Menelisik Hubungan I’m Forever Blowing Bubbles Dan West Ham United

Menelisik Hubungan I’m Forever Blowing Bubbles Dan West Ham United

Menelisik Hubungan I’m Forever Blowing Bubbles Dan West Ham United

Sepakbola, kali ini kita bakalan menyajikan sesuatu yang berhubungan dengan sepakbola. Tapi, bukan perihal taktik atau jersey yang lagi banyak diomongin banyak orang diluaran sana, lagian kapan juga kita nulis tentang taktik ya, gak ngerti juga soalnya hahaha.

Kali ini, kita akan mencoba untuk menyajikan salah satu hal, atau ritus yang sering, atau bahkan pasti dilakukan ketika ada suatu pertandingan sepakbola. Ada beberapa ritus yang biasa dilakukan oleh banyak suporter di berbagai kasta liga. Mulai dari menyalakan suar, chant, hingga menyanyikan suatu lagu untuk membakar semangat pemain yang berlaga diatas rumput hijau. Terkadang beberapa lagu yang dinyanyikan sebagian suporter dirasa kurang untuk membakar semangat pemain, karena kadang lagunya agak mendayu hehehehe, tapi tetep keren!

Nah, ngomongin salah satu ritus yang kerap dilakukan oleh para suporter adalah menyanyikan sebuah lagu, mungkin kita udah gak asing lagi dengan kata “anthem,” yang bagi sebagian suporter sepakbola udah sederajat sama lagu kebangsaan.

Merujuk kepada kamus Oxford, anthem memiliki tiga makna. Sebagai kata benda, anthem berarti: 1) sebuah lagu yang teridentifikasi milik sebuah kelompok atau golongan, 2) sebuah lagu yang merepresentasikan identitas sebuah bangsa atau negara, 3) sebuah lagu yang kerap dinyanyikan di gereja secara bersama-sama oleh sebuah paduan suara.

Berdasarkan tiga makna di atas, pada dasarnya anthem adalah lagu yang dinyanyikan secara bersama-sama dan menjadi milik sebuah kelompok atau golongan tertentu, merepresentasikan keberadaan kelompok atau golongan tersebut. Bisa dibilang, anthem juga menjadi perekat sebuah kelompok atau golongan, sekaligus cara menunjukkan jati diri dan identitas kelompok tersebut kepada orang lain. Atau bahkan, anthem bisa jadi sebagai media untuk membakar semangat yang juga mempengaruhi mental, khususnya dengan apa yang terjadi dalam ranah sepakbola, ketika suporter yang menyanyikan suatu anthem dan mereka berharap para pemain pun merasakan sakralnya anthem tersebut dan dapat bermain dengan gemilang di atas lapang.

Jika kita merujuk pada buku 'The Linguistics of Football' yang ditulis oleh Eva Lavric, Gerhard Pisek, Andrew Skinner, dan Wolfgang Stadler (2008). Anthem merupakan salah satu ritus yang kerap dilakukan oleh para suporter di Eropa. Buku tersebut mencontohkan kasus yang terjadi di Gelsenkirchen, kota yang menjadi salah satu klub Bundesliga bernaung, Schalke 04.

Di dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa anthem klub Schalke yang berjudul 'Blau und weiβ, wie lieb` ich dich' sudah menjadi ekspresi sekaligus identitas regional. Lagu ini acap dinyanyikan 15 menit sebelum pertandingan Schalke digelar, mewujud sebuah ritus yang menjadi sebuah kewajiban bagi para pendukung Schalke sebelum "Die Königsblauen" memulai laga.

Tidak hanya anthem milik Schalke 04, beberapa klub khususnya klub asal Inggris memiliki keberagaman anthem yang cukup sering mereka nyanyikan ketika menyaksikan klub yang mereka banggakan. Seperti  Glory Glory Man United milik Manchester United, Blue is The Colour milik Chelsea, Blue Moon milik Manchester City, You’ll Never Walk Alone milik Liverpool dan yang cukup dan bahkan sangat terkenal adalah I’m Forever Blowing Bubbles milik West Ham United.

Nah, karena I’m Forever Blowing Bubbles jadi salah satu anthem yang cukup terkenal, jadi kita bakalan ngebahas sedikit tentang salah satu anthem yang sangat amat dibanggakan oleh warga London Timur, khususnya suporter West Ham United. Lalu, bagaimana keterikatan dan hubungan antara lagu atau anthem berjudul “I’m Forever Blowing Bubbles” dengan klub asal London bernama West Ham united? Apakah ada keterikatan antara lirik lagu dengan apa yang dirasakan warga London Timur? Mari kita simak!

 

Sejarah lagu I’m Forever Blowing Bubbles

I’m Forever Blowing Bubbles adalah satu dari sekian banyaknya lagu atau anthem yang hadir dalam dunia sepakbola, khususnya di Inggris. Lagu atau anthem satu ini bahkan beberapa kali di cover oleh beberapa band dan penyanyi, dan satu dari sekian yang cukup terkenal adalah cover dari Cockney Rejects, band street rock asal London.

Namun rupanya, I’m Forever Blowing Bubbles memiliki nasib yang sama dengan You’ll Never Walk Alone, yang di adopsi oleh fans Liverpool. Lagu atau anthem yang selalu hadir ketika West Ham United berlaga ini, khususya ketika laga kandang, bukanlah lagu yang diciptakan khusus untuk sebuah klub sepakbola, atau lebih tepatnya, bukanlah lagu yang khusus diciptakan untuk West Ham United.

"I'm Forever Blowing Bubbles" adalah lagu yang sangat popular di Amerika dan ditulis pada tahun 1918 dan dirilis pada akhir tahun 1919. Lagu ini juga menjadi hit nomor satu untuk Novelty Orchestra karya Ben Selvin. Sedangkan dalam komposisi musik, disusun oleh John Kellette pada tahun 1918. Sedangkan liriknya diberi title "Jaan Kenbrovin" yang dimana merupakan nama samaran kolektif untuk penulis James Kendis, James Brockman dan Nat Vincent, yang menggabungkan tiga huruf pertama dari nama belakang masing-masing penulis lirik.  I’m Forever Blowing Bubbles memulai debutnya di musikal Broadway, The Passing Show tahun 1918, dan diperkenalkan oleh Helen Carrington.

Pada awalnya, hak cipta atas I'm Forever Blowing Bubbles didaftarkan pada tahun 1919 oleh Kendis-Brockman Music Co. Inc. Namun akhirnya, hak cipta tersebut dialihkan pada akhir tahun yang sama ke Jerome H. Remick & Co. James Kendis, James Brockman, dan Nat Vincent. Namun, hal uniknya adalah dimana mereka memiliki kontrak terpisah dengan penerbitnya masing-masing, sehingga mereka menggunakan nama Jaan Kenbrovin sebagai kredit pada lagu ini.

Setelah berhasil menjelajah Amerika dengan alunan yang syahdu, I’m Forever Blowing Bubbles juga mencoba untuk menyebrangi lautan dan berhasil berlabuh di Inggris. Lagu yang dirilis pada akhir tahun 1919 ini juga menjadi sangat terkenal di gedung pertunjukan musik dan teater Inggris pada awal 1920-an. Sosok yang turut mengenalkan dan menyebarkan I’m Forever Blowing Bubbles di Inggris adalah Dorothy Ward. Penyanyi yang sangat terkenal pada saat itu dan berhasil membuat lagu tersebut dikenal di Inggris dengan penampilannya di tempat-tempat tersebut. Selain diperkenalkan oleh Dorothy Ward, I’m Forever Blowing Bubbles juga digunakan oleh komedian Inggris "Profesor" Jimmy Edwards sebagai lagu khasnya dan dimainkan dengan trombon.

Di tanah kelahirannya, Amerika, I’m Forever Blowing Bubbles semakin menunjukan taji. Pelawak kawakan bernama Harpo Marx akan memainkan lagu tersebut dengan clarinet dan menghibur penonton yang sangat antusias pada saat itu, dan hal uniknya adalah ketika ia mulai mengeluarkan gelembung dari clarinet yang ia mainkan. Selain dari itu, I’m Forever Blowing Bubbles juga sering digunakan dalam soundtrack kartun animasi selama adegan yang berhubungan dengan gelembung. Hal ini juga berulang kali dinyanyikan oleh Tweety Bird, karakter dari seri kartun Looney Tunes yang sangat terkenal.

Lagu ini banyak ditampilkan dalam film gangster pre-Code yang rilis pada tahun 1931, The Public Enemy, yang dibintangi oleh James Cagney. Lagu ini juga dinyanyikan oleh burung putih dalam kartun Merrie Melodies I Love to Singa. Tidak berhenti sampai disitu, rupanya lagu ini juga dinyanyikan dalam film On Moonlight Bay tahun 1951 yang dibintangi oleh Doris Day dan Gordon MacRae, yang merupakan prekuel dari film tahun 1953 By the Light of the Silvery Moon.

Tidak berhenti sampai disitu, I’m Forever Blowing Bubbles juga terus terdengar sampai beberapa puluh tahun kedepan. Namun, hal yang selalu membuat karya musik yang ditulis pada tahun 1918 ini adalah ketika sekumpulan suporter sepakbola yang menyanyikan lagu tua kelahiran Amerika baik di luar atau di dalam stadion yang berada di London, Inggris.

 

Keterikatan Dengan West Ham United

I’m Forever Blowing Bubbles dan West Ham United memang sudah menjadi kesatuan yang sangat sulit untuk dipisahkan. Bagaimana tidak, jika kita menarik kebelakang sejarah yang menceritakan keterikatan antara lagu yang popular asal Amerika dan klub sepak bola asal Inggris ini memang cukup agak kompleks. Ada beberapa catatan yang mencatatkan bahwa lagu ini pertama kali dinyanyikan dan diperkenalkan kepada suporter West Ham United pada tahun 1920an.

Namun, seperti sejarah lainnya, selalu ada pembanding dan bantahan atas apa yang dituliskan di awal. Ada juga yang meyakini dan mencatatkan bahwa I’m Forever Blowing Bubbles diperkenalkan dan mulai dinyanyikan oleh suporter West Ham pada awal tahun 1940an. Kali ini kita mencoba menyajikan beberapa catatan mengenai keterikatan I’m Forever Blowing Bubbles dengan klub sepak bola asal London, West Ham United. Meskipun web official West Ham United sudah merilis bagaimana hubungan awal mula I’m Forever Blowing Bubbles dengan West Ham United bermula. Tetapi, prihal bagaimana lagu ini menjadi begitu identik dengan West Ham United, hingga kini masih menjadi perdebatan yang cukup panas dan belum dapat terjawab dengan pasti.

  1. Billy “Bubbles” Murray, Cornelius Beal dan Poster Iklan Sabun

Menurut sejarawan West Ham, John Northcutt dan John Helliar, tahun 1920 menjadi tonggak awal yang diyakini sebagian suporter West Ham United sebagai tahun dimana I’m Forever Blowing Bubbles pertama kali dikumandangkan di Boleyn Ground. Pada saat itu, sepak bola anak sekolah sangat populer dan sering kali terdapat 1.000 atau lebih penggemar dan suporter yang berada di sekitar tepi lapangan di area West Ham ketika pertandingan berlangsung pada Sabtu pagi antara tim berusia 14 tahun, usia kelulusan sekolah pada saat itu. Selama era itu, County Borough of West Ham, seperti yang diketahui sebelum digabungkan dengan County Borough of East Ham sekitar empat dekade kemudian menjadi London Borough of Newham, memiliki lebih banyak sekolah jika dibandingkan dengan saat ini. The West Ham Schools' League, atau Liga Sekolah West Ham dibagi menjadi beberapa bagian dengan play-off di akhir musim. Salah satu sekolah yang berhasil menjuarai liga tersebut adalah Park School, terletak di Ham Park Road, dekat West Ham Park di area Upton di Borough. Park School sangat sukses sehingga mampu menurunkan tujuh atau delapan tim setiap minggunya pada tingkat usia yang berbeda. Kepala sekolahnya adalah Mr Cornelius Beal yang merupakan penggemar sepak bola yang cukup fanatik, dan teman dari pelatih West Ham United dan Manajer berikutnya, Charlie Paynter.

"Corney" sapaan untuk Mr Cornelius Beal, ia juga memiliki bakat dalam musik dan sajak serta menulis kata-kata khusus untuk lagu "Bubbles" dan ketika pemain mana pun dari Park School sedang bermain bagus, penonton akan menyebut namanya dalam parodi lagu tersebut. Lagu-lagu pendek ini merupakan pendahulu dari nyanyian suporter yang menjadi populer beberapa tahun kemudian.

Salah satu pemain yang memperkuat skuad Park Schoool adalah seorang pemuda berambut pirang bernama W. (Billy) J. "Bubbles" Murray, dipanggil demikian karena kemiripannya yang hampir sangat mirip dengan anak laki-laki dalam lukisan terkenal karya Millais berjudul "Bubbles".

Kepala sekolah tim ini kemudian selalu menyanyikan lagu I’m Forever Blowing Bubbles saat tim kebanggaan sekolahnya bermain dengan gemilang. Sang pemain, Billy, kemudian mendapat panggilan "Bubbles."

Lukisan itu menjadi terkenal di masyarakat karena digunakan untuk mengiklankan Sabun Pears yang populer pada saat itu dan bertahun-tahun setelahnya. Bubbles Murray adalah pesepakbola yang cukup hebat sehingga ia berhasil mempertahankan tempatnya di tim senior meskipun usianya dua tahun lebih muda dari usia rata-rata rekan satu timnya.

Jadi, lagu pendek Mr. Corney sering terdengar di Upton Park setiap kali "Bubbles" dan rekan satu timnya bermain di sana baik untuk tim Park School atau tim Distrik. Meskipun kedua temannya, Corney Beal dan Charlie Paynter, berperan penting dalam penandatanganan Jim Barrett untuk West Ham United sebagai pemain profesional di usia nya yang ke 16 tahun pada tahun 1923, setelah ia bermain sebagai siswa sekolah internasional dua tahun sebelumnya, meskipun Billy Murray tidak bergabung dengannya di barisan West Ham United di Boleyn Ground.

Meskipun demikian, pemain muda berbakat bernama Billy "Bubbles" Murray sempat menjalani trial di West Ham dan berteman dengan banyak pemain West Ham. Karena Billy secara tidak langsung sudah pernah membela tim muda West Ham, hal ini membuat suporter ikut menyanyikan lagu ini sebelum laga kandang West Ham dimulai. Jadi, meskipun keterkaitan lagu "Bubbles" dengan sepak bola di sekolah berangsur-angsur memudar dan “Bubbles” tidak pernah menembus tim utama West Ham, kata-kata dan musiknya pasti masih melekat di benak para penggemar West Ham United dan selalu menyanyikan lagu tersebut setiap kali The Hammers bertanding.

 

  1. I’m Forever Blowing Bubbles, West Ham United dan Swansea Town

Versi lain soal kaitan I'm Forever Blowing Bubbles dan West Ham terdapat pada kisah kedekatan klub dengan Swansea Town, sebuah tim sepak bola asal Wales, yang saat ini bermain di England Premier League.

Ian Nannestad, seorang penulis yang juga sejarawan asal Inggris telah melakukan penelitian untuk menunjukkan bahwa I'm Forever Blowing Bubbles dinyanyikan di Vetch Field pada awal tahun 1920-an. Nannestad mengutip dari The Sporting News (8 Januari 1921) bahwa penonton Swansea menyanyikan lagu tersebut sebelum pertandingan Piala FA melawan Bury. "Kemudian datanglah Bubbles yang sangat populer, dan penonton hanya berteriak. Para penonton di tepi sungai utama mengambil isyarat dari ujung Mumbles, dan ada satu getaran yang luar biasa, bersama dengan nyanyian, yang dilakukan oleh sekitar 25.000 orang."

Sejarawan West Ham, Northcutt pun berspekulasi bahwa penonton West Ham mungkin telah mengembangkan tradisi ini setelah mendengar para penggemar asal Wales menyanyikan lagu ini dalam pertandingan piala FA melawan Swansea pada tahun 1921. Nah, cerita ini telah dihapuskan dalam sebuah artikel yang muncul di Soccer History edisi terbaru. Namun, Nannestad telah mempelajari laporan surat kabar tentang pertandingan tersebut dan menurut The Football Post "tidak ada nyanyian" sebelum pertandingan.

Semua runtutan sejarah ini terjadi antara tahun 1920 hingga 1926, fans Swansea kerap menyanyikan I’m Forever Blowing Bubbles di setiap pertandingan kandangnya. Menurut catatan lainnya, pada tahun 1925, West Ham bertanding tiga kali dengan Swansea di FA Cup. Mereka kemudian mengadopsi Bubbles dari fans Swansea. Mereka kemudian bernyanyi bersama. Dan hingga hari ini, I’m Forever Blowing Bubbles menjadi sangat melekat dengan West Ham United.

 

  1. Serangan udara dan League War Cup

Northcutt juga memasukkan penjelasan ketiga mengapa  I’m Forever Blowing Bubbles menjadi sesuatu yang sakral bagi West Ham United dan para suporternya. Dia menunjukkan bahwa sejarawan West Ham, Brian Belton, berpendapat bahwa I’m Forever Blowing Bubbles dinyanyikan saat kerumunan orang berkumpul selama serangan udara di tempat penampungan dan stasiun bawah tanah di East End selama Perang Dunia Kedua.

Hal ini menyebabkan meningkatnya nyanyian komunal oleh masyarakat umum untuk meningkatkan semangat. Menurut Belton, pertama kali lagu tersebut dikabarkan dinyanyikan dengan sangat nyaring oleh suporter West Ham adalah saat Final League War Cup 1940 di Wembley. Ini adalah pertandingan yang dimenangkan oleh West Ham United dan mungkin para penggemar dan suporter West Ham menganggapnya sebagai pertanda keberuntungan.

Mungkin itu adalah alasan paling logis mengapa para penggemar dan suporter West Ham United menyanyikan I'm Forever Blowing Bubbles mulai dari di Upton Park hingga saat ini di  London Stadium. Melalui “I’m Forever Blowing Bubbles”, suporter West Ham United memberikan sebuah makna bahwa hidup tak selamanya indah. Terkadang, kita hanya perlu menerima bahwa sebuah impian melambung hanya untuk meletup dan mati.

Hal ini jelas dapat menjadi alasan, mengapa “I’m Forever Blowing Bubbles” menjadi anthem yang menggambarkan sesuatu yang lara. Lagu ini tidak berbicara mengenai bagaimana skuad yang berada dalam suatu tim kebanggaan harus menjadi sesuatu yang ditakuti. Tidak juga menuliskan soal langit cerah selepas badai atau bagaimana seorang pemain sepakbola mencetak sebuah gol dan mempersembahkan kemenangan.

Tidak peduli dengan segala ambisi dan optimisme seperti itu. Merayakan hidup sebagai medioker, sederhana, dan tidak pernah sekalipun "Dewi Fortuna" tidak berpihak pada kita pun tidak apa-apa. Mungkin, kita juga harus menerima bahwa demi hidup esok hari, secercah harapan dan impian harus dibuang jauh-jauh ke tempat pembuangan akhir yang sangat dalam.

Mungkin ada juga sebagian orang yang menganggap bahwa anthem ini adalah gambaran kehidupan para pendukung West Ham dan penduduk di London Timur lainnya. Mereka berbeda dengan orang-orang atau masyarakat yang menetap di Fulham dan sekitarnya. Sebagian atau banyak dari mereka hanyalah penjaja toko kelontong dan pekerja biasa yang harus bergelut untuk hidup. Bermimpi dan memiliki harapan pun mungkin sangat tidak mungkin bagi mereka, sama kaya kita.

Ratusan, atau bahkan ribuan gelembung yang berterbangan setiap West Ham berlaga pun menjadi representasi impian dari para warga nestapa. Gelembung-gelembung itu bersifat sementara, guram, dan repas. Mereka terbang dengan sangat tinggi hanya untuk kemudian meletup begitu saja, dan hanya menyisakan wangi sabun. They fly so high, they reach the sky, then like my dreams, they fade and die, fortunes always hiding, i look everywhere, i'm forever blowing bubbles, pretty bubbles in the air!

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.