan memberikan senyuman atau merasa tersanjung. Meskipun terkadang tidak sedikit juga catcaller yang justru menginginkan respons negatif dari korban, seperti terkejut, takut, dan marah.

 

Selain daripada masuk dalam kategori street harrastment, catcalling juga adalah tindakan seksis yang sudah jelas menjadi bagian dari rape culture (sebuah konsep sosiologi untuk keadaan dimana pemerkosaan dan kekerasan seksual dianggap wajar dan normal karena sikap masyarakat terhadap gender dan seksualitas.)

 

Seksis muncul sebagai hasil dari budaya dalam tatanan masyarakat. Budaya patriarki yang kental juga turut membentuk perilaku seksis akhirnya membuat perilaku tidak terpuji ini terdengar lazim. Padahal, perilaku seksis muncul sebagai akibat dari pengabaian hak perempuan untuk memilih apa yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri dan melakukan apa yang mereka kehendaki. Dan akhirnya, perempuan sering dianggap remeh karena hal itu.

 

Catcalling Dalam Dunia Suporter

Fenomena catcalling ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama dan menjadi sebuah permasalahan yang ada di masyarakat terutama di stadion sepak bola. Fenomena ini kurang mendapatkan perhatian karena minimnya edukasi yang menyebabkan ketidaktahuan mengenai pemahaman tentang catcalling. Masyarakat masih menganggap makna catcalling sebagai ambigu antara candaan atau pujian dan bentuk dari pelecehan seksual terutama terhadap perempuan.

 

Dominasi laki-laki dalam sepak bola tentu berpotensi memunculkan tindakan seksis. Sesederhana “Ah, bisa apa, sih, perempuan di atas tribun?” Padahal, mencintai dan mendukung klub sepak bola dan juga berperan sebagai suporter atau bergelut di bidang yang bersinggungan dengan sepak bola adalah pilihan perempuan yang merdeka dan bebas.

Jika catcalling dan tindakan yang berbau pelecehan seksual terus menerus dibiarkan, maka perempuan akan ada dalam posisi lebih rendah daripada lawan jenisnya. Lalu apa yang akan terjadi? Perempuan mudah sekali dilecehkan.

 

Pelecehan seksual adalah bentuk nyata yang mengarah kepada perendahan perempuan maupun laki-laki secara verbal, fisik maupun psikis. Dapat terjadi di mana pun, kapan pun dan kepada siapa pun. Pelecehan seksual dapat terjadi dari level tatapan pria atau perempuan yang dirasa tidak menyenangkan hingga akhirnya akan berujung pada pemerkosaan.

 

Lalu, apa kaitan artinya “football for all?” Jika sepakbola sudah dianggap sebagai olahraga yang tidak memiliki gender, begitupun seharusnya dengan eksistensi para suporter yang mendukung klub kebanggannya di atas tribun masih memiliki batasan tertentu.

 

Seharusnya, suporter perempuan dan laki-laki adalah mereka yang dianggap sebagai pemain ke-12 yang memberikan energi tersendiri bagi para punggawa yang bertanding di atas lapangan hijau. Jangan ada sekat pemisah antara suporter laki-laki dan perempuan. Dalam artian, hak mereka sama yakni mendukung tim yang mereka banggakan. Namun sayangnya, stadion masih belum jadi tempat yang aman dan nyaman bagi suporter perempuan.

 

Apakah mimpi buruk jangka panjang ini hanya membicarakan tentang pelecehan seksual? Tentu saja sangat amat tidak!. Dalam ranah seksis, seringkali perempuan dalam dunia sepak bola dianggap tidak pantas jika membicarakannya. Dianggap tidak mengerti sepak bola dengan segunung asumsi negatif lainnya. Padahal, kaum adam bukanlah sosok yang sepenuhnya memahami dunia sepak bola, dan haum hawa tidak sepenuhnya pula menjadi sosok yang tidak memahami dunia sepak bola.

 

Selain daripada itu, tentu tidak asing bagi kita jika setelah pertandingan sepakbola usai, akan banyak foto suporter perempuan yang bertebaran di berbagai platform media sosial. Ironisnya, foto-foto tersebut sering diperoleh dengan cara diam-diam, tanpa persetujuan pemiliknya.

 

Seringkali terlihat di media sosial ketika foto perempuan yang tersebar yang dipenuhi oleh kolom komentar seperti “ada yang tahu akun ig nya gak?”. Jika terus seperti itu, komentar sialan yang bermunculan tersebut akan menjadi sebuah gambaran dari rape culture dalam dunia suporter yang sangat amat luar biasa.

Jika hal-hal seperti catcalling, pelecehan seksual dan batasan atas gender tertentu masih saja dibiarkan, bagaimana nasib kaum hawa yang mencoba mendukung tim kebanggannya di atas tribun? Pelecehan seksual secara langsung dan melanggar privasi orang lain. Padahal, perbuatan ini sangat tidak dibenarkan. Dunia ini, termasuk sepak bola, harusnya penuh dengan dukungan, bukan pikiran-pikiran kotor.

 

Seringkali pakaian suporter perempuan pun menuai banyak komentar negatif dengan segala dalih. Padahal, setiap perempuan yang datang sudah paham bagaimana cara berpakaian yang baik menurut standar mereka di stadion dan tidak akan mempertontonkan apa yang tidak mereka kehendaki. Bukankah tindakan seksis dan pelecehan selalu diawali oleh niat pelakunya?

 

Sering pula suporter perempuan digoda laki-laki yang kebetulan juga suporter yang berada di atas tribun. Tindakan catcalling adalah hal yang paling sering dilakukan. Apakah hal tersebut adalah hal yang pantas? Tentu saja tidak. Bukankah tujuan kalian, suporter laki-laki, adalah menonton seraya mendukung tim favorit? Mengapa harus repot menggoda suporter perempuan yang tim kesayangannya juga sama dengan kalian?

 

Maka berhentilah, wahai para catcaller yang gemar menimpakan kesalahan kepada suporter perempuan hanya karena apa yang mereka pakai dan apa yang mereka lakukan. Hal yang perlu dibenahi dan menjadi batasan adalah apa yang ada di dalam otak kalian serta syahwat kalian, bukan melulu apa yang dilakukan dan dipakai oleh lawan jenis!

Kultur patriarki yang sudah mengakar dan membuat kaum adam yang posisinya dianggap lebih tinggi bisa melakukan hal-hal sesuai kehendak mereka. Termasuk bertindak seksis dan melecehkan orang lain. Menjamurnya foto suporter perempuan yang bertebaran selepas laga usai pun dianggap lumrah dan menjadi hal yang wajar. Padahal itu adalah bentuk pelanggaran privasi yang sangat mengkhawatirkan.

 

Sejatinya, pelecehan di stadion menjadi masalah besar bagi perempuan maupun laki-laki. Bagi perempuan, mereka tidak akan mampu melawan karena merasa jadi minoritas di tengah kerumunan suporter laki-laki. Apakah mereka akan dibela saat melawan pelaku pelecehan di stadion? Jawabannya ada dalam isi hati dan kepala kalian masing-masing.

 

Bila stadion menjadi sebuah rumah bagi para suporter untuk mendukung kesebelasan favoritnya, sudah seharusnya ia menjadi tempat yang nyaman bebas dari tindakan seksis dan pelecehan. Seringkali kita mendengungkan bahwa stadion sepatutnya jadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua orang, tak terbatas gender maupun usia. Namun di sisi lain, perilaku kita sendiri tak mendorong ke arah situ.

 

Kita berada di era sepak bola yang menjunjung tinggi persamaan derajat antara perempuan dan laki-laki. Maka berhenti melakukan tindak seksis dan pelecehan kepada pemain, ofisial, hingga suporter perempuan adalah kewajiban mutlak!

Comments

Be the first to comment.

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.
Thanks for contacting us! We'll get back to you shortly. Thanks for subscribing Thanks! We will notify you when it becomes available! The max number of items have already been added There is only one item left to add to the cart There are only [num_items] items left to add to the cart