Skip to main content

A Sound So Very Loud: Menelisik Oasis Melalui Teks

A Sound So Very Loud: Menelisik Oasis Melalui Teks

 

Ketika bicara tentang Oasis, kita tidak hanya bicara tentang sebuah band asal Manchester, tetapi juga tentang sebuah era yang dirangkum dalam suara gitar, suara dan jokes khas Liam Gallagher, serta ambisi besar Noel Gallagher. Dan di tengah gelombang nostalgia serta reuni yang kini marak menjadi sorotan, hadir sebuah karya yang menjadi semacam panduan baru bagi penggemar Oasis: Oasis: A Sound So Very Loud, buku yang ditulis oleh Daniel Rachel Kessler dan MacBain.

 

 

Buku ini, dengan pendekatan kritis sekaligus penuh cinta, berfokus pada 50 lagu kunci yang membentuk karier Oasis. Alih-alih menulis biografi linear, penulis memilih untuk membuat antologi analisis: tiap lagu dibedah dari sisi musikal, lirik, konteks sejarah, serta dampaknya pada kultur populer. Hasilnya adalah perjalanan yang kaya, yang memungkinkan pembaca memahami Oasis tidak hanya sebagai band yang besar, tetapi juga sebagai fenomena budaya.

 

 

Mengapa buku ini penting? Karena sejak bubarnya Oasis pada 2009, banyak narasi yang berserakan: biografi resmi, gosip tabloid, wawancara terpecah, hingga dokumenter visual. Namun, A Sound So Very Loud mencoba mengikat serpihan-serpihan itu dalam bentuk yang berbeda. Ia bukan catatan sejarah yang “dingin”, melainkan sebuah tafsir, sebuah penelusuran yang mendekati esensi: apa yang membuat Oasis begitu nyaring, begitu keras, hingga tetap menggema setelah dua dekade?

 

 

Di sinilah relevansinya menjadi jelas. Buku ini hadir bukan sekadar untuk penggemar lama yang ingin bernostalgia, tetapi juga untuk generasi baru yang mengenal Oasis lewat playlist platform musik atau video TikTok. Mereka mungkin tahu Wonderwall atau Live Forever sebagai suatu slogan, tetapi lewat buku ini, mereka bisa memahami kenapa lagu itu menjadi semacam anthem global. Mereka mungkin menyanyikan Don’t Look Back in Anger di stadion, tetapi lewat buku ini mereka bisa menelusuri akar emosional dan sejarah yang membuat lagu itu begitu abadi.

 

 

Kelahiran buku ini juga bertepatan dengan meningkatnya minat global terhadap reuni band besar. Blur sudah kembali, Pulp sudah kembali, bahkan Stone Roses sempat kembali. Dan kini, Oasis pun kembali dengan tur reuni 2025. Maka, A Sound So Very Loud terasa seperti prolog intelektual dan emosional bagi momen besar itu. Ia bukan hanya catatan masa lalu, tetapi juga panduan untuk memahami mengapa reuni ini begitu penting.

 

 

Lebih jauh lagi, buku ini menyadarkan kita bahwa membicarakan Oasis tidak pernah sekadar tentang musik. Ia selalu tentang kelas sosial, tentang identitas, tentang politik budaya Inggris. Oasis bukan hanya suatu band, Manchester City, tetapi juga suara kelas pekerja yang ingin didengar. Maka, buku ini, dalam formatnya yang unik, menjadi cermin dari kenyataan itu: sebuah “Sound So Very Loud” yang bukan sekadar buku biografi, melainkan sosiologis.

 

 

Isi Buku

 

Buku Oasis: A Sound So Very Loud disusun dengan struktur yang sederhana namun efektif: 50 lagu Oasis dipilih sebagai fondasi. Masing-masing lagu mendapat bab khusus, yang tidak hanya berisi deskripsi teknis, tetapi juga konteks personal, sosial, dan historis. Dengan format ini, buku menjadi semacam jukebox literer, pembaca bisa memulai dari mana saja, memilih lagu yang paling mereka sukai, lalu larut dalam analisisnya.

 

 

Setiap bab dimulai dengan latar belakang penulisan lagu: kapan Noel Gallagher menulisnya, bagaimana proses rekamannya, siapa saja yang terlibat, serta detail teknis yang sering kali menjadi trivia menarik bagi penggemar. Namun, kekuatan utama buku ini bukan pada trivia, melainkan pada kemampuannya menarik benang merah antara lagu dan zeitgeist.

 

 

Contohnya adalah bab tentang Live Forever. Penulis menekankan bagaimana lagu ini lahir sebagai antitesis terhadap nihilisme grunge Amerika. Jika Kurt Cobain menulis I Hate Myself and Want to Die, Noel Gallagher justru menulis Maybe I don’t really wanna know / how your garden grows.” Pesan optimisme yang sederhana, namun radikal pada masanya, membuat Live Forever menjadi anthem bukan hanya di Inggris, tetapi di seluruh dunia. Buku ini menempatkan lagu tersebut sebagai semacam deklarasi ideologis: bahwa Oasis tidak hanya mengikuti tren, tetapi melawannya.

 

 

Bab tentang Don’t Look Back in Anger juga mendapat sorotan khusus. Buku ini menyinggung bagaimana lagu itu kemudian menjadi semacam “lagu kebangsaan alternatif” Inggris, terutama setelah tragedi bom Manchester Arena 2017. Momen ketika ribuan orang menyanyikan lagu itu bersama-sama menjadi bukti bahwa Oasis, melalui musiknya, telah melampaui status band populer: mereka adalah simbol solidaritas. Analisis semacam ini membuat buku bukan sekadar bacaan musik, tetapi juga catatan sosial.

 

 

Yang menarik adalah perhatian yang diberikan pada B-sides. Lagu-lagu seperti The Masterplan, Acquiesce, atau Talk Tonight mendapatkan ruang serius. Padahal, bagi banyak band, B-sides hanyalah “sisa” rekaman. Namun bagi Oasis, B-sides justru menjadi bagian integral dari mitologi mereka. Buku ini menegaskan bahwa memahami Oasis tanpa mendengarkan B-sides adalah kehilangan separuh kisahnya.

 

 

Secara metodologis, penulis menggunakan kombinasi wawancara lama, arsip media, serta analisis musik. Mereka tidak hanya menyalin cerita lama, tetapi juga menafsirkannya ulang dengan konteks masa kini. Misalnya, bagaimana Wonderwall kini lebih dikenal sebagai meme di TikTok daripada sebagai hit Britpop tahun 1995. Atau bagaimana Champagne Supernova tetap memikat meski liriknya absurd, karena kekuatan emosionalnya melampaui logika.

 

Signifikansi Buku

 

Signifikansi A Sound So Very Loud tidak hanya terletak pada isi, tetapi juga pada posisinya dalam wacana musik populer. Buku ini muncul di tengah kebutuhan akan narasi baru tentang Oasis, di luar biografi standar atau gosip tabloid. Ia menjadi jembatan antara studi musik serius dengan fandom populer.

 

 

Pertama, buku ini penting karena mengangkat kembali Oasis ke panggung akademik. Selama ini, kajian tentang Britpop sering kali menempatkan Blur sebagai representasi “intelektual” kelas menengah, sementara Oasis dianggap “band rakyat” yang kasar. A Sound So Very Loud menantang dikotomi itu dengan menunjukkan kedalaman lirik, struktur musikal, dan dampak sosial Oasis. Dengan demikian, Oasis tidak lagi sekadar ikon budaya pop, tetapi juga subjek kajian yang sah.

 

 

Kedua, buku ini berfungsi sebagai alat nostalgia yang cerdas. Banyak karya tentang Oasis cenderung jatuh pada glorifikasi atau fanboyism. Namun buku ini, meski jelas ditulis dengan cinta, tetap menjaga jarak kritis. Ia bisa mengakui kelemahan Oasis seperti album yang lemah, eksperimen yang gagal, bahkan arogansi yang merugikan meskipun tanpa kehilangan rasa kagum terhadap pencapaian mereka. Sikap ini membuat buku bisa dinikmati baik oleh penggemar fanatik maupun pembaca awam yang ingin memahami fenomena.

 

 

Ketiga, buku ini relevan karena terbit berdekatan dengan reuni Oasis 2025. Konteks ini membuat buku bukan hanya catatan masa lalu, tetapi juga kerangka untuk membaca masa kini. Ia memberi bahasa bagi pengalaman yang akan (atau sedang) dirasakan oleh jutaan orang ketika menyaksikan Oasis kembali ke panggung. Membaca buku ini sebelum menonton konser reuni seperti membaca naskah drama sebelum menonton pementasannya: memperkaya pengalaman, memberi lapisan makna tambahan.

 

 

Akhirnya, A Sound So Very Loud mengingatkan kita bahwa musik populer adalah teks yang bisa dibaca dengan serius. Lagu bukan hanya hiburan, tetapi juga dokumen sosial. Dalam hal ini, Oasis adalah teks yang sangat kaya: tentang kelas, tentang keluarga, tentang mimpi, dan tentang suara nyaring yang menolak untuk diredam. Buku ini, dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, berhasil menangkap nyaringnya suara itu, dan mewariskannya pada generasi berikutnya.

 

 

Reuni Oasis 2025 dan Hubungannya dengan Buku A Sound So Very Loud.

 

 

Reuni Oasis tahun 2025 bukan sekadar pengumuman tur band yang lama vakum. Ia adalah peristiwa budaya global yang resonansinya melampaui musik itu sendiri. Dari headline media arus utama hingga diskusi panjang di forum penggemar, reuni ini disambut bak momen bersejarah, bahkan seperti sebuah kepulangan yang telah ditunggu selama lebih dari 15 tahun.

 

 

Bagi banyak orang, Oasis bukan hanya sekumpulan lagu. Mereka adalah bagian dari identitas generasi 1990-an: anak-anak kelas pekerja yang melihat Liam dan Noel Gallagher sebagai representasi nyata dari mimpi rock ’n’ roll. Oasis bukan band yang datang dari sekolah musik elite, melainkan dari jalanan Burnage, Manchester, suatu daerah yang mencerminkan kerasnya hidup di Inggris utara. Dengan kata lain, Oasis bukan hanya fenomena musikal, tetapi juga sosial.

 

 

Ketika band ini bubar pada 2009 setelah perseteruan puncak antar saudara Gallagher, publik merasa kehilangan lebih dari sekadar musik. Mereka kehilangan simbol. Reuni 2025 pun menjadi kesempatan bagi jutaan penggemar untuk menutup lingkaran itu: menghadirkan kembali Oasis tidak hanya sebagai nostalgia, tetapi sebagai peristiwa budaya yang menyatukan berbagai generasi.

 

 

Buku A Sound So Very Loud menegaskan bahwa Oasis selalu lebih besar dari sekadar catatan musik. Setiap lagu dalam katalog mereka adalah fragmen identitas budaya Inggris. Maka, ketika Oasis kembali, yang hadir bukan sekadar konser, melainkan sebuah peristiwa kultural: pengingat akan masa ketika musik bisa menjadi simbol solidaritas, optimisme, dan bahkan perlawanan terhadap hegemoni budaya Amerika pada era grunge.

 

 

Lagu-Lagu sebagai Pusat Reuni.

 

 

Dalam setiap pembahasan tentang Oasis, lagu-lagu mereka selalu menjadi pusat gravitasi. Tidak heran, reuni 2025 lebih dari sekadar kembalinya dua saudara di panggung, ia adalah kembalinya sebuah katalog musik yang telah membentuk kehidupan jutaan orang.

 

 

Buku A Sound So Very Loud sangat membantu memahami hal ini. Dengan menganalisis 50 lagu kunci dari karier Oasis, Kessler dan MacBain tidak hanya membedah aspek teknis, tetapi juga makna emosional yang melekat. Ketika lagu-lagu itu kembali dimainkan di panggung reuni, konteks yang dibangun buku tersebut membuat pengalaman mendengarnya jadi lebih dalam.

 

 

Misalnya, Live Forever. Lagu ini, menurut buku, adalah manifesto Noel Gallagher terhadap pesimisme generasi grunge. Ketika dimainkan di reuni, ia bukan sekadar anthem lama, melainkan deklarasi bahwa Oasis dan para penggemarnya masih hidup, masih percaya pada semangat itu. Begitu pula Don’t Look Back in Anger, yang sudah lama menjadi semacam lagu kebangsaan alternatif di Inggris. Saat Noel menyanyikannya di depan ribuan orang, dengan paduan suara massal dari penonton, pengalaman itu seakan menegaskan kembali peran Oasis sebagai “soundtrack kehidupan kolektif.”

 

 

Lalu ada Acquiesce, yang dalam buku disebut sebagai simbol persaudaraan Gallagher. Lagu ini unik karena vokal utama dibawakan Liam, sementara Noel mengisi chorus. Pesannya jelas: mereka membutuhkan satu sama lain. Tidak heran jika di panggung reuni, lagu ini menjadi titik klimaks emosional, juga sebagai simbol rekonsiliasi meski mungkin hanya sebatas panggung.

 

 

Bahkan B-sides seperti The Masterplan atau Talk Tonight ikut mendapat ruang. Buku menekankan betapa lagu-lagu yang dulunya hanya dianggap “tambahan” justru memperkaya mitologi Oasis. Reuni memberi kesempatan untuk menghadirkan kembali harta karun itu, memperlakukan katalog Oasis sebagai “ensiklopedia hidup” yang bisa dinyanyikan bersama-sama.

 

 

Dengan demikian, lagu-lagu bukan hanya bahan bakar konser, tetapi juga jembatan antara buku dan peristiwa reuni. Apa yang dalam A Sound So Very Loud dibaca dengan mata, dalam reuni bisa dialami dengan telinga dan tubuh.

 

 

Persaudaraan Gallagher di Panggung.

 

 

Jika ada satu hal yang membedakan Oasis dari band Britpop lain, itu adalah drama keluarga di inti band ini. Liam dan Noel Gallagher bukan sekadar rekan kerja; mereka saudara kandung dengan hubungan penuh cinta dan konflik. Sejarah Oasis pada dasarnya adalah sejarah persaudaraan itu, dengan segala keajaiban dan kehancurannya.

 

 

Buku A Sound So Very Loud mencatat bagaimana Liam dan Noel saling melengkapi sekaligus bertabrakan. Liam dengan suara garang dan persona bintang rock, Noel dengan otoritas musikal dan keterampilan menulis lagu. Ketegangan antara keduanya menghasilkan karya yang luar biasa, tetapi juga menanamkan bom waktu yang akhirnya meledak di Paris tahun 2009.

 

 

Reuni 2025 menghadirkan kembali drama itu di panggung. Tentu, tidak ada jaminan mereka sepenuhnya berdamai dalam kehidupan pribadi. Namun, di mata publik, berdirinya Liam dan Noel berdampingan di panggung adalah simbol rekonsiliasi.

 

 

Lagu Acquiesce menjadi contoh paling nyata. Noel menulisnya sebagai refleksi bahwa meskipun mereka sering bertengkar, mereka saling membutuhkan. Ketika dimainkan di reuni, pesan itu terasa hidup: Liam dan Noel mungkin masih berjarak, tetapi dalam musik, mereka satu.

 

 

Pembagian lagu juga menambah lapisan drama. Liam biasanya membuka dengan Rock ’n’ Roll Star atau Morning Glory, menegaskan posisinya sebagai wajah Oasis. Noel kemudian mengambil alih dengan Don’t Look Back in Anger, menghadirkan sisi reflektif. Publik menyaksikan dua persona ini saling mengisi, saling menegaskan identitas Oasis yang tidak mungkin berdiri hanya dengan salah satunya.

 

 

Lebih dari itu, banyak lagu bisa dibaca sebagai “dialog” antara keduanya. Talk Tonight adalah curhat Noel tentang masa rapuhnya; Live Forever bisa dipahami sebagai komitmen keduanya untuk menjaga musik ini tetap abadi. Di panggung reuni, lagu-lagu ini menjadi bahasa simbolis: cara mereka berbicara satu sama lain tanpa perlu benar-benar mengucapkan kata-kata.

 

 

Yang membuat momen ini semakin kuat adalah kehadiran publik sebagai saksi. Sejak awal, drama Gallagher selalu konsumsi media. Fans melihat pertengkaran mereka di tabloid, wawancara, bahkan Twitter. Reuni membalik skenario: bukan lagi konflik yang ditonton, melainkan kebersamaan. Dan itu terasa melegakan.

 

 

Dengan demikian, reuni bukan hanya peristiwa musik, tetapi juga epilog emosional dari saga Gallagher. Epilog ini ditulis ulang setiap malam di panggung, penuh kemungkinan, penuh ketegangan, tetapi selalu menyisakan harmoni ketika musik dimulai.

 

 

Reuni dan Tren Nostalgia

 

 

Reuni Oasis 2025 juga harus dibaca dalam konteks yang lebih luas: tren global nostalgia. Sejak 2010-an, industri musik dipenuhi kembalinya band-band lama. Stone Roses, Blur, Pulp, bahkan band-band Amerika seperti Smashing Pumpkins atau Green Day yang memainkan ulang album klasik.

 

 

Namun, Oasis berbeda. Mereka adalah mitologi yang “terputus” secara brutal pada 2009. Tidak ada perpisahan manis, tidak ada tur perpisahan yang panjang, hanya sebuah pertengkaran di belakang panggung yang menghancurkan segalanya. Itulah sebabnya, reuni mereka terasa lebih monumental.

 

 

Buku A Sound So Very Loud sudah memberi petunjuk akan daya nostalgia ini. Setiap ulasan lagu dalam buku adalah perjalanan kembali ke masa ketika Oasis berada di puncak dunia. Dengan membaca, penggemar diajak mengingat bagaimana rasanya pertama kali mendengar Wonderwall di radio, atau ketika menyanyikan Champagne Supernova dalam konser. Nostalgia itu kini terwujud dalam tubuh nyata: dalam teriakan penonton, dalam gemuruh stadion.

 

 

Menariknya, tren ini tidak hanya menghidupkan kembali generasi lama, tetapi juga memperkenalkan Oasis kepada generasi baru. Platform seperti TikTok telah membuat Wonderwall menjadi semacam anthem global. Banyak remaja mengenal Oasis bukan lewat CD atau kaset, melainkan lewat 15 detik video. Reuni memberi mereka kesempatan untuk mengalami Oasis secara penuh, sementara buku memberi mereka konteks sejarah dan kedalaman yang mungkin tidak bisa mereka dapat dari algoritma digital.

 

 

Selain itu, ada pula kebangkitan konsumsi fisik, terutama vinyl. Album Definitely Maybe dan Morning Glory kembali masuk tangga penjualan vinyl di Inggris. Buku A Sound So Very Loud berfungsi paralel: ia adalah “artefak fisik” yang bisa dikoleksi. Bersama dengan konser, keduanya membentuk triad nostalgia: digital, fisik, dan performatif.

 

 

Jika dibandingkan dengan band lain, Oasis berada di level tersendiri. Blur, Stone Roses, atau Pulp mungkin punya nilai nostalgia, tetapi tidak ada yang memiliki drama saudara Gallagher. Itu membuat Oasis bukan hanya bagian dari tren nostalgia, melainkan puncaknya. Mereka tidak sekadar kembali untuk “main lagu lama,” tetapi untuk menutup mitologi dengan epilog emosional.

 

 

Tentu, reuni ini juga bisnis besar. Tiket konser terjual habis dalam hitungan menit, merchandise melesat, dan katalog lama kembali naik di platform musik online. Namun, melihat reuni hanya sebagai bisnis akan mereduksi maknanya. Lebih tepat menyebutnya sebagai ritual budaya: momen ketika puluhan ribu orang berkumpul untuk merayakan identitas bersama. Dalam ritual itu, A Sound So Very Loud menjadi semacam kitab persiapan, memperdalam makna setiap lagu yang dinyanyikan.

 

 

Pada akhirnya, Oasis dalam reuni ini bukan hanya nostalgia, tetapi bukti bahwa musik bisa hidup lebih lama daripada konflik personal. Mereka adalah band yang lahir dari Manchester, meledak ke dunia

 

Comments

Be the first to comment.

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.
Thanks for contacting us! We'll get back to you shortly. Thanks for subscribing Thanks! We will notify you when it becomes available! The max number of items have already been added There is only one item left to add to the cart There are only [num_items] items left to add to the cart