Dead Man’s Shoes: Movie Review

Dead Man’s Shoes: Movie Review

 

Dead Man's Shoes adalah salah satu film thriller psikologis Inggris tahun 2004 yang disutradarai oleh Shane Meadows, yang juga ikut menulis bersama Paul Fraser dan Paddy Considine, yang membintangi peran utama dalam film ini. Film yang dibintangi oleh Toby Kebbell, Gary Stretch dan Stuart Wolfenden ini memiliki kisah dan alur cerita yang sangat menarik. Film yang dirilis di Britania Raya pada 1 Oktober 2004 dan di Amerika Serikat pada 12 Mei 2006 menarik banyak perhatian para pecinta film. Tidak butuh waktu lama bagi Shane Meadows untuk menyuguhkan kisah nyata dibalik film Dead Man’s Shoe ini, ia hanya membutuhkan waktu tiga minggu pada musim panas tahun 2003 untuk mempertontonkan kisah dari seorang mantan militer yang sangat menyayangi adiknya.

 

 

Shane Meadows, pria yang lahir pada 26 Desember 1972 di Ultoxeter, Staffordshire, Inggris ini menjadi nama yang sudah tidak asing lagi dalam dunia perfilman di Inggris. Beberapa film yang ia produksi seperti A Room for Romeo Brass, Somers Town, Twenty Four Seven, Once Upon A Time in the Midlands, Small Time, The Stone Roses: Made of Stone, This Is England dan Dead Man’s Shoes yang menjadikan namanya menjadi salah satu director yang memiliki nama yang cukup mentereng di dunia perfilman.

 

Brotherhood, bullying, balas dendam dan darah menjadi sedikit gambaran dari film yang diperankan oleh Paddy Considine yang berperan sebagai Richard mantan militer pada saat itu yang juga kakak kandung dari Anthony pemuda yang memiliki keterbelakangan mental. Film ini menceritakan tentang kembalinya Richard ke kota asalnya di Matlock, Derbyshire di Peak District, Inggris, setelah bertugas sebagai penerjun payung bagi Militer Inggris. Richard dan adik laki-lakinya yang menderita gangguan mental, Anthony, tinggal di sebuah perkebunan yang tidak terurus. Kilas balik mengungkap pelecehan terhadap Anthony oleh sekelompok pengedar narkoba di kota Richard bersumpah untuk membalas dendam atas apa yang dilakukan oleh sekelompok pengedar narkoba tersebut. Perjalanan balas dendam yang dilakukan dalam waktu hanya lima hari saja, mungkin film ini lebih cocok dengan judul five days of madness haha.

 

 

Richard melakukan teror langsung pada Herbie, salah satu pelaku bullying pada Anthony, yang awalnya tidak mengenalinya. Pada saat itu, Herbie dan teman-temannya Soz dan Tuff berada di rumah susun dan mereka sedang mengonsumsi narkoba. Herbie memberi tahu kedua temannya tentang teror tersebut, dan ia dia berprasangka bahwa pria itu mungkin saudara Anthony, yang telah pergi bertugas sebagai tentara Inggris. Ketika Herbie meninggalkan kedua temannya, dia melihat seorang pria dengan topeng gas militer menggedor pintu depan apartemen yang mereka tempati. Soz dan Tuff lari keluar tapi pria itu tidak lama menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.

 

 

Ketika mereka kembali ke apartemen mereka, ketiga pemuda ini menemukan Richard telah menggeledah salah satu ruangan dari apartemen mereka, Richard mencuri obat-obatan dan menyemprotkan kata-kata "Cheyne Stoking", sebuah pelesetan pada nama ilmiah untuk pola pernapasan manusia saat mereka sekarat.

 

Keesokan harinya, para pemuda ini mengunjungi Sonny, pemimpin dari geng mereka, kedatangan ketiga pemuda ini bermaksud untuk menjelaskan ke mana narkoba miliknya pergi. Saat mereka bertemu, Sonny sudah mengecat wajahnya tapi ia tidak menyadarinya. Kedua anggota geng lainnya tiba pada saat Herbie, Sozz dan Tuff sedang berada dikediaman Sonny. Rambut dan pakaian mereka juga dipermalukan oleh Richard dengan cara dicat. Mereka semua mencurigai satu sama lain kalau apa yang mereka lakukan hanyalah guyon semata sampai dimana Herbie berbicara pada mereka bahwa pria yang ia lihat di ruang biliar yang juga sebuah cafe milik Sonny adalah Richard, saudara laki-laki Anthony. Semua terdiam saat mereka menyadari bahwa Richard telah kembali ke kota.

 

Para pengedar narkoba yang telah melakukan bullying pada Anthony bertemu Richard saat mengemudi di Citroën 2CV mereka. Dia menjelaskan bahwa dia tidak takut sama sekali pada Sonny dan mengundang mereka untuk datang dan menemuinya di perkebunan tua tempat dia tinggal. Geng itu pergi dengan Sonny yang tampak prihatin atas kurangnya rasa takut Richard. Malam itu, Sonny memutuskan bahwa mereka harus menghabisi Richard dengan menembaknya. Ketika salah satu anggota pergi, Richard (setelah menyelinap ke dalam rumah) secara brutal membunuhnya dengan kapak, menggunakan darah orang mati itu untuk mengoleskan kata-kata "One Down" di dinding.

 

 

Keesokan paginya, para pengedar narkoba ini mengambil mobil mereka dan pergi ke perkebunan tempat Richard tinggal bersama Anthony. Mereka memerintahkan Big Al (salah satu anggota mereka) untuk menarik Richard keluar dari tempat dimana ia berdiam diri, setelah Big Al berhasil memancing Richard keluar, Sonny bersiap diatas mobil yang mereka gunakan untuk menembak Richard dengan senapan dan satu-satunya peluru yang mereka miliki. Namun, rencana mereka gagal dan Sonny membunuh Al dengan segala kebodohannya dan tidak ada sisa peluru di senapan mereka yang membuat mereka mundur dan kembali ke kota, sementara Richard tersenyum melihat kebodoahan para pengedar narkoba tersebut.

 

Ke empat anggota yang selamat berhenti di pom bensin terdekat dan Tuff kabur, karena merasa takut akan balas dendam yang akan Richard lakukan pada mereka. Setelah mereka sampai di rumah Sonny, mereka mempersenjatai diri dan menggeledah tempat itu, berharap Richard ada di sana. Mereka tidak menemukannya, meski dia bersembunyi di pantry dapur. Saat mereka di lantai atas, Richard mengisi sebuah tempat minum mereka dengan koktail dan obat yang dia ambil dari kelompok pengedar narkoba di awal film. Ketiga pria itu menjadi mabuk total beberapa jam kemudian dan Richard muncul kembali untuk membunuh mereka satu per satu. Dia bermain-main dengan mereka, menari dan bercanda. Dia menembak Sonny di kepala, dan membunuh Soz dengan serangan telapak tangan ke atas. Dia kemudian mendudukkan Herbie dan mengeluarkan sebuah koper, yang berisi mayat Tuff di dalamnya. Richard kemudian berbicara pada Herbie dan mengatakan kepadanya bahwa dia adalah orang baik dan akan membiarkan dia hidup jika dia memberi tahu dia di mana anggota terakhir berada saat dia meninggalkan mereka bertahun-tahun sebelumnya. Herbie memberitahunya tanpa ragu-ragu dan Richard memeluknya. Tapi dia menemukan pisau Herbie dan bertanya padanya apakah itu akan digunakan padanya. Herbie berbohong pada awalnya lalu mengatakan yang sebenarnya, tetapi Richard tetap menusuknya. Richard pergi tepat setelahnya.

 

 

Keesokan harinya, Richard tiba di kota di mana anggota kelompok pengedar narkoba terakhir tinggal yaitu Mark, ia tinggal bersama istri dan dua putranya. Richard berbicara dengan ibu dari kedua anak-anak tersebut dan memintanya untuk memberi tahu suaminya bahwa dia adalah Richard, saudara kandung Anthony. Ketika Mark kembali ke rumah, dia (istri Mark) menjelaskan percakapan tersebut kepada suaminya. Karena ketakutan, Mark menceritakan bagaimana ia dan teman-temannya melecehkan Anthony. Pelecehan itu memuncak dengan mereka berpura-pura menggantungnya di reruntuhan kastil setempat saat ia mabuk yang diakibatkan dari mengkonsumsi acid. Scene terakhir yang menggambarkan pelecehan ini memuncak dengan Anthony benar-benar gantung diri setelah sekelompok pengedar narkoba ini meninggalkannya.

 

Scene tersebut menegaskan bahwa sebenarnya Richard sendirian sepanjang waktu film ini dimulai, dan hanya melakukan perbincangan dengan visi ia melakukan balas dendam atas Anthony yang sudah meninggal karena merasa depresi terhadap bullying yang ia terima.

 

 

Keesokan paginya, Richard menyelinap ke rumah Mark dan menyandera dia menggunakan pisau. Richard menyuruhnya mengemudikan mobil milik Mark untuk mengunjungi reruntuhan kastil yang sama tempat dimana Anthony gantung diri dan menuntut agar dia menceritakan perannya dalam apa yang terjadi sebenarnya. Mark menjelaskan bagaimana kesalahannya tidak menghentikan pelecehan itu. Richard mengakui kejahatannya terhadap anggota kelompok lain dengan menghabisinya, dan mengungkapkan bahwa dia menganggap Anthony memalukan baginya karena kebodohan dan kelainan mentalnya. Dia memberi tahu Mark bagaimana dia sekarang merasa seperti monster itu dan ia hanya ingin berbaring dengan saudaranya. Richard memberikan pisaunya kepada Mark dan menuntut agar dia membunuhnya agar dia tidak melanjutkan visi balas dendam yang sangat amat mengerikan. Mark menolak tapi Richard menggenggam tangannya dan menariknya ke arah Richard. Mark akhirnya menusuk dan membunuh Richard yang kemudian terjatuh berlumuran darah.

 

 

Film yang sangat menarik menurut kami, alur dan peran Richard yang diperankan oleh Paddy Considine yang berperan sebagai mantan militer berhasil menggambarkan sisi intelegensi yang sangat baik, seperti misalnya ketika Richard menyelundup dan bersembunyi ketika menjalankan misi balas dendam yang ia rencanakan.

 

Fashion juga menjadi gambaran yang sangat menarik dalam film yang digarap oleh Shane Meadows ini. Setelah disinggung dalam paragraph kedua, Shane Meadows beberapa kali menggarap film yang berbau budaya Inggris seperti misalnya This is England. Parka menjadi jaket yang terus digunakan oleh Richard dalam film psikologi thriller ini. Mungkin hal ini menggambarkan sisi militer dari Richard. Tidak hanya itu, celana jenas yang tidak dibuat ngetat dengan sepatu boots juga menjadi sesuatu yang menarik. Bila kita melihat pakaian yang dipakai oleh Anthony juga tidak kalah menarik. Perpaduan rambut pendek dengan jaket double dan trackpants menjadi sesuatu yang sangat menarik. Gas mask yang juga digunakan Richard saat melakukan teror juga dirasa menjadi sesuatu yang sangat baik digunakann oleh Richard ketika sedang melakukan teror tersebut.

 

Selain daripada itu, gambar hitam putih yang menceritakan bagaimana sekelompok pemuda yang terlibat dalam pengedaran narkoba ketika melakukan bullying terhadap Anthony pun menjadi sesuatu yang menarik dari film ini, tidak membosankan dengan cerita balas dendam yang dilakukan oleh Richard. Dua hal tersebut juga didukung oleh beberapa potongan video yang menceritakan kisah kehidupan masa kecil dari Richard dan Anthony. Satu pesan yang dapat diambil dari film ini “melakukan Bullying gak bakalan bikin kalian keren sama sekali, sama sekali!” cari hiburan lain dalam diri kalian sendiri dan lakukan semua itu dengan baik tanpa merugikan orang lain. Film yang sangat kami rekomendasikan untuk menemani waktu santai kalian, film yang sangat menarik untuk dinikmati. See u dalam movie review selanjutnya!.

 

 

Penulis: Rifqi Maulana

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.