Afiliasi Politik Dalam Sepak Bola

Afiliasi Politik Dalam Sepak Bola

Sepak bola, lagi-lagi sekarang kita ngomongin sepak bola lagi nih. Ya apalagi sih ya obrolan menarik tuh ya kalau gak sepak bola ya politik, lol. Kedua perbincangan ini memang menjadi obrolan utama khalayak luas masyarakat di dunia. Kalau ngomongin sepak bola, pasti ngmongin tim kebanggaan, rasa cinta seseorang pada suatu tim hingga sosok yang pernah membela tim tersebut, begitupula obrolan politik, sudut pandang khalayak luas pada suatu pandangan politik tertentu pasti jadi perbincangan menarik yang menjurus ke obrolan serius sampai bersi tegang yang akhirnya urat leher sama sorotan mata berubah.

Kick politics out of football? Mungkin gak sih? Ya mungkin aja sih kalo suatu tim gak jadi tim raksasa tapi, mungkin. Kalimat tersebut mungkin sering banget kita denger di era sepak bola modern hingga saat ini.  Tapi gak melulu politik sayap kanan atau sayap kiri juga sih yang bisa mempengaruhi suatu tim sepak bola, separatism juga sering hinggap dan betah banget ada di suatu tim. Mungkin hal ini terjadi karena tim sepak bola itu dibentuk oleh para elit politik yang memanfaatkan fanatisme suporter dan semangat membara yang mereka manfaatin buat memperkuat daya jual politik mereka.

Hal ini rupanya bukan hal baru dalam dunia sepak bola, sebagai salah satu permainan olah raga yang digemari oleh khalayak luas, sepak bola menjadi salah satu media bagi para penggiat sudut pandang politik tertentu. Tidak sedikit tim sepak bola dan para die hard fan nya melibatkan diri dalam suatu sudut pandang politik yang mereka yakini, supremasi, perlawanan dan perjuangan suatu politik dan keyakinan pemikiran menjadi warna yang tidak lagi baru dalam sepak bola. Berikut sedikit ulasannya.

Gerakan Sayap Kanan Italia.
Berbicara tentang sepak bola Italia, mungkin kita tidak bisa melepaskan dari masa kejayaan Tim Nasional Italia di era pemerintahan perdana menteri Benito Amilcare Andrea Mussolini atau yang biasa kita kenal dengan nama Benito Mussolini di tahun 1922-1943.

Diktator yang memiliki nama lain 'il Duce' sangat menyukai dunia sepak bola. Dia berhasil mempersatukan rakyat Italia di bawah panji 'fascio' akronim dari paham sepak bola fasis yang dieluhkan oleh Mussolini. Bukti kecintaan Mussolini dalam sepak bola adalah ketika ia berhasil membuat tim nasional Italia menjuarai Piala Dunia 1934. Tidak hanya itu, Benito Mussolini juga mencintai tim sepak bola lokal, yaitu SS Lazio.

"Mussolini kerap menyaksikan laga Lazio di tribun stadion. Ia bahkan membangun stadion baru (Stadio Olimpico) untuk Lazio, menggantikan stadion lama, Stadio del Partito Nazionale Fascista," ujar Franklin Foer dalam buku Mussolini's Team.

Awal kecintaan Mussolini terhadap SS Lazio bermula pada penampilan ciamik Silvio Piola, pencetak gol terbanyak dalam sejarah klub tersebut. Dirasa tidak mungkin jika hanya itu alasan il Duce, terbukti kaum fasis memiliki ketertarikan yang lebih kepada klub yang didirikan pada 1900 karena kekaguman mereka terhadap sang penggagas, yakni perwira militer, Luigi Bigiarelli.

Lazio memiliki ideologi Romawi yang mengacu pada kekuasaan dan kekuatan yang memiliki frekuensi yang sama dengan sudut pandang Benito Mussolini. Filosofi lainnya, simbol klub yang bergambar burung elang merupakan representasi dari pasukan Romawi masa silam yang juga di adopsi oleh Komando Militer Teritorial VIII Italia yang berbasis di Roma yang juga menggunakan lambang elang.

Sudah dapat dipastikan, pekatnya aroma militerisme dalam ideologi sayap kanan membuat Mussolini jatuh cinta kepada klub peraih dua titel Seri A Italia. Berbanding jauh dari klub rival sekota AS Roma yang sebagian besar telah dimasuki oleh para imigran Jerman dan masyarakat Naples, selatan Italia.

 

Campur tangan yang dimainkan rezim Fasis dalam ekspansi cepat dalam sepak bola terorganisir di Italia dapat dilihat paling konkret dalam perkembangan stadion sepak bola yang didanai dan dibangun langsung oleh Fasis Italia. Selain mengeringkan rawa-rawa dan membangun jalan, persediaan rezim diktator, Fasis membangun stadion sepak bola modern sebagai monumen kejayaan mereka Stadion dibangun di seluruh Italia.

Stadion "Mussolini" di Turin yang menjadi tuan rumah Pertandingan Universitas Dunia 1933, "Littoriale" di Bologna, Stadion "della Vittoria" di Bari, "Berta" di Florence, "Edda Ciano Mussolini" di Livorno, "XXVIII" Ottobre "di L'Aquila, dan" Citta dello Sport "yang dibuka di Roma pada tahun 1932. Stadion-stadion ini ditampilkan sebagai tanda keinginan fasis untuk bekerja dan mencapai kekuasaan. Stadion-stadion ini memiliki tujuan ganda, karena mereka berdua menegaskan kekuatan industri rezim fasis dan membantu sepak bola Italia tumbuh dan berkembang, belum lagi fakta bahwa itu adalah bagian penting dari dorongan rezim untuk menjadi tuan rumah piala 1934.

 

Gerakan Ultra Nasionalis di Israel.
Sudut pandang Beitar Jerusalem untuk menjaga tradisi klub berkisar pada oposisi yang kuat baik pemain Muslim dan Arab, dicontohkan oleh fakta bahwa pada 2013 ketika Beitar menandatangani Zaur Sadayev dan Dzhabrail Kadiyev, para fans menanggapi dengan meneriakkan ujaran kebencian yang sangat tidak pantas.

La Familia, kelompok penggemar Beitar yang paling terkemuka dan sangat anti-Arab dan anti-Muslim melangkah lebih jauh, membakar kantor klub dan meninggalkan stadion ketika salah satu pemain mencetak gol. Ketika kapten klub dan penjaga gawang Ariel Harush turun ke media sosial untuk menyuarakan dukungannya untuk kedua pemain, dia kemudian menjadi objek pelecehan.

Pada tahun 2004, penandatanganan pinjaman Ibrahim Ndala, seorang bek Nigeria, membuat empat penampilan untuk klub sebelum pergi hanya enam minggu dalam masa pinjamannya. Alasannya? Pelecehan intens bermotif rasial oleh La Familia. Dia kemudian mengatakan kepada Sport 5 bahwa: "Tidak ada pemain Muslim atau kulit hitam yang bermain di Beitar".

Baru-baru ini pada 2019, La Familia menanggapi klub yang merekrut Ali Mohamed, seorang Kristen dari Nigeria, dengan menyarankan agar namanya diubah, pada dasarnya, terdengar terlalu seperti seorang Muslim. Dalam postingan media sosial yang segera dihapus, La Familia menyatakan bahwa, meskipun mereka menerima iman Kristennya, mereka memiliki masalah dengan namanya “Kami akan memastikan bahwa namanya diubah sehingga Mohamed tidak terdengar" dan mereka dengan bangga melabeli kelompoknya dengan isu rasial yang mereka lakukan “Here we are, we’re the most racist football team in the country”. Isn’t fooking cool mate!.

Klub itu sendiri memiliki sejarah panjang terkait dengan kelompok dan gerakan Zionis dan politik sayap kanan seperti Irgun, misalnya - kelompok paramiliter Zionis yang beroperasi di Palestina pada tahun 1930-an dan 40-an.

Dibentuk dengan niat Zionis, klub ini juga didukung oleh dukungan vokal dari Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel saat ini dan seorang politisi sayap kanan terkenal pemimpin Likud, sebuah partai konservatif dan nasionalis yang didirikan di atas ideologi revisionis-Zionis.

 

Gerakan Sayap Kiri Italia, AS Livorno.
Tidak melulu sayap kanan, sayap kiri Italia pun dengan lantang meneriakan perlawanan melalui sepak bola. AS Livorno percaya dan meyakini sudut pandang marxisme, sejak didirikan sampai detik ini.

Abad ke-15 menjadi saksi penting terbentuknya gerkan sayap kiri di Livorno yang memiliki akar kuat hingga saat ini. Dalam “The Birthplace of Italian Communism: Political Identity and Action Among Livorno Fans” (2013, PDF) dijelaskan bahwa saat itu, pelabuhan di Pisa, yang menjadi akses penting ke wilayah Mediterania, sedang mengalami penurunan pengunjung. Hal tersebut membuat keluarga Medici, penguasa Florence, kalang kabut. Guna mengatasi masalah tersebut, Medici kemudian melakukan pembangunan pelabuhan baru di Livorno, sekitar 20 mil dari selatan Pisa. Pemikiran Medici pun disetujui dan pembangunan pun dimulai.

Livorno, yang mulanya minim pengunjung, tidak lama kemudian penuh oleh pendatang setelah Medici mengeluarkan undang-undang bernama “Leggi Livornine” yang secara singkat menyerukan para pedagang dari bangsa mana pun seperti Yahudi, Turki, Moor, Armenia, dan Persia untuk mengisi kota terseut. Mereka disambut secara terbuka oleh masyarakat setempat, dengan melupakan latar belakang etnis, agama, maupun catatan kriminal yang pernah dilakukan sebelumnya.

Gayung bersambut, Livorno berevolusi menjadi kota kosmopolit yang dihuni masyarakat dengan berbagai latarbelakang. Pembangunan disana pun semakin gencar. pusat perdagangan dan tempat ibadah satu per satu mulai nampak. Ada gereja Anglikan, Belanda-Jerman, Ortodoks Yunani, Armenia, sampai sinagog Yahudi. Untuk menggambarkan keharmonisan masyarakat, pada 1656, pemerintah kota mengeluarkan koin emas dengan slogan: “Banyak orang melebur menjadi satu.”

Keadaan makin menggeliat kala industrialisasi dan unifikasi Italia tiba di awal abad ke-19. Kedua faktor tersebut menciptakan dinamika yang kompleks, termasuk kelas-kelas sosial. Muncul pula aktivisme politik di tengah para pekerja pelabuhan lewat lahirnya kelompok-kelompok sosialis sampai anarkis. Ketika banyak terjadi pemogokan dan kerusuhan di Italia pada 1920an, ideologi politik seperti komunisme dan fasisme mendapatkan ruang untuk berkembang.

 

Greg Lea dalam “Livorno and Communism” yang dipublikasikan In Bed with Maradona pada 2 November 2014 menulis bahwa politisasi kelompok pendukung sepakbola di Italia muncul usai kebijakan regionalisme diterapkan dan berakhirnya Perang Dunia II. Sejak 1946 sampai 1992, pemerintahan dikuasi oleh Partai Demokrat Kristen. Mereka memenangkan suara terbanyak dalam setiap pemilihan pada saat itu.

Dengan janji mampu merangkul semua elemen politik dan masyarakat, dominasi Demokrat Kristen justru meninggalkan kekecewaan bagi sebagian rakyat Italia. Partai ini cenderung berpihak pada kepentingan kelompok sayap kanan. Dampaknya, masyarakat mencari ruang alternatif untuk menyalurkan hasrat dan keyakinan ideologi mereka. Sepakbola muncul sebagai sarana utama dan para ultras mulai menghidupkan kembali identitas politik mereka yang didasarkan pada riwayat sejarah dan kondisi sosial kota.

Hal tersebut berlaku juga untuk AS Livorno yang dibentuk pada 1915. Keberadaan Partai Komunis Italia turut membentuk identitas klub dan ultras, fans garis keras mereka yang berkiblat pada ideologi politik sayap kiri serta afiliasi kuat terhadap kepemilikan akan kota atau biasa dikenal sebagai “Campanilismo.”

Separatisme Katalunya.
Bangsa  Catalan memiliki  sejarah  konflik  yang  panjang selama  berabad  lamanya  di  mana  pada abad  ke-11,  wilayah  Catalonia  sebagai tempat hidup bangsa Catalan berada pada kekuasaan  Kerajaan  Aragon  kemudian ampai  pada  abad  ke-15  di  mana  Raja Ferdinand dari Kerajaan Aragon menikah dengan Ratu Isabella dari Kerajaan Castila dan  mempersatukan  wilayah  mereka. Status itu bertahan sampai abad ke-19 di mana  kemudian  muncul  gerakan  dan perasaan baru terhadap identitas Catalan yang  membawa  pada  sebuah  kampanye untuk memperoleh otonomi secara politik dan bahkan separatisme (BBC, 2015). 

Secara singkat, setelah terjadinya penggabungan kerajaan menjadi Kerajaan Spanyol,  posisi  Catalonia  menjadi tertekan  di  mana  bahasa  Catalan  dan institusi yang telah ada sebelum penyatuan Spanyol,  dilarang  untuk  digunakan  dan Barcelona sebagai ibukota dari Catalonia berada di bawah kendali Madrid (Carrera, 2014).  Pada  era  1923-1930  terjadi perubahan pemerintahan di Spanyol yang kemudian menggulingkan kekuasaan Raja Alfonso  XIII  di  mana  Catalonia bergabung  bersama  dengan  partai Republikan yang berhaluan kiri kemudian membentuk Republik Spanyol. Berdirinya Republik  Spanyol  kemudian  secara langsung  menghapuskan  sistem monarki negara dan membawa pada terbentuknya pemerintahan  otonomi  di  Catalonia dengan nama Generalitat (Cataloniavotes, 2014). Pada masa ini, terdapat usaha dari para  Catalan  sendiri  untuk  memisahkan diri  namun pemimpin  Republik Spanyol waktu  itu  memberikan  otonomi  penuh kepada  Catalan  sehingga  upaya memerdekakan  diri  tersebut  dapat diredam.

 

Dibawah  rejim  Franco,  olahraga menjadi  bagian  dari  cara  negara  untuk menekan  separatisme  dengan menggunakan  tim  sepakbola  untuk memunculkan  rasa  frustrasi  terhadap gerakan  tersebut.  Franco  menganggap cara  untuk  menyehatkan  persaingan olahraga  dan  kompetisi  akan  dapat mencegah  para  nasionalis  Catalan melawan  rejimnya.  FC  Barcelona kemudian  dirubah  namanya  menjadi sangat Castilian yakni Club de Fútbol de Barcelona  atau disingkat  C.F  Barcelona dan bendera Catalan dihilangkan dari logo klub tersebut. Setelah perubahan tersebut, kemudian  Barca  sebutan  dari  FC Barcelona  diijinkan  mengikuti  dan melanjutkan  pertandingan  dalam kompetisi  sepakbola  La  Liga  Spanyol. Namun,  cara  yang  dilakukan  tersebut seakan  menjadi  bumerang  bagi  Franco sendiri  karena  hal  tersebut  kemudian secara  efektif  memperkuat  perasaan emosional  para  nasionalis  Catalan  dan membentuk sebuah titik simbolisasi serta galangan  bagi  para  nasionalis  Catalan (Benjamin,  2010).  Barca  kemudian menjadi  semacam  asosiasi  anti-Franco dan  memiliki  pengaruh  yang  besar  di wilayah tersebut

 

Penulis: Rifqi Maulana

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.