Skip to main content

Cantona, Arogansi dan Prestasi

Cantona, Arogansi dan Prestasi

Marseille, 24 Mei 1996. Mungkin pada hari ini tuhan sedang merencanakan untuk menghibur pecinta sepak bola yang tersebar diseluruh dunia. Pada hari tersebut di sebuah kota pelabuhan yang keras di Prancis telah lahir seorang anak laki-laki bernama Eric Daniel Pierre Cantona. Bagi pecinta sepak bola Inggris bahkan pecinta sepak bola diseluruh dunia nama ini tidaklah asing. Ya betul, “King Eric” begitu biasa dia dipanggil oleh para pecintanya.

Dia adalah satu dari sekian banyak legenda “Setan Merah” atau yang lebih biasa dikenal Manchester United klub sepak bola asal Inggris. Dengan ciri khas bermain yang cerdik, nakal dan keras dia memiliki porsi khusus dikalangan pecinta sepak bola.

Sebelum hijrah ke Inggris, Cantona bergabung dengan salah satu klub kecil dikota kelahirannya Marseille, tim tersebut adalah Les Caillols. Cantona membela tim ini pada saat ia menginjak usia 9 Tahun walaupun permainannya terlihat seperti anak di usia 15 tahun. Ketika Cantona membela tim ini ia menempati posisi penjaga gawang, tetapi seiring berjalannya waktu ia terus berkembang dan mengisi posisi striker yang akhirnya mencuri perhatian akademi Auxerre.

Di usia nya yang ke 15 Cantona berlabuh ke akademi Auxerre pada tahun 1981. Setelah dua tahun berjalan Cantona dipercaya untuk menjadi bagian utama di tim senior Auxerre walaupun tidak ada kontrak professional.Tidak lama kemudian Auxerre meminjamkan Cantona ke sebuah tim asal Prancis juga yang memiliki nama FC Margues. Cantona berhasil menyelamatkan FC Martigues dari degradasi ke Divisi Liga Tiga Prancis.

Setelah berhasil menyelamatkan FC Martigues dari degradasi, Cantona kembali ke tim sebelumnya Auxerre karena statusnya hanya pemain pinjaman. Pada akhir musim 85/86 Cantona kembali bergabung karena pada musim itu Auxerre ditinggal oleh salah satu pemain andalannya Andzej Szarmach. Pada musim 1986/1987 Cantona dinobatkan menjadi pemain muda terbaik Liga Prancis, tetapi sayang, pada saat yang bersamaan juga Cantona melakukan sebuah tindakan yang kurang baik yaitu memberikan pukulan mentah hingga lebam pada rekan satu tim nya yang menjadi penjaga gawang pada saat itu, Bruno Martini.

Guy Roux sebagai penanggung jawab tim Auxerre ini tidak memberikan sanksi yang berat pada Cantona pada saat itu. Cantona hanya diberikan sanksi denda dan tetap bermain pada pertandingan selanjutnya walapun pada akhirnya Roux geram setelah Cantona melakukan hal yang serupa pada pemain lawan. Guy Roux merasa geram dan kehabisan kesabaran ketika telapak sepatu Cantona menghujam dengan keras kaki pemain yang membela klub Nantes asal Armenia, Michel Der Zakarian. Pada akhirnya Roux menghukum Cantona dengan larangan bermain selama tiga bulan dan akhirnya “menjual” nya ke kub asal kota kelahirannya, Marseille.

Membela tim kota asal kelahirannya tidak membuat Cantona menjadi “lebih baik”, Cantona seakan menjadi lebih “liar” yang dimana pada puncaknya ia terlibat kasus pelecehan pada pelatih Timnas Prancis pada saat itu, Henri Michel. Cantona dengan berani menyebut Henri Michel sebagai “sac of merde” atau “sekantung kotoran”, buah yang dipetik oleh Cantona tak lain dan tak bukan, ia mendapatkan sanksi berupa larangan bermain selama satu tahun.

Pada tahun 1989, Cantona akhirnya dikirim ke Montpellier oleh Bernard Tapie selaku pemilik tim Marseille setelah sebelumnya Cantona melempar jersinya ke arah Gerard Gili setelah menariknya keluar lapangan yang pada saat itu menjadi pelatih Marseille. Tidak berhenti sampai disini, Cantona kembali melakukan hal “antik” nya di klub barunya ini. Cantona melempar sepatu nya ke muka rekan satu tim nya Jean Claude Lemoult setelah Marseille menelan kekalahan dari Lille dan kembali Cantona kembali mendapatkan sanksi berupa hukuman larangan bermain selama dua pertandingan. Ternyata bukan hanya Marseille yang mendapatkan jasa Cantona yang berstatus sebagai pemain pinjaman, sebelumnya Cantona juga pernah dipinmakan ke FC Girondins de Bordeaux tim yang bermarkas di stadion Chaban Delmas. Hal ini diakibatkan karena Bernard Tapie tidak menyukai Cantona.

Pada akhirnya ditahun 1991 Bernard Tapie berhasil mendepak Cantona dari Marseille. Pada saat itu Nimes Olimpique lah yang menjadi pelabuhan selanjutnya Cantona. Masih belum berhenti sampai disini, kembali Cantona melakukan hal “antik” nya. Cantona melempar bola ke arah wasit setelah Cantona mendapatkan kartu merah. Selain daripada itu juga Cantona sempat menyerang pemain lawan ketika ia membela Nimes Olimpique.

Akibat dari kelakuan “antik” nya itu Cantona dihadiahi larangan bermain selama satu bulan oleh Federasi Sepak bola Prancis dan oleh karena itu Cantona diwajibkan hadir di persidangan dengan pendapat. Pada saat menghadiri persidangan tersebut Cantona “meledak” dan mengatakan semua anggota komite ‘idiot’ yang berakhir pada masa hukuman tambahan selama dua bulan larangan bertanding di kancah sepak bola Prancis.

Hal ini membuat Cantona semakin “meledak” dan menyatakan akan pensiun dari timnas Prancis. Hal inilah yang menjadi pemicu Cantona ke dataran Britania Raya. Michel Platini lah yang menjadi perantara Cantona dapat berlabuh di Britania yang pada saat itu menjadi pelatih kepala Timnas Prancis dan ia tidak rela Cantona pensiun dari dunia sepak bola internasional.

Setelah berhasil membujuk Cantona agar dapat kembali berkarir, Platini menawarkan Cantona secara langsung pada Graeme Souness yang pada saat itu menjadi pelatih Liverpool. Graeme Souness menolak tawaran tersebut dikarenakan Souness tidak percaya pada Cantona akan dapat bersaing dengan Ian Rush dan John Barnes yang pada saat itu menjadi andalan Liverpool. Tidak behenti sampai disitu, Platini menghubungi teman lainnya yaitu Trevor Francis pria yang lahir di Plymout, Inggris yang juga mantan pemain yang memenangi Liga Champion UEFA bersama Nottingham Forest yang pada saat itu melatih Sheffield Wednesday.

Trevor Francis akhirnya menerima tawaran dari Michel Platini untuk merekrut Cantona pada saat itu dengan catatan Sheffield Wednesday tidak memiliki kemampuan finansial yang baik untuk merekrut Cantona. Hingga akhirnya pada tahun 1992 Leeds United yang menjadi pelabuhan Cantona dibawah asuhan Howard Wilkinson. Cantona tampil gemilang bersama Leeds United dan mendapatkan bayaran yang cukup fantastis. Berkat penampilannya yang gemilang, Cantona berhasil meraih gelar Liga Inggris bersama Leeds United.

Kembali, pada musim pertama digelarnya Premier League pada musim 1992/93 Cantona menunjukkan sikap “antik” nya yang membuat Howard Wilkinson cukup geram dan mulai sering menempatkannya dibangku cadangan. Hal ini yang membuat Cantona meminta untuk dijual, bahkan ia menyatakan dirinya ingin membela Manchester United, Liverpool atau Arsenal.

Finally! The King was born in here. Walau pada awalnya Manchester United tidak menunjukan ketertarikannya pada Cantona, karena Alex Ferguson lebih tertarik untuk mendatangkan David Hirst, Matthew Le Tissier dan Brian Deane walaupun akhirnya Ferguson gagal untuk mendatangkan ketiga pemain itu. Gayung bersambut, Martin Edwards selaku former dari Manchester United menerima panggilan telefon dari Bill Fotherby selaku former dari Leeds United yang bertujuan untuk menanyakan Denis Irwin akan dijual atau tidak, jelas jawaban Edwards dengan jelas menjawab tidak akan menjual Denis Irwin. Di waktu yang bersamaan pula Edwards sedang bersama Ferguson yang balik bertanya apakah Cantona akan dijual, Bill Fotherby tidak langsung memberikan jawabannya, tapi selang beberapa hari kemudian dating berita baik pada bulan November 1992 bahwa Cantona resmi memperkuat Manchester United dengan mahar 1,2 juta poundsterling.

Bersama Manchester United yang ditukangi oleh Ferguson, Cantona mulai sedikit agak “calm” tetapi tidak sepenuhnya Cantona berubah. Karakter nakal dan temperamen nya tetap masih melekat pada dirinya. Gayung bersambut, Cantona tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menarik perhatian fans Manchester United sekaligus pecinta sepak bola Inggris. Dengan gaya permainan yang Skillfull dan berani, Cantona tumbuh menjadi bintang bagi Manchester United.

Di musim berikutnya, Cantona semakin menggila dengan torehan 18 gol berhasil ia raih pada musim 93/94 yang pada saat itu juga ia berhasil mempersembahkan dua gelar sekaligus bagi si “setan merah” yaitu gelar Premier League dan Piala FA. Hal ini juga yang menjadikan Cantona menjadi bintang besar di Inggris kala itu. Bahkan ia sudah tidak lagi dilabeli sebagai pemain yang temperamen dan memiliki sifat buruk, Cantona menjadi contoh bagi pemain Manchester United lainnya, khususnya bagi Class of 92.

Kembali berulah, dalam lanjutan Premier League 94/95 Manchester United menjalani laga tandang ke Selhurst Park markas dari Crystal Palace. Sepertinya Crystal Palace dan pendukungnya memiliki strategi yang sama yaitu membuat Cantona “frustasi”. “Eric selalu menjadi target nomor satu bagi pendukung di manapun. Bukan hanya pemain lawan tetapi para penggemar yang merasa kalau mereka bisa mengusirnya juga. Beberapa pelecehan yang dia dapatkan sangat mengerikan. Butuh korban untuk dijadikan sasaran dan semuanya terjadi pada malam itu,” kata Gary Pallister, rekan setim Cantona.

Tepat di menit ke-48 Cantona mendapatkan kartu merah setelah wasit melihat ia menendang bek Crystal Palace Richard Shaw. Cantona menerima ganjaran tersebut dan tidak melakukan protes berlebihan, namun ada sosok yang membuat Cantona cukup geram, Simmons Matthew salah satu pendukung Crystal Palace ini mengumpat Cantona setelah melakukan tendangan ke Richard Shaw. “Kembalilah ke Prancis bajingan” ucap Matthew pada Cantona yang sontak membuat Cantona “meledak” dan melayangkan tendangan kungfu ke arahnya dan memberikan pukulan pada Matthew. Hal ini jelas membuat pendukung Crystal Palace kesal dan menghujani hujatan pada Cantona.

Atas tindakan tersebut Cantona dijatuhi hukuman tidak dapat bermain sepak bola selama delapan bulan dan melakukan community service selama 120 jam. Setelah mendapatkan hukuman tersebut Cantona melakukan konferensi pers yang dimana momen ini menjadi hal yang berkesan karena Cantone mengucapkan sebuah kalimat yang mungkin tidak menggambarkan dirinya, ia mengucapkan “Ketika burung camar mengikuti kapal pukat ikan, itu karena mereka berpikir ikan sardine akan dilemparkan ke laut” hal ini masih menjadi misteri mengapa Cantona mengucapkan kalimat tersebut.

Setelah kejadian tersebut Cantona memilih untuk terbang ke Prancis dan terbersit dalam pikirannya untuk mengakhiri karirnya. Namun Ferguson berhasil membujuknya untuk kembali memperkuat si “setan merah” setelah ia rela terbang ke Prancis untuk menemui Cantona. Dan Cantona menerima tawaran Ferguson untuk kembali memperkuat Manchester United dan bertahan selama dua musim kedepan.

Pada 18 mei 1997 setelah lima tahun membela si “setan merah” Cantona memutuskan mengakhiri karirnya bersama Manchester United, ternyata tidak hanya mengakhiri karirnya di Manchester United, Cantona memilih mengakhiri karirnya di dunia sepak bola. Ia memplokamirkan akhir karirnya setelah ia bersama Manchester United meraih gelar Premier League di umur Cantona yang ke 30.

Cantona layak dikenang dengan arogansi dan prestasi yang ia ukir bersama Manchester United, selain daripada itu juga Cantona layak mendapatkan gelar “KING” dengan segala prestasi nya dan gelar tersebut akan selalu melekat pada King Eric Cantona.

Pada tahun 2019 Liam Gallagher melibatkan Eric Cantona dalam video klip nya, cukup menarik ketika melihat latar belakang Liam sebagai supporter Manchester city dan Cantona adalah legenda dari Manchester United, kedua tim sepak bola yang menjadi rival dalam satu kota, mengapa hal ini bisa terjadi? Simak ulasan berikutnya dari kami, see you lads!.

 

Penulis: Rifqi Maulana


Comments

Be the first to comment.

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.
Thanks for contacting us! We'll get back to you shortly. Thanks for subscribing Thanks! We will notify you when it becomes available! The max number of items have already been added There is only one item left to add to the cart There are only [num_items] items left to add to the cart