Kisah di Balik Football War

Kisah di Balik Football War

Seperti yang sudah dibahas pada pembahasan sebelumnya. Dikenal sebagai La guerra del futbol atau tidak sedikit juga yang menyebutnya sebagai Football War. Percaya atau tidak, pertandingan sepak bola yang melibatkan kedua negara ini menjadi salah satu pemicu terjadinya perang terbuka yang memakan banyak korban.

 

Khalayak luas memang selalu menjadikan sepak bola sebagai pemantik dari terjadinya perang tersebut. Namun, peperangan yang melibatkan kedua negara yang bertetangga ini bukan atas dasar sepak bola semata. Penyebab konflik tersebut tidak sesederhana bunyi peluit sang pengadil pertandingan di atas lapangan hijau.

 

Sah saja jika sebagian orang mengaitkan kericuhan yang terjadi dalam suatu pertandingan sepak bola sebagai pemicu perang militer. Tetapi sepak bola hanya hanya satu dari sekian alasan yang muncul ke permukaan layaknya fenomena gunung es. Cikal bakal pertikaian kedua negara yang bertetangga ini jauh lebih dari sekadar hasil akhir yang terpampang di papan skor.

 

Akar Terjadinya Football War

Honduras dan El Salvador adalah negara miskin yang memiliki hubungan sejarah yang cukup rumit. Kedua negara ini adalah bagian dari blok lima negara Amerika Tengah yang memproklamasikan kemerdekaan negaranya dari Spanyol pada tanggal 15 September 1821. Setelah berhasil merebut kemerdekaan, mereka sepakat untuk membentuk federasi yang bertahan hingga tahun 1838.

 

Setelah federasi yang mereka bangun terpecah belah, Honduras menjadi negara dengan wilayah lima kali lebih luas dibanding El Salvador, dan ada masalah sengketa perbatasan antara keduanya. Penduduk El Salvador lebih banyak dan pada tahun 1969, jumlahnya satu juta lebih banyak ketimbang Honduras.

 

El Salvador merupakan negara kecil dengan jumlah penduduk terpadat di Amerika Tengah. Meski begitu, sebagian besar rakyatnya tidak memiliki tanah. Tanah dan lahan yang mereka tempati dikuasai oleh borjuis setempat yang tamak. Maka dari itu banyak penduduk El Salvador yang memutuskan untuk beremigrasi ke negara tetangga, Honduras, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, terutama untuk bekerja di sektor pertanian.

Kondisi tersebut memaksa sekitar 300.000 penduduk El Salvador menyerbu Honduras untuk mengadu nasib. Sampai akhir tahun 1960-an jumlah petani El Salvador yang menggarap lahan pertanian di Honduras mencapai 20 persen dari total penduduk pedesaan.

 

Namun, seperti di sebagian besar Amerika Tengah, tanah dan lahan di Honduras pun dimiliki oleh kaum borjuis atau perusahaan besar. Perusahaan besar yang bergelut dalam perdagangan buah tropis asal Amerika Serikat yaitu United Fruit Company memiliki 10% tanah di Honduras, sehingga sulit bagi rakyat biasa atau kaum proletar untuk bersaing.

 

Pada tahun 1966, United Fruit Company bersatu dengan banyak perusahaan besar lainnya untuk membentuk La Federacion Nacional de Agricultores y Ganaderos de Honduras (Federasi Nasional Petani dan Peternak Honduras). Sekelompok perusahaan yang mendirikan federasi ini menekan Presiden Honduras, Jenderal Oswaldo Lopez Arellano, untuk melindungi kerakusan orang-orang kaya pemilik tanah.

Invasi warga El Salvador ke Honduras dirasa kurang tepat. Sejak tahun 1950-an, ekonomi Honduras sebenarnya mengalami ketidakstabilan dan kian merosot di akhir 1960-an. Dalam esai "The El Salvador-Honduras War" (2009) yang diterbitkan International Institute for Strategic Studies (IISS) menyebut, Honduras menjadi negara dengan ekonomi paling tidak berkembang di antara negara-negara Amerika tengah lainnya. Pada 1967, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Honduras hanya mencatatkan 236 dolar, menjadi yang terendah di benua Amerika Tengah.

 

Ketegangan El Salvador dan Honduras bermula sejak awal tahun 1968. Saat itu rakyat Honduras merasa tak puas dengan kepemimpinan pemerintahan Kolonel Oswaldo Lopez Arellano, Presiden Honduras kala itu. Dia dianggap gagal memperbaiki perekonomian negara serta gagal mengangkat derajat dan mensejahterakan rakyat Honduras.

Pemerintahan dibawah kepemimpinan Arellano kebingungan usai mendapat kecaman dari rakyat Honduras. Ia kemudian membuat tuduhan tak berdasar kepada imigran gelap El Salvador sebagai kambing hitam dari kegagalan tersebut. Tak lama kemudian, orang-orang Salvador yang tinggal di Honduras mulai mendapat intimidasi.

 

Terlebih pada Januari 1969, pemerintah Honduras menolak untuk memperbarui perjanjian imigrasi yang ditandatangani dengan El Salvador sejak 1967. Pemerintah Honduras kemudian berniat untuk merebut tanah-tanah milik imigran El Salvador. Beberapa bulan kemudian, Honduras mengumumkan bahwa mereka akan mengusir imigran El Salvador yang memiliki tanah ataupun properti tanpa melalui persyaratan hukum.

 

López Arellano bukanlah tipikal pemimpin yang baik. Surat kabar asal Inggris yaitu The Guardian menyebut bahwa ia diduga kuat pernah dijejali suap oleh United Fruit Company, untuk mengurangi pajak ekspor pisang. Beberapa kebijakan politik dan ekonominya pun lebih condong dengan politik dan konglomerat Amerika Serikat.

 

Kebijakan itu kemudian berdampak dengan intimidasi yang semakin menjadi-jadi. Tindakan brutal seperti penganiayaan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan imigran El Salvador pun terjadi di Tegucigalpa, ibukota Honduras. Meski demikian, pemerintah Honduras tampak tak mengambil tindakan serius dan cenderung melakukan tindakan biasa saja terhadap aksi eksodus besar-besaran ini.

 

Pengambil alihan lahan ini juga rupanya didukung oleh pemilik lahan besar di Honduras, termasuk perusahaan besar seperti United Fruit Company. Ribuan pekerja El Salvador diusir dari Honduras, dan langkah ini diprotes oleh pemerintah El Salvador yang menuduh terjadi perlakuan kasar dan penyiksaan.

El Salvador ketika itu juga dipimpin seorang militer. Sementara dugaan penganiayaan kepada minoritas El Salvador di Honduras kian meningkat, Jenderal Fidel Sanchez Hernandez selaku pemimpin negara hanya melakukan sedikit tindakan untuk mencegah kemarahan publik El Salvador.

 

Serangkaian ketegangan inilah yang memicu kekacauan di pertandingan sepakbola kualifikasi pra-Piala Dunia 1970 Meksiko. Kedua negara ini harus bertemu serta membawa sentimen dan pertikaian dari luar lapangan hijau ke dalam area pertandingan. Timnas dan pendukung masing-masing negara saling mengeluh ketika bermain di kandang tuan rumah akibat perlakuan buruk dan serangkaian kekerasan lainnya.

 

Bahkan ketika pertandingan penentuan dilakukan di tempat netral di Meksiko, niat pertikaian tidak menunjukkan titik terang. Terbukti pada 14 Juli 1969, El Salvador menyerang Honduras dari darat dan udara. Honduras sempat membalas dengan serangan udara. Mereka juga mengumpulkan orang-orang El Salvador yang tinggal di negara mereka dan mendeportasinya.

 

Kemenangan El Salvador yang berhasil memukul mundur pasukan Honduras tidak bertahan lama. Hal ini dikarenakan mereka mulai kehabisan bahan bakar. Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) juga diminta untuk turun tangan untuk memediasi konflik antara El Salvador yang bersitegang dengan Honduras. Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) menyerukan gencatan senjata, namun rupanya El Salvador menolak.

Mereka menginginkan agar Honduras bertanggung jawab atas aksi pengusiran yang disertai penganiayaan kepada warga El Salvador serta menjamin keselamatan para warga Salvador yang masih tersisa di Honduras. Selain kehabisan bahan bakar, tekanan yang lebih kuat dari OAS pada akhirnya mampu meredam agresivitas serangan El Salvador. Perang memang tidak berlangsung lama, hanya 100 jam atau sekitar empat hari.

 

Namun, perang yang berlangsung selama empat hari itu menimbulkan kerugian material maupun nyawa yang sangat luar biasa. Sekitar 60.000 sampai 130.000 orang El Salvador terusir secara paksa dan melarikan diri dari Honduras. Selain daripada itu, hampir 2.000 warga sipil yang mayoritas rakyat Honduras meninggal dunia. Sementara korban El Salvador sekitar 900 orang meninggal dengan 3 pesawat tempur ditembak jatuh.

Seusai perang, El Salvador tetap tampil di Piala Dunia. Mereka tergabung di Grup A bersama Uni Soviet, Meksiko, dan Belgia. Dari 3 pertandingan, tim asuhan Hernan Carrasco Vivanco selalu kalah dengan menderita 9 gol dan tanpa memasukkan.

 

Sebelas tahun setelah perang, kedua negara menandatangani perjanjian damai di Lima, Peru, pada 30 Oktober 1980. Mereka setuju untuk menyelesaikan sengketa perbatasan di Teluk Fonseca dan lima bagian perbatasan darat melalui Mahkamah Internasional (ICJ). Meski begitu, hubungan baik tidak segera terbangun. Baru pada 2006 lalu, dua presiden dari masing-masing negara sepakat berdamai dengan berjabat tangan di atas garis perbatasan kedua negara.

 

Pertandingan sepakbola antara Honduras dan El Salvador memang menjadi pemantik Perang Sepak bola terjadi, namun bukan karena pertandingan itu lah semua ini berawal. Pertandingan sepakbola justru membawa persahabatan bagi mereka yang memainkannya.

 

Meskipun dari tiga pertandingan yang dilakoni oleh Honduras dan El Salvador sering terjadi kekerasan diluar lapangan, seluruh pemain dan staf dari kedua kesebelasan ini justru sering kali melakukan jabat tangan dengan hati yang cukup terbuka. Bahkan, beberapa dari mereka pun ada yang berpelukan, pada akhir pertandingan.

Tidak ada klaim siapa yang keluar sebagai pemenang dan siapa yang tersungkur di jurang kekalahan. Namun, satu hal yang pasti, ribuan jiwa melayang dalam pertempuran seratus jam ini. Layanan penerbangan kedua negara juga terganggu hingga satu dekade dan sepak bola menjadi kambing hitam atas terjadinya peperangan yang diakibatkan oleh kerakusan penguasa dan kaum borjuis di Honduras.

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.