- Disc% Independence Sale
- Shop
- P-1080
- Capsule Collection
-
Prung Station
- Back
- Prung Station
-
PODCAST
- Back
- PODCAST
- DON KUMBANG Eps 1
- ALBERT SHADRACH Eps 2
- COACH COKIE Eps 3
- IRFAN POPISH Eps 4
- SHAMROOG Eps 5
- ATET STONEBOYS Eps 6
- REIZA SEEON Eps 7
- MORREZZA Eps 8
- TONKILLS Eps 9
- CARANGLAKSITA ABHIMANTRA Eps 10
- ARLAN SIDDHA Eps 11
- AYAH DONNY Eps 12
- AL a.k.a UCAY Eps 13
- DANI MILLENIX Eps 14
- AAN HAIRCUT EPS 15
- IM BOBS Eps 16
- LUCKY SOUNDSYSTEM Eps 17
- ATMOSFER DARI PRUNG STATION Eps 18
- SIR IYAI Eps 19
- BANDUNG SUPPORTER ALLIANCE Eps 20
- ANGKE BULLDOG BRIGADE Eps 21
- UGE JABAR Eps 22
- RANDY NTENK Eps 23
- DHANI MUNGGARAN Eps 24
- TOBIAS GINANJAR Eps 25
- AUN RAHMAN Eps 26
- KANG JALU BANDUNG PREMIER LEAGUE Eps 27
- FLAND Eps 28
- ALTER.NAIVE Eps 29
- JEBO & PHEY Eps 30
- ALIF SAPTO NUGROHO Eps 31
-
PRUNGPEDIA WITH SHAMROOG
- Back
- PRUNGPEDIA WITH SHAMROOG
- INTRODUCING PRUNGPEDIA EPS. 1
- WHAT IS CATALONIA ? EPS. 2
- FC BARCELONA BETWEEN STRUGGLE AND FOOTBALL EPS. 3
- FC BARCELONA MES QUE UN CLUB? EPS. 4
- CHRONICLE OF UK & IRELAND STORY PART 1 EPS. 5
- CHRONICLE OF UK & IRELAND STORY PART 2 EPS. 6
- CHRONICLE OF UK & IRELAND STORY PART 3 EPS. 7
- UNTOUCHABLE AFRICA PART 1 EPS. 8
- UNTOUCHABLE AFRICA PART 2 EPS. 9
- UNTOUCHABLE AFRICA PART 3 EPS. 10
- STORY OF BALKANS PART 1 EPS. 11
- STORY OF BALKANS PART 2 EPS. 12
- DERETAN BERLIAN SEPAKBOLA BALKAN EPS. 13
- GREAT STORY OF GREATER LONDON EPS. 14
- FOOTBALL STORY IN GREATER LONDON EPS. 15 (2023)
- BELANDA DAN SERBA-SERBI CERITANYA EPS. 16
- BELANDA, RAJA TAK BERMAHKOTA DARI EROPA EPS. 17
- MAGNIFICENT LAND OF BRAZIL EPS. 18
- BRAZIL : FAKTA DI BALIK RAKSASA SEPAKBOLA DUNIA EPS. 19
- HISTORIA ITALIA EPS. 20
- CULTURA DI CALCIO EP. 21
- MAGNIFICENT HISTORY OF TURKIYE EPS. 22
- TURKIYE FOOTBALL ANTHOLOGY EPS. 23
- THAILAND : LAND OF SMILES EPS. 24
- CERITA SEPAK BOLA, NEGARA GAJAH PUTIH EPS. 25
- AUSTRALIA : LAND OF HOPE FROM THE SOUTH EPS. 26
- AUSTRALIAN SOCCEROOS EPS. 27
- JAPAN : LAND OF THE RISING SUN EPS. 28
- HISTORY OF JAPAN : SAKKĀ (SOCCER/FOOTBALL) EPS. 29
- From Russia With Love Part 1 EPS. 30
- From Russia With Love Part 2 EPS. 31
- RUSSIAN FOOTBALL : THE SLEEPING GIANT BEAR EPS. 32
- NORDIC - SCANDINAVIAN WORLD PART 1 EPS. 33
- SCANDINAVIAN FOOTBALL SAGA EPS. 34
- U.S.A UNITED STATES OF AMERICA : NEW WORLD EPS. 35
- HISTORY OF AMERICAN FOOTBALL SOCCER EPS. 36
- DON'T CRY FOR ME ARGENTINA EPS. 37
- ARGENTINA : SOUTH AMERICAN FOOTBALL UNDERDOG EPS. 38
- HOLA AMIGOS, MEXICANO EPS. 39
- MEXICO : MESOAMERICA FUTBOL GIGANTE EPS. 40
- GERMANY : DEUTSCHLAND UBER ALLES EPS. 41
- GERMANY : DER PANZER VON EUROPA EPS. 42
- FRANCE : LIBERTE EGALITE FRATERNITE EPS. 43
- FRANCE : Le-Coq d'Europe EPS. 44
- PORTUGAL : Imperio Maritimo do Mundo EPS. 45
- PORTUGAL: Navigadores do Europa EPS. 46
- URUGUAY : Magical Sun of May (Magico Sol de Mayo) EPS. 47
- URUGUAY : SLEEPING GIANT FROM SOUTH AMERICAN EPS. 48
- SOUTH KOREA: STORY FROM THE HAN RIVER EPS. 49
- SOUTH KOREA: TIGER OF ASIAN FOOTBALL EPS. 50
- POLSKA: WHITE EAGLE OF EUROPE EPS.51
- POLANDIA: Biało-Czerwoni Orły – White-Red Eagle EPS.52
- MALAYSIA : Kisah Tanah Melayu EPS. 53
- MALAYSIA : Harimau dari Semenanjung Malaya EPS. 54
- SINGAPURA : Small Island, Big Hope EPS. 55
- SINGAPORE: Singa Selat Malaka EPS. 56
- PHILLIPINES : Mabuhay, Pearl of the Orient! EPS. 57
- PHILLIPINES : Azkals Futbal! EPS. 58
- DIASPORA MALUKU : Dalam Dunia Sepakbola EPS. 59
- PUNK FOOTBALL : The Rise of Fan Ownership in English Football EPS. 60
- HISTORY OF BALACLAVA : Battle of Balaclava & Ultras Gear EPS. 61
- NAFAS PALESTINA : Dalam klub CD Palestino EPS. 62
- EZLN : Balutan Perlawanan Dalam Dunia Sepak Bola EPS. 63
- IKURRINA DERBY : The Magical Story of Derby EPS. 64
- POLITICAL FOOTBALL : Hapoel - Maccabi - Betar EPS. 65
- ENGLISH ELEGANCE : Baracuta dan G9 Harrington EPS. 66
- BOHEMIAN MARLEY : Bohemian F.C. dan Bob Marley EPS. 67
-
SOUND OF PRUNG
- Back
- SOUND OF PRUNG
- Ay Ay Bruv !! Eps.1
- Subkultur Terakhir Itu Bernama Football Casuals Eps. 2
- Kontradiksi Antara Ultras dan Football Casuals Eps.3
- Sayap Kiri ST. PAULI Eps.4
- If You Tolerate This Your Children Will Be Next Eps.5
- Ada apa dengan Inggris dan Rusia? (Battle of Marseille) Eps.6
- Against Modern Football? Eps.7
- Wajah Suporter Sepakbola Turki Eps.8
- Aries Ediwan: "THE MOST WANTED !" Eps.9
- Tuhan Menciptakan Manchester Pada Hari Ke Enam (Madchester Scene) Eps.10
- Aldi Keparat : NewYork punya C.B.G.B, Bandung punya Saparua Eps.11
- Aldi Salladin : Review Film Trainspotting Eps.12
- England Fans Tak Ubahnya Seperti Kita!!! Eps.13
- 11 Orang Dari 270 Juta Jiwa, Masa Iyah Sih? Eps.14
- PRUNG X BOATSY (Lads From Forest Executive Crew) Eps.15
- Sometimes Maybe Good, Sometimes Maybe Shit (The Naughty Footballers) Eps.16
- When Football Meets Music #1 (Kasabian,Blur,Oasis,The Stone Roses) Eps.17
- Sekali Seumur Hidup Mengharumkan Nama Bangsa Eps.18
- Keangkuhan Petinggi Klub VS Kesetiaan Pemain ke 12. Eps19
- When Football Meets Music #2 (Johnny Rotten, Suggs Madness, Cockney Rejects,The Business) Eps.20
- Hantam Prasangka Buruk! (AAN Haircuts, ACA Straight Answer, ANGKE Bulldog Brigade) Eps.21
- BUDI DALTON: Football Casuals di Mata Budayawan Eps.22
- DODI BRAWLERS68 : Anti Rasis Belum Tentu Anti Fasis! Eps.23
- SHAMROOG : Most Dangerous Football Derby Eps.24
- MEET THE OWNERS | Riverside Forest Eps.25
- MEET THE OWNER | Birds Death Brigade Eps.26
- UTAY WARRIORS : Good Friends Good Family As One Eps.27
- MEET THE OWNERS | Kita Main 12 Orang! Eps. 28
- MEET THE OWNERS | Non League - Our Football Game Eps. 29
- MEET THE OWNERS | Chasing The Underdogs Eps. 30
- IEV TENGIK Mau Jadi Host Baru Sound Of Prung ? Eps. 31
- PAHYOL : Indie Bukan Totebag Apalagi Kopi Senja Eps.32
- PRABU PRAMAYOUGHA Saturday Night Karaoke : Don't Watch This! Eps.33
- BUDI TURLTES JR | FROM BANDUNG TO U.K & EUROPEAN TOUR EPS.34
- AKBER ( EYEDUST ) : KOMINFO RONGSOK !! ILUSTRATOR JADI SUSAH BERKARYA Eps.35
- DASA & EKY : BANDUNG MASIH JADI KOTA KREATIF ? YAKIN ?? Eps.36
- COKIE RIOTZ : TULANG BESI HADIR DENGAN NUANSA OI!CHESTRA Eps.37
- DOCMARTERS BANDUNG : WE ARE BACK !!! ROAD TO ONE DECADE DOCMARTERS BANDUNG Eps.38
- KIMUNG : TERNYATA RAVE MUSIC BUKAN SEKEDAR PARTY Eps.39
- HADI "ANTI SQUAD" : DARI JALANAN SAMPAI LAYAR LEBAR Eps.40
- MUSIC FOR ALL - STOP THE HATE : ROAD TO COCKNEY REJECTS FAREWELL TOUR 2023 Eps.41
- NO TICKET NO SHOW : ROAD TO COCKNEY REJECTS FAREWELL TOUR 2023 Eps.42
- COCKNEY KIDZ : KENAPA JATUH CINTA DENGAN WEST HAM UNITED ? PAKET KUMPLIT ! Eps.43
- DENNIE SHERMAN : TIDAK ADA PERBEDAAN KASTA DI WESTHAM RELATE DENGAN SKINHEAD ! Eps.45
- HAMMERS BANDUNG : BANGGA MENJADI MEDIOKER ! Eps.46
- BREZ : EAST END LONDON PUNYA COCKNEY, WEST BANDUNG PUNYA KOKDA Eps.47
- WISNU THE BOLDNESS : NGOBROLIN SKENA BALI SAMPAI REKLAMASI Eps.48
- IBOI STRENGTH THRU : CARILAH KESAMAAN, JANGAN CARI PERBEDAAN ps.48
- SUNNY SUMMERDAY : PROUD TO BE UNPOPULAR Eps.50
- BEBANGKAN OI! SQUAD : FROM TRIBUNE TO THE STAGE Eps.51
- NFC : MANIFESTING MORE GENERATION OF ACHIEVERS. GRASSROOTS WILL SHINE HERE! Eps.52
- KLAB ZINE DAN PERKEMBANGAN ZINE HARI INI! Eps.53
- GEBEG : KOMEDIAN BERKEDOK DRUMMER Eps.54
- MEET THE OWNERS : MAYDAY COLLECTIVE FOOTBALL Eps.55
- MODS INDONESIA : PERJALANAN MODS DI INDONESIA, SEMUA ADA DI BUKU INI ! Eps.56
- BANDUNG REGGAE SUPPORTER : SKINHEAD KOK DENGERIN REGGAE ? Eps.57
- MONYONG & TOMMY : OBROLAN BERKESAN BERSAMA KAWAN DARI NEGERI JIRAN Eps.58
- BUJANGAN URBAN : BANYAK GRAFFITI DI SUATU KOTA? BERARTI KOTA ITU KORUP! Eps.59
- SÉBASTIEN LOUIS : AUTHOR OF ULTRAS, GLI ALTRI PROTAGONISTI DEL CALCIO Eps.60
- HASBI ILMAN : KEMASAN BERITA CIAMIK ALA JURNALISTIK KOMIK Eps.61
- JACK AND JHON : HENTIKAN SEGALA KEKERASAN MARI KITA PARTY !!! Eps.62
- MEET THE OWNERS : KALAU MERUSAK PERTEMANAN, MENDING BUBAR! Eps.63
- MEET THE OWNERS : HARUS ADA PESAN YANG DISAMPAIKAN LEWAT SEPAKBOLA Eps.64
- MEET THE OWNERS : PEMAIN DIGOCEK WASIT, HAL LUAR BIASA DI LIGA 3 Eps. 65
- KUNTOWIYOGA : APAKAH FAN-OWNED CLUB AKAN BERUMUR PANJANG? Eps. 66
- A Moments To Remember Sound of Prung
- RIZKI MASBOX SANJAYA : PERSIB DAN ILUSI SULANJANA Eps. 67
- PASAR GRATIS : NOT FOR CHARITY, THIS IS SOLIDARITY Eps. 68
- KUASSA : PLUGIN LOKAL BERSELANCAR DI PASAR GLOBALEps. 69
- RIO RAZOR : MASIH PERCAYA KONEKSI PERTEMANAN Eps. 70
- INDONESIA MODS MAYDAY : SHOW YOUR DRESS, SHOW YOUR SCOOTER Eps. 71
- NOT FUSSED : GAK BUTUH EXPOSURE, INI SEMUA CUMA BERCANDA Eps. 72
- FAHMI RAMDHANI : YANG NONTON PURE SATURDAY ITU, PASTI WANGI! Eps. 73
- BANDUNG CLOBBER MARKET : CLOBBER ITU DARI ATAS SAMPAI BAWAH! Eps. 74
- SHAH ALAM ANTLERS : YOUNGSTER JUGA BISA RUN THE CLUB! Eps. 75
- MEET THE OWNERS : ZEN RS, SEPAK BOLA SUDAH MENJADI KONTEN BUKAN LAGI SEPERTI DULU! Eps. 1
- MEET THE OWNERS : FAHMI SADUR ALTERTOWN, APPAREL BARU RIVERSIDE FOREST FC Eps. 2
- MEET THE OWNERS : SEPAKBOLA INDONESIA JANGAN DIMASUKIN KE HATI! Eps. 3
- BANDUNGEXTRATIMES : CASUALAND, CAMP CREW ALL NIGHT LONG! #soundofprung Eps. 77
- MEET THE OWNERS : RFFC DI TANGAN DINGIN OPPA WITA DAN COACH BONI ARIANTO! Eps. 4
- MEET THE OWNERS : DARI FISIOLOGI HINGGA BIOMEKANIKA PEMAIN KITA BEDAH BERSAMA SPORT SCIENCE Eps. 5
- MEET THE OWNERS : BERHARAP RFFC KEMBALI TURUN KE JALAN! Eps. 6
- MEET THE OWNERS : FRIDAY FOOTBALL STREETS | MENGHIDUPKAN SEPAK BOLA JALANAN! Eps. 7
- BROTHEROOTS : LAHIR DI BANDUNG, 3 BAND INI KELILING JABAR! #soundofprung Eps. 78
- MEET THE OWNERS : FC RAINFALL | LAHIR SEPAK BOLA KOLEKTIF DARI KOTA BOGOR Eps.8
- DJOCKIE RENTENIR FC : TETAP MENYERAH JANGAN SEMANGAT! #soundofprung Eps. 79
- MEET THE OWNERS : URBAN SIDE LAHIR DARI PINGGIRAN KOTA DAN KERESAHAN Eps.9
- ANTI LEUMPUNK CLUB : DI DALAM TUBUH YANG SEHAT, TERDAPAT JIWA YANG RENGAT! #soundofprung EPS. 80
- MEET THE OWNERS : NORTHERN FIGHT CLUB, LOVE THE PAIN AND KEEP THE FIGHT! Eps.10
- EXTREME VOCAL ALLIANCE : MUSIK KERAS ITU JANGAN ASAL TERIAK, TAPI ADA TEKNIK! #soundofprung EPS. 81
- APASIH MAN WITH A BIG MOUTH ITU? | MAN WITH A BIG MOUTH EPS. 1
- SEJARAH OASIS BANDUNG | MAN WITH A BIG MOUTH EPS. 2
- MEET THE OWNERS : ZINE MARAGBOYS AKAN RELEASE! Eps. 11
- DARI MANCHESTER TERDENGAR HINGGA KE BANDUNG | MAN WITH A BIG MOUTH EPS. 3
- MEET THE OWNERS : DISASTER FOOTBALL CUP 2025, BATTLE OF THE BANDS! Eps. 11
- SOUND MIRIP OASIS ENGGA HARUS MAHAL! | MAN WITH A BIG MOUTH EPS. 4
- MEET THE OWNERS : UPK - JALANAN TIDAK ADA ATURAN NAMUN ADA NORMA YANG HARUS DI JAGA! Eps. 13
- APAKAH KONSPIRASI THE BEATLES HANYA MARKETING? | MAN WITH A BIG MOUTH EPS. 5
- MEET THE OWNERS : FLOWER CITY FEST, EVALUASI DAN TANGGUNG JAWAB ADALAH KUNCI! Eps. 14
-
WEEKEND WAVES
- Back
- WEEKEND WAVES
- WEEKEND WAVES #track1 : ALDI SALLADIN
- WEEKEND WAVES #track2 : DEATHLESS
- WEEKEND WAVES #track3 : ACHELL SUEZ
- WEEKEND WAVES #track4 : MOONSHINE69
- WEEKEND WAVES #track5 : FYSN19
- WEEKEND WAVES #track6 : PEMUDA SALAH JALAN
- WEEKEND WAVES #track7 : Luckysoundsystem
- WEEKEND WAVES #track8 : USINNISU
- WEEKEND WAVES #track9 : SENPI MUSIC
- WEEKEND WAVES #track10 : DONGTSAY
- WEEKEND WAVES #track11 : FAZEDBOIII
- WEEKEND WAVES #track12 : JACK & JHON
- WEEKEND WAVES #track13 : DJANKIS
-
Webzine
- Back
- Webzine
-
Football History
- Back
- Football History
- Resistensi Budaya F.C. United Of Manchester
- Sektarianisme Antara Celtic dan Rangers
- Permainan Kotor Dari Dataran Inggris, The Crazy Gang dan Tingkah Tengilnya
- Afiliasi Politik Dalam Sepak Bola
- Banalitas Kejahatan Sepak Bola Italia
- Dari The Busby Babes Hingga Munich Disaster
- Lupakan Milan, Sisilia Memiliki Sektarianisme Tak Terbantahkan
- GUARD OF HONOUR, TRADISI TUA YANG TETAP DILESTARIKAN
- Royal Shrovetide Football Match dan Asal Muasal Istilah Derby
- Melawan Penjajahan Dengan Sepakbola
- The Dog Saved Manchester United
- Tartan Army: Fanatisme dan Kenakalan Supporter Skotlandia
- Kebencian Warga Liverpool Terhadap Inggris
- Dendam Kesumat Antara Inggris dan Jerman
- Narcos Football: Kartel Narkoba dan Sepakbola Kolombia
- Akar Permusuhan Manchester United Vs Leeds United
- Budaya Amsterdam dan Kebebasan Bob Marley
- Asal Muasal Perjudian Dalam Sepak Bola
- Aksi Protes dan Isu Bubarnya Curva Nord Atalanta Bergamo
- DEATH MATCH: Aroma Kematian Dalam Suatu Pertandingan
- Akar Rasisme La Familia Beitar
- Tuesday Drinking Club: Budaya Sepak Bola dan Minuman Beralkohol
- The Football War
- Kisah di Balik Football War
- Perlawanan Terhadap Pelecehan Seksual Dalam Dunia Sepak Bola
- Keterlibatan Suporter Dalam Suatu Klub Sepak Bola
- Menelisik Hubungan I’m Forever Blowing Bubbles Dan West Ham United
- SEPAK BOLA DAN KAUM KELAS PEKERJA
-
Our Opinion
- Back
- Our Opinion
- Mengapa Rasisme Menyebalkan?
- This Is Our Opinion: Football Casuals, Skena Tanpa Nahkoda
- Who Said Football is Fascist Game?
- Sampai Kapan Hingar Bingar di Stadion Kosong Berakhir?
- Rivalitas Tanpa Menyentuh Profesi
- That’s Why I Love Football
- Memelihara Rasa Peduli Bukanlah Hal Yang Hina
- Who Said Pop Is Dead? Kancah Musik Pop Kota Bandung
- Football Casual Sama Dengan Hypebeast?
- Sepak Bola Indonesia Butuh VAR?
- Sepak Bola dan Budaya Kolektif
- Akhiri Budaya Catcalling Dalam Dunia Suporter!
- Mendambakan Sepak Bola Tanpa Ujaran Kebencian
- Suporter Bukan Sapi Perah, Apalagi Kambing Gembala
- Jolly Roger Naik Tiang, Apakah Merdeka Hanya Tinggal Kenang?
-
Figure
- Back
- Figure
- Cantona
- Maradona
- Albert Shadrach
- Coach Cokie Riotz
- Irfan Popish
- The Crazy Gang
- Alan McGee
- Enrico, Los Fastidios
- Colin Blaney
- Daniel a.k.a Kulbritania
- Benjamin Odeje
- Exclusive Interview With Dhani Munggaran
- Exclusive Interview With Dimaz Maulana, Bawahskor
- Ronny Pattinasarany: Sepakbola, Keluarga dan Bandar Narkoba
- George Best: Kenakalan Dan Kepiawaian Di Atas Lapangan
- Bob Marley: Perdamaian, Kemerdekaan dan Sepak Bola
- Nadia Nadim : Dari Herat Menjadi Pemain Sepak Bola Denmark Terhebat
- Meet the firm
-
Subculture
- Back
- Subculture
- Budaya Kritik Suporter
- Fanatisme Suporter
- Football Casuals
- Madchester
- Derby Tamanchester
- Musik dan sepak bola
- Asal Muasal Istilah Derby
- Guard Of Honour
- Sisilia Memiliki Sektarianisme Tak Terbantahkan
- Makna Simbol Dalam Suporter Sepak Bola
- Dari The Busby Babes Hingga Munich Disaster
- Era Baru Dalam Dunia Suporter Sepak Bola
- Italy's Ultras
- Banalitas Kejahatan Sepak Bola Italia
- Afiliasi Politik Dalam Sepak Bola
- Sektarianisme Antara Celtic dan Rangers
- Resistensi Budaya F.C. United Of Manchester
- Resistensi Supporter Melalui Street Art
- Naked Fussball dan Bentuk Protes Terhadap Sepak Bola Modern
- Resistensi Ultras Raja Casablanca
- Football Fanzine History
- APA ITU SHOW ISRAEL THE RED CARD?
- HARDBASS DI UJUNG JALAN DAN SUBKULTUR GOPNIK.
-
Music
- Back
- Music
- Liam Gallagher, Once
- Live Review, Down By The River Thames
- The Skinner Brothers
- Ian Brown
- Salford Lads Club, The Smiths dan Kenakalan Remaja Manchester
- Kenapa Ian Brown Dipanggil King Monkey?
- Makna Dibalik Simbol Lemon The Stone Roses
- Morrissey: Eksistensi dan Kontroversi
- Cerita Dibalik Lagu Bella Ciao dan Dali Mask
- Fanatisme The Stone Roses Terhadap Manchester United
- MANIC STREET PREACHERS: Senandung Perlawanan Dalam Balutan Musik Rock
- Liam Gallagher Vs Damon Albarn: Battle of Britpop, apa kabar?
- Apakah Reuni Oasis Hanya Omong Kosong?
- Siapa Sosok Pria Dalam Cover Album Meat Is Murder?
- PRUNG EXCLUSIVE INTERVIEW WITH COLIN, FROM VANILLA MUFFINS
- A SOUND SO VERY LOUD: MENELISIK OASIS MELALUI TEKS
- Movie
-
Fashion
- Back
- Fashion
- Monkey Jacket
- Harmonisasi Inggris Dan Jerman
- Paisley
- P-1080 Project
- PRUNG, Filosofi dan Makna
- Dari Suku Inuit, Medan Perang Hingga Modernist Connoisseurs
- A Short History Of Socks
- A Little Story Tracksuits Story
- Bucket Hat Story: Dari Pedesaan Sampai Panggung Besar
- Fashion and Football Culture
- What’s the Story? Gingham Glory!
- A Short Story Camouflage Pattern
- A Little Knitwear Story
- Menelusuri Perjalanan Smock Jacket
- Menelisik Perjalanan Panjang Flight Jacket
- Cargo Pants History: Dari Medan Perang Hingga Lemari Pakaian
- Book
- About
-
Disc% Independence Sale
-
Shop
-
P-1080
-
Capsule Collection
-
Prung Station
-
PODCAST
- DON KUMBANG Eps 1
- ALBERT SHADRACH Eps 2
- COACH COKIE Eps 3
- IRFAN POPISH Eps 4
- SHAMROOG Eps 5
- ATET STONEBOYS Eps 6
- REIZA SEEON Eps 7
- MORREZZA Eps 8
- TONKILLS Eps 9
- CARANGLAKSITA ABHIMANTRA Eps 10
- ARLAN SIDDHA Eps 11
- AYAH DONNY Eps 12
- AL a.k.a UCAY Eps 13
- DANI MILLENIX Eps 14
- AAN HAIRCUT EPS 15
- IM BOBS Eps 16
- LUCKY SOUNDSYSTEM Eps 17
- ATMOSFER DARI PRUNG STATION Eps 18
- SIR IYAI Eps 19
- BANDUNG SUPPORTER ALLIANCE Eps 20
- ANGKE BULLDOG BRIGADE Eps 21
- UGE JABAR Eps 22
- RANDY NTENK Eps 23
- DHANI MUNGGARAN Eps 24
- TOBIAS GINANJAR Eps 25
- AUN RAHMAN Eps 26
- KANG JALU BANDUNG PREMIER LEAGUE Eps 27
- FLAND Eps 28
- ALTER.NAIVE Eps 29
- JEBO & PHEY Eps 30
- ALIF SAPTO NUGROHO Eps 31
-
PRUNGPEDIA WITH SHAMROOG
- INTRODUCING PRUNGPEDIA EPS. 1
- WHAT IS CATALONIA ? EPS. 2
- FC BARCELONA BETWEEN STRUGGLE AND FOOTBALL EPS. 3
- FC BARCELONA MES QUE UN CLUB? EPS. 4
- CHRONICLE OF UK & IRELAND STORY PART 1 EPS. 5
- CHRONICLE OF UK & IRELAND STORY PART 2 EPS. 6
- CHRONICLE OF UK & IRELAND STORY PART 3 EPS. 7
- UNTOUCHABLE AFRICA PART 1 EPS. 8
- UNTOUCHABLE AFRICA PART 2 EPS. 9
- UNTOUCHABLE AFRICA PART 3 EPS. 10
- STORY OF BALKANS PART 1 EPS. 11
- STORY OF BALKANS PART 2 EPS. 12
- DERETAN BERLIAN SEPAKBOLA BALKAN EPS. 13
- GREAT STORY OF GREATER LONDON EPS. 14
- FOOTBALL STORY IN GREATER LONDON EPS. 15 (2023)
- BELANDA DAN SERBA-SERBI CERITANYA EPS. 16
- BELANDA, RAJA TAK BERMAHKOTA DARI EROPA EPS. 17
- MAGNIFICENT LAND OF BRAZIL EPS. 18
- BRAZIL : FAKTA DI BALIK RAKSASA SEPAKBOLA DUNIA EPS. 19
- HISTORIA ITALIA EPS. 20
- CULTURA DI CALCIO EP. 21
- MAGNIFICENT HISTORY OF TURKIYE EPS. 22
- TURKIYE FOOTBALL ANTHOLOGY EPS. 23
- THAILAND : LAND OF SMILES EPS. 24
- CERITA SEPAK BOLA, NEGARA GAJAH PUTIH EPS. 25
- AUSTRALIA : LAND OF HOPE FROM THE SOUTH EPS. 26
- AUSTRALIAN SOCCEROOS EPS. 27
- JAPAN : LAND OF THE RISING SUN EPS. 28
- HISTORY OF JAPAN : SAKKĀ (SOCCER/FOOTBALL) EPS. 29
- From Russia With Love Part 1 EPS. 30
- From Russia With Love Part 2 EPS. 31
- RUSSIAN FOOTBALL : THE SLEEPING GIANT BEAR EPS. 32
- NORDIC - SCANDINAVIAN WORLD PART 1 EPS. 33
- SCANDINAVIAN FOOTBALL SAGA EPS. 34
- U.S.A UNITED STATES OF AMERICA : NEW WORLD EPS. 35
- HISTORY OF AMERICAN FOOTBALL SOCCER EPS. 36
- DON'T CRY FOR ME ARGENTINA EPS. 37
- ARGENTINA : SOUTH AMERICAN FOOTBALL UNDERDOG EPS. 38
- HOLA AMIGOS, MEXICANO EPS. 39
- MEXICO : MESOAMERICA FUTBOL GIGANTE EPS. 40
- GERMANY : DEUTSCHLAND UBER ALLES EPS. 41
- GERMANY : DER PANZER VON EUROPA EPS. 42
- FRANCE : LIBERTE EGALITE FRATERNITE EPS. 43
- FRANCE : Le-Coq d'Europe EPS. 44
- PORTUGAL : Imperio Maritimo do Mundo EPS. 45
- PORTUGAL: Navigadores do Europa EPS. 46
- URUGUAY : Magical Sun of May (Magico Sol de Mayo) EPS. 47
- URUGUAY : SLEEPING GIANT FROM SOUTH AMERICAN EPS. 48
- SOUTH KOREA: STORY FROM THE HAN RIVER EPS. 49
- SOUTH KOREA: TIGER OF ASIAN FOOTBALL EPS. 50
- POLSKA: WHITE EAGLE OF EUROPE EPS.51
- POLANDIA: Biało-Czerwoni Orły – White-Red Eagle EPS.52
- MALAYSIA : Kisah Tanah Melayu EPS. 53
- MALAYSIA : Harimau dari Semenanjung Malaya EPS. 54
- SINGAPURA : Small Island, Big Hope EPS. 55
- SINGAPORE: Singa Selat Malaka EPS. 56
- PHILLIPINES : Mabuhay, Pearl of the Orient! EPS. 57
- PHILLIPINES : Azkals Futbal! EPS. 58
- DIASPORA MALUKU : Dalam Dunia Sepakbola EPS. 59
- PUNK FOOTBALL : The Rise of Fan Ownership in English Football EPS. 60
- HISTORY OF BALACLAVA : Battle of Balaclava & Ultras Gear EPS. 61
- NAFAS PALESTINA : Dalam klub CD Palestino EPS. 62
- EZLN : Balutan Perlawanan Dalam Dunia Sepak Bola EPS. 63
- IKURRINA DERBY : The Magical Story of Derby EPS. 64
- POLITICAL FOOTBALL : Hapoel - Maccabi - Betar EPS. 65
- ENGLISH ELEGANCE : Baracuta dan G9 Harrington EPS. 66
- BOHEMIAN MARLEY : Bohemian F.C. dan Bob Marley EPS. 67
-
SOUND OF PRUNG
- Ay Ay Bruv !! Eps.1
- Subkultur Terakhir Itu Bernama Football Casuals Eps. 2
- Kontradiksi Antara Ultras dan Football Casuals Eps.3
- Sayap Kiri ST. PAULI Eps.4
- If You Tolerate This Your Children Will Be Next Eps.5
- Ada apa dengan Inggris dan Rusia? (Battle of Marseille) Eps.6
- Against Modern Football? Eps.7
- Wajah Suporter Sepakbola Turki Eps.8
- Aries Ediwan: "THE MOST WANTED !" Eps.9
- Tuhan Menciptakan Manchester Pada Hari Ke Enam (Madchester Scene) Eps.10
- Aldi Keparat : NewYork punya C.B.G.B, Bandung punya Saparua Eps.11
- Aldi Salladin : Review Film Trainspotting Eps.12
- England Fans Tak Ubahnya Seperti Kita!!! Eps.13
- 11 Orang Dari 270 Juta Jiwa, Masa Iyah Sih? Eps.14
- PRUNG X BOATSY (Lads From Forest Executive Crew) Eps.15
- Sometimes Maybe Good, Sometimes Maybe Shit (The Naughty Footballers) Eps.16
- When Football Meets Music #1 (Kasabian,Blur,Oasis,The Stone Roses) Eps.17
- Sekali Seumur Hidup Mengharumkan Nama Bangsa Eps.18
- Keangkuhan Petinggi Klub VS Kesetiaan Pemain ke 12. Eps19
- When Football Meets Music #2 (Johnny Rotten, Suggs Madness, Cockney Rejects,The Business) Eps.20
- Hantam Prasangka Buruk! (AAN Haircuts, ACA Straight Answer, ANGKE Bulldog Brigade) Eps.21
- BUDI DALTON: Football Casuals di Mata Budayawan Eps.22
- DODI BRAWLERS68 : Anti Rasis Belum Tentu Anti Fasis! Eps.23
- SHAMROOG : Most Dangerous Football Derby Eps.24
- MEET THE OWNERS | Riverside Forest Eps.25
- MEET THE OWNER | Birds Death Brigade Eps.26
- UTAY WARRIORS : Good Friends Good Family As One Eps.27
- MEET THE OWNERS | Kita Main 12 Orang! Eps. 28
- MEET THE OWNERS | Non League - Our Football Game Eps. 29
- MEET THE OWNERS | Chasing The Underdogs Eps. 30
- IEV TENGIK Mau Jadi Host Baru Sound Of Prung ? Eps. 31
- PAHYOL : Indie Bukan Totebag Apalagi Kopi Senja Eps.32
- PRABU PRAMAYOUGHA Saturday Night Karaoke : Don't Watch This! Eps.33
- BUDI TURLTES JR | FROM BANDUNG TO U.K & EUROPEAN TOUR EPS.34
- AKBER ( EYEDUST ) : KOMINFO RONGSOK !! ILUSTRATOR JADI SUSAH BERKARYA Eps.35
- DASA & EKY : BANDUNG MASIH JADI KOTA KREATIF ? YAKIN ?? Eps.36
- COKIE RIOTZ : TULANG BESI HADIR DENGAN NUANSA OI!CHESTRA Eps.37
- DOCMARTERS BANDUNG : WE ARE BACK !!! ROAD TO ONE DECADE DOCMARTERS BANDUNG Eps.38
- KIMUNG : TERNYATA RAVE MUSIC BUKAN SEKEDAR PARTY Eps.39
- HADI "ANTI SQUAD" : DARI JALANAN SAMPAI LAYAR LEBAR Eps.40
- MUSIC FOR ALL - STOP THE HATE : ROAD TO COCKNEY REJECTS FAREWELL TOUR 2023 Eps.41
- NO TICKET NO SHOW : ROAD TO COCKNEY REJECTS FAREWELL TOUR 2023 Eps.42
- COCKNEY KIDZ : KENAPA JATUH CINTA DENGAN WEST HAM UNITED ? PAKET KUMPLIT ! Eps.43
- DENNIE SHERMAN : TIDAK ADA PERBEDAAN KASTA DI WESTHAM RELATE DENGAN SKINHEAD ! Eps.45
- HAMMERS BANDUNG : BANGGA MENJADI MEDIOKER ! Eps.46
- BREZ : EAST END LONDON PUNYA COCKNEY, WEST BANDUNG PUNYA KOKDA Eps.47
- WISNU THE BOLDNESS : NGOBROLIN SKENA BALI SAMPAI REKLAMASI Eps.48
- IBOI STRENGTH THRU : CARILAH KESAMAAN, JANGAN CARI PERBEDAAN ps.48
- SUNNY SUMMERDAY : PROUD TO BE UNPOPULAR Eps.50
- BEBANGKAN OI! SQUAD : FROM TRIBUNE TO THE STAGE Eps.51
- NFC : MANIFESTING MORE GENERATION OF ACHIEVERS. GRASSROOTS WILL SHINE HERE! Eps.52
- KLAB ZINE DAN PERKEMBANGAN ZINE HARI INI! Eps.53
- GEBEG : KOMEDIAN BERKEDOK DRUMMER Eps.54
- MEET THE OWNERS : MAYDAY COLLECTIVE FOOTBALL Eps.55
- MODS INDONESIA : PERJALANAN MODS DI INDONESIA, SEMUA ADA DI BUKU INI ! Eps.56
- BANDUNG REGGAE SUPPORTER : SKINHEAD KOK DENGERIN REGGAE ? Eps.57
- MONYONG & TOMMY : OBROLAN BERKESAN BERSAMA KAWAN DARI NEGERI JIRAN Eps.58
- BUJANGAN URBAN : BANYAK GRAFFITI DI SUATU KOTA? BERARTI KOTA ITU KORUP! Eps.59
- SÉBASTIEN LOUIS : AUTHOR OF ULTRAS, GLI ALTRI PROTAGONISTI DEL CALCIO Eps.60
- HASBI ILMAN : KEMASAN BERITA CIAMIK ALA JURNALISTIK KOMIK Eps.61
- JACK AND JHON : HENTIKAN SEGALA KEKERASAN MARI KITA PARTY !!! Eps.62
- MEET THE OWNERS : KALAU MERUSAK PERTEMANAN, MENDING BUBAR! Eps.63
- MEET THE OWNERS : HARUS ADA PESAN YANG DISAMPAIKAN LEWAT SEPAKBOLA Eps.64
- MEET THE OWNERS : PEMAIN DIGOCEK WASIT, HAL LUAR BIASA DI LIGA 3 Eps. 65
- KUNTOWIYOGA : APAKAH FAN-OWNED CLUB AKAN BERUMUR PANJANG? Eps. 66
- A Moments To Remember Sound of Prung
- RIZKI MASBOX SANJAYA : PERSIB DAN ILUSI SULANJANA Eps. 67
- PASAR GRATIS : NOT FOR CHARITY, THIS IS SOLIDARITY Eps. 68
- KUASSA : PLUGIN LOKAL BERSELANCAR DI PASAR GLOBALEps. 69
- RIO RAZOR : MASIH PERCAYA KONEKSI PERTEMANAN Eps. 70
- INDONESIA MODS MAYDAY : SHOW YOUR DRESS, SHOW YOUR SCOOTER Eps. 71
- NOT FUSSED : GAK BUTUH EXPOSURE, INI SEMUA CUMA BERCANDA Eps. 72
- FAHMI RAMDHANI : YANG NONTON PURE SATURDAY ITU, PASTI WANGI! Eps. 73
- BANDUNG CLOBBER MARKET : CLOBBER ITU DARI ATAS SAMPAI BAWAH! Eps. 74
- SHAH ALAM ANTLERS : YOUNGSTER JUGA BISA RUN THE CLUB! Eps. 75
- MEET THE OWNERS : ZEN RS, SEPAK BOLA SUDAH MENJADI KONTEN BUKAN LAGI SEPERTI DULU! Eps. 1
- MEET THE OWNERS : FAHMI SADUR ALTERTOWN, APPAREL BARU RIVERSIDE FOREST FC Eps. 2
- MEET THE OWNERS : SEPAKBOLA INDONESIA JANGAN DIMASUKIN KE HATI! Eps. 3
- BANDUNGEXTRATIMES : CASUALAND, CAMP CREW ALL NIGHT LONG! #soundofprung Eps. 77
- MEET THE OWNERS : RFFC DI TANGAN DINGIN OPPA WITA DAN COACH BONI ARIANTO! Eps. 4
- MEET THE OWNERS : DARI FISIOLOGI HINGGA BIOMEKANIKA PEMAIN KITA BEDAH BERSAMA SPORT SCIENCE Eps. 5
- MEET THE OWNERS : BERHARAP RFFC KEMBALI TURUN KE JALAN! Eps. 6
- MEET THE OWNERS : FRIDAY FOOTBALL STREETS | MENGHIDUPKAN SEPAK BOLA JALANAN! Eps. 7
- BROTHEROOTS : LAHIR DI BANDUNG, 3 BAND INI KELILING JABAR! #soundofprung Eps. 78
- MEET THE OWNERS : FC RAINFALL | LAHIR SEPAK BOLA KOLEKTIF DARI KOTA BOGOR Eps.8
- DJOCKIE RENTENIR FC : TETAP MENYERAH JANGAN SEMANGAT! #soundofprung Eps. 79
- MEET THE OWNERS : URBAN SIDE LAHIR DARI PINGGIRAN KOTA DAN KERESAHAN Eps.9
- ANTI LEUMPUNK CLUB : DI DALAM TUBUH YANG SEHAT, TERDAPAT JIWA YANG RENGAT! #soundofprung EPS. 80
- MEET THE OWNERS : NORTHERN FIGHT CLUB, LOVE THE PAIN AND KEEP THE FIGHT! Eps.10
- EXTREME VOCAL ALLIANCE : MUSIK KERAS ITU JANGAN ASAL TERIAK, TAPI ADA TEKNIK! #soundofprung EPS. 81
- APASIH MAN WITH A BIG MOUTH ITU? | MAN WITH A BIG MOUTH EPS. 1
- SEJARAH OASIS BANDUNG | MAN WITH A BIG MOUTH EPS. 2
- MEET THE OWNERS : ZINE MARAGBOYS AKAN RELEASE! Eps. 11
- DARI MANCHESTER TERDENGAR HINGGA KE BANDUNG | MAN WITH A BIG MOUTH EPS. 3
- MEET THE OWNERS : DISASTER FOOTBALL CUP 2025, BATTLE OF THE BANDS! Eps. 11
- SOUND MIRIP OASIS ENGGA HARUS MAHAL! | MAN WITH A BIG MOUTH EPS. 4
- MEET THE OWNERS : UPK - JALANAN TIDAK ADA ATURAN NAMUN ADA NORMA YANG HARUS DI JAGA! Eps. 13
- APAKAH KONSPIRASI THE BEATLES HANYA MARKETING? | MAN WITH A BIG MOUTH EPS. 5
- MEET THE OWNERS : FLOWER CITY FEST, EVALUASI DAN TANGGUNG JAWAB ADALAH KUNCI! Eps. 14
-
WEEKEND WAVES
- WEEKEND WAVES #track1 : ALDI SALLADIN
- WEEKEND WAVES #track2 : DEATHLESS
- WEEKEND WAVES #track3 : ACHELL SUEZ
- WEEKEND WAVES #track4 : MOONSHINE69
- WEEKEND WAVES #track5 : FYSN19
- WEEKEND WAVES #track6 : PEMUDA SALAH JALAN
- WEEKEND WAVES #track7 : Luckysoundsystem
- WEEKEND WAVES #track8 : USINNISU
- WEEKEND WAVES #track9 : SENPI MUSIC
- WEEKEND WAVES #track10 : DONGTSAY
- WEEKEND WAVES #track11 : FAZEDBOIII
- WEEKEND WAVES #track12 : JACK & JHON
- WEEKEND WAVES #track13 : DJANKIS
-
PODCAST
-
Webzine
-
Football History
- Resistensi Budaya F.C. United Of Manchester
- Sektarianisme Antara Celtic dan Rangers
- Permainan Kotor Dari Dataran Inggris, The Crazy Gang dan Tingkah Tengilnya
- Afiliasi Politik Dalam Sepak Bola
- Banalitas Kejahatan Sepak Bola Italia
- Dari The Busby Babes Hingga Munich Disaster
- Lupakan Milan, Sisilia Memiliki Sektarianisme Tak Terbantahkan
- GUARD OF HONOUR, TRADISI TUA YANG TETAP DILESTARIKAN
- Royal Shrovetide Football Match dan Asal Muasal Istilah Derby
- Melawan Penjajahan Dengan Sepakbola
- The Dog Saved Manchester United
- Tartan Army: Fanatisme dan Kenakalan Supporter Skotlandia
- Kebencian Warga Liverpool Terhadap Inggris
- Dendam Kesumat Antara Inggris dan Jerman
- Narcos Football: Kartel Narkoba dan Sepakbola Kolombia
- Akar Permusuhan Manchester United Vs Leeds United
- Budaya Amsterdam dan Kebebasan Bob Marley
- Asal Muasal Perjudian Dalam Sepak Bola
- Aksi Protes dan Isu Bubarnya Curva Nord Atalanta Bergamo
- DEATH MATCH: Aroma Kematian Dalam Suatu Pertandingan
- Akar Rasisme La Familia Beitar
- Tuesday Drinking Club: Budaya Sepak Bola dan Minuman Beralkohol
- The Football War
- Kisah di Balik Football War
- Perlawanan Terhadap Pelecehan Seksual Dalam Dunia Sepak Bola
- Keterlibatan Suporter Dalam Suatu Klub Sepak Bola
- Menelisik Hubungan I’m Forever Blowing Bubbles Dan West Ham United
- SEPAK BOLA DAN KAUM KELAS PEKERJA
-
Our Opinion
- Mengapa Rasisme Menyebalkan?
- This Is Our Opinion: Football Casuals, Skena Tanpa Nahkoda
- Who Said Football is Fascist Game?
- Sampai Kapan Hingar Bingar di Stadion Kosong Berakhir?
- Rivalitas Tanpa Menyentuh Profesi
- That’s Why I Love Football
- Memelihara Rasa Peduli Bukanlah Hal Yang Hina
- Who Said Pop Is Dead? Kancah Musik Pop Kota Bandung
- Football Casual Sama Dengan Hypebeast?
- Sepak Bola Indonesia Butuh VAR?
- Sepak Bola dan Budaya Kolektif
- Akhiri Budaya Catcalling Dalam Dunia Suporter!
- Mendambakan Sepak Bola Tanpa Ujaran Kebencian
- Suporter Bukan Sapi Perah, Apalagi Kambing Gembala
- Jolly Roger Naik Tiang, Apakah Merdeka Hanya Tinggal Kenang?
-
Figure
- Cantona
- Maradona
- Albert Shadrach
- Coach Cokie Riotz
- Irfan Popish
- The Crazy Gang
- Alan McGee
- Enrico, Los Fastidios
- Colin Blaney
- Daniel a.k.a Kulbritania
- Benjamin Odeje
- Exclusive Interview With Dhani Munggaran
- Exclusive Interview With Dimaz Maulana, Bawahskor
- Ronny Pattinasarany: Sepakbola, Keluarga dan Bandar Narkoba
- George Best: Kenakalan Dan Kepiawaian Di Atas Lapangan
- Bob Marley: Perdamaian, Kemerdekaan dan Sepak Bola
- Nadia Nadim : Dari Herat Menjadi Pemain Sepak Bola Denmark Terhebat
- Meet the firm
-
Subculture
- Budaya Kritik Suporter
- Fanatisme Suporter
- Football Casuals
- Madchester
- Derby Tamanchester
- Musik dan sepak bola
- Asal Muasal Istilah Derby
- Guard Of Honour
- Sisilia Memiliki Sektarianisme Tak Terbantahkan
- Makna Simbol Dalam Suporter Sepak Bola
- Dari The Busby Babes Hingga Munich Disaster
- Era Baru Dalam Dunia Suporter Sepak Bola
- Italy's Ultras
- Banalitas Kejahatan Sepak Bola Italia
- Afiliasi Politik Dalam Sepak Bola
- Sektarianisme Antara Celtic dan Rangers
- Resistensi Budaya F.C. United Of Manchester
- Resistensi Supporter Melalui Street Art
- Naked Fussball dan Bentuk Protes Terhadap Sepak Bola Modern
- Resistensi Ultras Raja Casablanca
- Football Fanzine History
- APA ITU SHOW ISRAEL THE RED CARD?
- HARDBASS DI UJUNG JALAN DAN SUBKULTUR GOPNIK.
-
Music
- Liam Gallagher, Once
- Live Review, Down By The River Thames
- The Skinner Brothers
- Ian Brown
- Salford Lads Club, The Smiths dan Kenakalan Remaja Manchester
- Kenapa Ian Brown Dipanggil King Monkey?
- Makna Dibalik Simbol Lemon The Stone Roses
- Morrissey: Eksistensi dan Kontroversi
- Cerita Dibalik Lagu Bella Ciao dan Dali Mask
- Fanatisme The Stone Roses Terhadap Manchester United
- MANIC STREET PREACHERS: Senandung Perlawanan Dalam Balutan Musik Rock
- Liam Gallagher Vs Damon Albarn: Battle of Britpop, apa kabar?
- Apakah Reuni Oasis Hanya Omong Kosong?
- Siapa Sosok Pria Dalam Cover Album Meat Is Murder?
- PRUNG EXCLUSIVE INTERVIEW WITH COLIN, FROM VANILLA MUFFINS
- A SOUND SO VERY LOUD: MENELISIK OASIS MELALUI TEKS
- Movie
-
Fashion
- Monkey Jacket
- Harmonisasi Inggris Dan Jerman
- Paisley
- P-1080 Project
- PRUNG, Filosofi dan Makna
- Dari Suku Inuit, Medan Perang Hingga Modernist Connoisseurs
- A Short History Of Socks
- A Little Story Tracksuits Story
- Bucket Hat Story: Dari Pedesaan Sampai Panggung Besar
- Fashion and Football Culture
- What’s the Story? Gingham Glory!
- A Short Story Camouflage Pattern
- A Little Knitwear Story
- Menelusuri Perjalanan Smock Jacket
- Menelisik Perjalanan Panjang Flight Jacket
- Cargo Pants History: Dari Medan Perang Hingga Lemari Pakaian
- Book
-
Football History
- About
A Sound So Very Loud: Menelisik Oasis Melalui Teks

Ketika bicara tentang Oasis, kita tidak hanya bicara tentang sebuah band asal Manchester, tetapi juga tentang sebuah era yang dirangkum dalam suara gitar, suara dan jokes khas Liam Gallagher, serta ambisi besar Noel Gallagher. Dan di tengah gelombang nostalgia serta reuni yang kini marak menjadi sorotan, hadir sebuah karya yang menjadi semacam panduan baru bagi penggemar Oasis: Oasis: A Sound So Very Loud, buku yang ditulis oleh Daniel Rachel Kessler dan MacBain.
Buku ini, dengan pendekatan kritis sekaligus penuh cinta, berfokus pada 50 lagu kunci yang membentuk karier Oasis. Alih-alih menulis biografi linear, penulis memilih untuk membuat antologi analisis: tiap lagu dibedah dari sisi musikal, lirik, konteks sejarah, serta dampaknya pada kultur populer. Hasilnya adalah perjalanan yang kaya, yang memungkinkan pembaca memahami Oasis tidak hanya sebagai band yang besar, tetapi juga sebagai fenomena budaya.
Mengapa buku ini penting? Karena sejak bubarnya Oasis pada 2009, banyak narasi yang berserakan: biografi resmi, gosip tabloid, wawancara terpecah, hingga dokumenter visual. Namun, A Sound So Very Loud mencoba mengikat serpihan-serpihan itu dalam bentuk yang berbeda. Ia bukan catatan sejarah yang “dingin”, melainkan sebuah tafsir, sebuah penelusuran yang mendekati esensi: apa yang membuat Oasis begitu nyaring, begitu keras, hingga tetap menggema setelah dua dekade?
Di sinilah relevansinya menjadi jelas. Buku ini hadir bukan sekadar untuk penggemar lama yang ingin bernostalgia, tetapi juga untuk generasi baru yang mengenal Oasis lewat playlist platform musik atau video TikTok. Mereka mungkin tahu Wonderwall atau Live Forever sebagai suatu slogan, tetapi lewat buku ini, mereka bisa memahami kenapa lagu itu menjadi semacam anthem global. Mereka mungkin menyanyikan Don’t Look Back in Anger di stadion, tetapi lewat buku ini mereka bisa menelusuri akar emosional dan sejarah yang membuat lagu itu begitu abadi.
Kelahiran buku ini juga bertepatan dengan meningkatnya minat global terhadap reuni band besar. Blur sudah kembali, Pulp sudah kembali, bahkan Stone Roses sempat kembali. Dan kini, Oasis pun kembali dengan tur reuni 2025. Maka, A Sound So Very Loud terasa seperti prolog intelektual dan emosional bagi momen besar itu. Ia bukan hanya catatan masa lalu, tetapi juga panduan untuk memahami mengapa reuni ini begitu penting.
Lebih jauh lagi, buku ini menyadarkan kita bahwa membicarakan Oasis tidak pernah sekadar tentang musik. Ia selalu tentang kelas sosial, tentang identitas, tentang politik budaya Inggris. Oasis bukan hanya suatu band, Manchester City, tetapi juga suara kelas pekerja yang ingin didengar. Maka, buku ini, dalam formatnya yang unik, menjadi cermin dari kenyataan itu: sebuah “Sound So Very Loud” yang bukan sekadar buku biografi, melainkan sosiologis.
Isi Buku
Buku Oasis: A Sound So Very Loud disusun dengan struktur yang sederhana namun efektif: 50 lagu Oasis dipilih sebagai fondasi. Masing-masing lagu mendapat bab khusus, yang tidak hanya berisi deskripsi teknis, tetapi juga konteks personal, sosial, dan historis. Dengan format ini, buku menjadi semacam jukebox literer, pembaca bisa memulai dari mana saja, memilih lagu yang paling mereka sukai, lalu larut dalam analisisnya.
Setiap bab dimulai dengan latar belakang penulisan lagu: kapan Noel Gallagher menulisnya, bagaimana proses rekamannya, siapa saja yang terlibat, serta detail teknis yang sering kali menjadi trivia menarik bagi penggemar. Namun, kekuatan utama buku ini bukan pada trivia, melainkan pada kemampuannya menarik benang merah antara lagu dan zeitgeist.
Contohnya adalah bab tentang Live Forever. Penulis menekankan bagaimana lagu ini lahir sebagai antitesis terhadap nihilisme grunge Amerika. Jika Kurt Cobain menulis I Hate Myself and Want to Die, Noel Gallagher justru menulis “Maybe I don’t really wanna know / how your garden grows.” Pesan optimisme yang sederhana, namun radikal pada masanya, membuat Live Forever menjadi anthem bukan hanya di Inggris, tetapi di seluruh dunia. Buku ini menempatkan lagu tersebut sebagai semacam deklarasi ideologis: bahwa Oasis tidak hanya mengikuti tren, tetapi melawannya.
Bab tentang Don’t Look Back in Anger juga mendapat sorotan khusus. Buku ini menyinggung bagaimana lagu itu kemudian menjadi semacam “lagu kebangsaan alternatif” Inggris, terutama setelah tragedi bom Manchester Arena 2017. Momen ketika ribuan orang menyanyikan lagu itu bersama-sama menjadi bukti bahwa Oasis, melalui musiknya, telah melampaui status band populer: mereka adalah simbol solidaritas. Analisis semacam ini membuat buku bukan sekadar bacaan musik, tetapi juga catatan sosial.
Yang menarik adalah perhatian yang diberikan pada B-sides. Lagu-lagu seperti The Masterplan, Acquiesce, atau Talk Tonight mendapatkan ruang serius. Padahal, bagi banyak band, B-sides hanyalah “sisa” rekaman. Namun bagi Oasis, B-sides justru menjadi bagian integral dari mitologi mereka. Buku ini menegaskan bahwa memahami Oasis tanpa mendengarkan B-sides adalah kehilangan separuh kisahnya.
Secara metodologis, penulis menggunakan kombinasi wawancara lama, arsip media, serta analisis musik. Mereka tidak hanya menyalin cerita lama, tetapi juga menafsirkannya ulang dengan konteks masa kini. Misalnya, bagaimana Wonderwall kini lebih dikenal sebagai meme di TikTok daripada sebagai hit Britpop tahun 1995. Atau bagaimana Champagne Supernova tetap memikat meski liriknya absurd, karena kekuatan emosionalnya melampaui logika.
Signifikansi Buku
Signifikansi A Sound So Very Loud tidak hanya terletak pada isi, tetapi juga pada posisinya dalam wacana musik populer. Buku ini muncul di tengah kebutuhan akan narasi baru tentang Oasis, di luar biografi standar atau gosip tabloid. Ia menjadi jembatan antara studi musik serius dengan fandom populer.
Pertama, buku ini penting karena mengangkat kembali Oasis ke panggung akademik. Selama ini, kajian tentang Britpop sering kali menempatkan Blur sebagai representasi “intelektual” kelas menengah, sementara Oasis dianggap “band rakyat” yang kasar. A Sound So Very Loud menantang dikotomi itu dengan menunjukkan kedalaman lirik, struktur musikal, dan dampak sosial Oasis. Dengan demikian, Oasis tidak lagi sekadar ikon budaya pop, tetapi juga subjek kajian yang sah.
Kedua, buku ini berfungsi sebagai alat nostalgia yang cerdas. Banyak karya tentang Oasis cenderung jatuh pada glorifikasi atau fanboyism. Namun buku ini, meski jelas ditulis dengan cinta, tetap menjaga jarak kritis. Ia bisa mengakui kelemahan Oasis seperti album yang lemah, eksperimen yang gagal, bahkan arogansi yang merugikan meskipun tanpa kehilangan rasa kagum terhadap pencapaian mereka. Sikap ini membuat buku bisa dinikmati baik oleh penggemar fanatik maupun pembaca awam yang ingin memahami fenomena.
Ketiga, buku ini relevan karena terbit berdekatan dengan reuni Oasis 2025. Konteks ini membuat buku bukan hanya catatan masa lalu, tetapi juga kerangka untuk membaca masa kini. Ia memberi bahasa bagi pengalaman yang akan (atau sedang) dirasakan oleh jutaan orang ketika menyaksikan Oasis kembali ke panggung. Membaca buku ini sebelum menonton konser reuni seperti membaca naskah drama sebelum menonton pementasannya: memperkaya pengalaman, memberi lapisan makna tambahan.
Akhirnya, A Sound So Very Loud mengingatkan kita bahwa musik populer adalah teks yang bisa dibaca dengan serius. Lagu bukan hanya hiburan, tetapi juga dokumen sosial. Dalam hal ini, Oasis adalah teks yang sangat kaya: tentang kelas, tentang keluarga, tentang mimpi, dan tentang suara nyaring yang menolak untuk diredam. Buku ini, dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, berhasil menangkap nyaringnya suara itu, dan mewariskannya pada generasi berikutnya.
Reuni Oasis 2025 dan Hubungannya dengan Buku A Sound So Very Loud.
Reuni Oasis tahun 2025 bukan sekadar pengumuman tur band yang lama vakum. Ia adalah peristiwa budaya global yang resonansinya melampaui musik itu sendiri. Dari headline media arus utama hingga diskusi panjang di forum penggemar, reuni ini disambut bak momen bersejarah, bahkan seperti sebuah kepulangan yang telah ditunggu selama lebih dari 15 tahun.
Bagi banyak orang, Oasis bukan hanya sekumpulan lagu. Mereka adalah bagian dari identitas generasi 1990-an: anak-anak kelas pekerja yang melihat Liam dan Noel Gallagher sebagai representasi nyata dari mimpi rock ’n’ roll. Oasis bukan band yang datang dari sekolah musik elite, melainkan dari jalanan Burnage, Manchester, suatu daerah yang mencerminkan kerasnya hidup di Inggris utara. Dengan kata lain, Oasis bukan hanya fenomena musikal, tetapi juga sosial.
Ketika band ini bubar pada 2009 setelah perseteruan puncak antar saudara Gallagher, publik merasa kehilangan lebih dari sekadar musik. Mereka kehilangan simbol. Reuni 2025 pun menjadi kesempatan bagi jutaan penggemar untuk menutup lingkaran itu: menghadirkan kembali Oasis tidak hanya sebagai nostalgia, tetapi sebagai peristiwa budaya yang menyatukan berbagai generasi.
Buku A Sound So Very Loud menegaskan bahwa Oasis selalu lebih besar dari sekadar catatan musik. Setiap lagu dalam katalog mereka adalah fragmen identitas budaya Inggris. Maka, ketika Oasis kembali, yang hadir bukan sekadar konser, melainkan sebuah peristiwa kultural: pengingat akan masa ketika musik bisa menjadi simbol solidaritas, optimisme, dan bahkan perlawanan terhadap hegemoni budaya Amerika pada era grunge.
Lagu-Lagu sebagai Pusat Reuni.
Dalam setiap pembahasan tentang Oasis, lagu-lagu mereka selalu menjadi pusat gravitasi. Tidak heran, reuni 2025 lebih dari sekadar kembalinya dua saudara di panggung, ia adalah kembalinya sebuah katalog musik yang telah membentuk kehidupan jutaan orang.
Buku A Sound So Very Loud sangat membantu memahami hal ini. Dengan menganalisis 50 lagu kunci dari karier Oasis, Kessler dan MacBain tidak hanya membedah aspek teknis, tetapi juga makna emosional yang melekat. Ketika lagu-lagu itu kembali dimainkan di panggung reuni, konteks yang dibangun buku tersebut membuat pengalaman mendengarnya jadi lebih dalam.
Misalnya, Live Forever. Lagu ini, menurut buku, adalah manifesto Noel Gallagher terhadap pesimisme generasi grunge. Ketika dimainkan di reuni, ia bukan sekadar anthem lama, melainkan deklarasi bahwa Oasis dan para penggemarnya masih hidup, masih percaya pada semangat itu. Begitu pula Don’t Look Back in Anger, yang sudah lama menjadi semacam lagu kebangsaan alternatif di Inggris. Saat Noel menyanyikannya di depan ribuan orang, dengan paduan suara massal dari penonton, pengalaman itu seakan menegaskan kembali peran Oasis sebagai “soundtrack kehidupan kolektif.”
Lalu ada Acquiesce, yang dalam buku disebut sebagai simbol persaudaraan Gallagher. Lagu ini unik karena vokal utama dibawakan Liam, sementara Noel mengisi chorus. Pesannya jelas: mereka membutuhkan satu sama lain. Tidak heran jika di panggung reuni, lagu ini menjadi titik klimaks emosional, juga sebagai simbol rekonsiliasi meski mungkin hanya sebatas panggung.
Bahkan B-sides seperti The Masterplan atau Talk Tonight ikut mendapat ruang. Buku menekankan betapa lagu-lagu yang dulunya hanya dianggap “tambahan” justru memperkaya mitologi Oasis. Reuni memberi kesempatan untuk menghadirkan kembali harta karun itu, memperlakukan katalog Oasis sebagai “ensiklopedia hidup” yang bisa dinyanyikan bersama-sama.
Dengan demikian, lagu-lagu bukan hanya bahan bakar konser, tetapi juga jembatan antara buku dan peristiwa reuni. Apa yang dalam A Sound So Very Loud dibaca dengan mata, dalam reuni bisa dialami dengan telinga dan tubuh.
Persaudaraan Gallagher di Panggung.
Jika ada satu hal yang membedakan Oasis dari band Britpop lain, itu adalah drama keluarga di inti band ini. Liam dan Noel Gallagher bukan sekadar rekan kerja; mereka saudara kandung dengan hubungan penuh cinta dan konflik. Sejarah Oasis pada dasarnya adalah sejarah persaudaraan itu, dengan segala keajaiban dan kehancurannya.
Buku A Sound So Very Loud mencatat bagaimana Liam dan Noel saling melengkapi sekaligus bertabrakan. Liam dengan suara garang dan persona bintang rock, Noel dengan otoritas musikal dan keterampilan menulis lagu. Ketegangan antara keduanya menghasilkan karya yang luar biasa, tetapi juga menanamkan bom waktu yang akhirnya meledak di Paris tahun 2009.
Reuni 2025 menghadirkan kembali drama itu di panggung. Tentu, tidak ada jaminan mereka sepenuhnya berdamai dalam kehidupan pribadi. Namun, di mata publik, berdirinya Liam dan Noel berdampingan di panggung adalah simbol rekonsiliasi.
Lagu Acquiesce menjadi contoh paling nyata. Noel menulisnya sebagai refleksi bahwa meskipun mereka sering bertengkar, mereka saling membutuhkan. Ketika dimainkan di reuni, pesan itu terasa hidup: Liam dan Noel mungkin masih berjarak, tetapi dalam musik, mereka satu.
Pembagian lagu juga menambah lapisan drama. Liam biasanya membuka dengan Rock ’n’ Roll Star atau Morning Glory, menegaskan posisinya sebagai wajah Oasis. Noel kemudian mengambil alih dengan Don’t Look Back in Anger, menghadirkan sisi reflektif. Publik menyaksikan dua persona ini saling mengisi, saling menegaskan identitas Oasis yang tidak mungkin berdiri hanya dengan salah satunya.
Lebih dari itu, banyak lagu bisa dibaca sebagai “dialog” antara keduanya. Talk Tonight adalah curhat Noel tentang masa rapuhnya; Live Forever bisa dipahami sebagai komitmen keduanya untuk menjaga musik ini tetap abadi. Di panggung reuni, lagu-lagu ini menjadi bahasa simbolis: cara mereka berbicara satu sama lain tanpa perlu benar-benar mengucapkan kata-kata.
Yang membuat momen ini semakin kuat adalah kehadiran publik sebagai saksi. Sejak awal, drama Gallagher selalu konsumsi media. Fans melihat pertengkaran mereka di tabloid, wawancara, bahkan Twitter. Reuni membalik skenario: bukan lagi konflik yang ditonton, melainkan kebersamaan. Dan itu terasa melegakan.
Dengan demikian, reuni bukan hanya peristiwa musik, tetapi juga epilog emosional dari saga Gallagher. Epilog ini ditulis ulang setiap malam di panggung, penuh kemungkinan, penuh ketegangan, tetapi selalu menyisakan harmoni ketika musik dimulai.
Reuni dan Tren Nostalgia
Reuni Oasis 2025 juga harus dibaca dalam konteks yang lebih luas: tren global nostalgia. Sejak 2010-an, industri musik dipenuhi kembalinya band-band lama. Stone Roses, Blur, Pulp, bahkan band-band Amerika seperti Smashing Pumpkins atau Green Day yang memainkan ulang album klasik.
Namun, Oasis berbeda. Mereka adalah mitologi yang “terputus” secara brutal pada 2009. Tidak ada perpisahan manis, tidak ada tur perpisahan yang panjang, hanya sebuah pertengkaran di belakang panggung yang menghancurkan segalanya. Itulah sebabnya, reuni mereka terasa lebih monumental.
Buku A Sound So Very Loud sudah memberi petunjuk akan daya nostalgia ini. Setiap ulasan lagu dalam buku adalah perjalanan kembali ke masa ketika Oasis berada di puncak dunia. Dengan membaca, penggemar diajak mengingat bagaimana rasanya pertama kali mendengar Wonderwall di radio, atau ketika menyanyikan Champagne Supernova dalam konser. Nostalgia itu kini terwujud dalam tubuh nyata: dalam teriakan penonton, dalam gemuruh stadion.
Menariknya, tren ini tidak hanya menghidupkan kembali generasi lama, tetapi juga memperkenalkan Oasis kepada generasi baru. Platform seperti TikTok telah membuat Wonderwall menjadi semacam anthem global. Banyak remaja mengenal Oasis bukan lewat CD atau kaset, melainkan lewat 15 detik video. Reuni memberi mereka kesempatan untuk mengalami Oasis secara penuh, sementara buku memberi mereka konteks sejarah dan kedalaman yang mungkin tidak bisa mereka dapat dari algoritma digital.
Selain itu, ada pula kebangkitan konsumsi fisik, terutama vinyl. Album Definitely Maybe dan Morning Glory kembali masuk tangga penjualan vinyl di Inggris. Buku A Sound So Very Loud berfungsi paralel: ia adalah “artefak fisik” yang bisa dikoleksi. Bersama dengan konser, keduanya membentuk triad nostalgia: digital, fisik, dan performatif.
Jika dibandingkan dengan band lain, Oasis berada di level tersendiri. Blur, Stone Roses, atau Pulp mungkin punya nilai nostalgia, tetapi tidak ada yang memiliki drama saudara Gallagher. Itu membuat Oasis bukan hanya bagian dari tren nostalgia, melainkan puncaknya. Mereka tidak sekadar kembali untuk “main lagu lama,” tetapi untuk menutup mitologi dengan epilog emosional.
Tentu, reuni ini juga bisnis besar. Tiket konser terjual habis dalam hitungan menit, merchandise melesat, dan katalog lama kembali naik di platform musik online. Namun, melihat reuni hanya sebagai bisnis akan mereduksi maknanya. Lebih tepat menyebutnya sebagai ritual budaya: momen ketika puluhan ribu orang berkumpul untuk merayakan identitas bersama. Dalam ritual itu, A Sound So Very Loud menjadi semacam kitab persiapan, memperdalam makna setiap lagu yang dinyanyikan.
Pada akhirnya, Oasis dalam reuni ini bukan hanya nostalgia, tetapi bukti bahwa musik bisa hidup lebih lama daripada konflik personal. Mereka adalah band yang lahir dari Manchester, meledak ke dunia
Comments