Skip to main content

Sepak Bola Indonesia Butuh VAR?

Sepak Bola Indonesia Butuh VAR?

Belakangan ini, sepak bola Indonesia sedang ramai diperbincangkan mengani keputusan wasit yang merugikan suatu tim. Tapi gak belakangan ini juga deng, udah lama juga keputusan wasit Indonesia yang merugikan hehe. Hingga bergulirnya Liga 1 2021, beberapa keputusan wasit dirasa tidak netral dan tidak mencerminkan keputusan yang adil.

 

Setidaknya ada enam keputusan wasit yang dianggap kontroversial. Komite wasit PSSI sedang mendalami kasus tersebut dan akan memberikan hukuman sesuai dengan tingkat kesalahan yang dibuat. Tapi kan hukuman yang sesuai belum tentu jadi hukuman yang setimpal, yoooo next. Ada beberapa pertandingan di Liga 1 Indonesia yang menggambarkan betapa buruknya kualitas wasit yang mengadili pertandingan tersebut.

 

Pertama, keputusan wasit yang kontroversial terjadi ketika Persik Kediri melawan Bali United, di Liga 1 2021/22, pada laga Bhayangkara FC kontra Persiraja Banda Aceh. Kemudian yang ketiga, pertandingan Persija Jakarta versus Arema FC. Tidak berhenti sampai disitu, pertandingan Borneo FC melawan Persita Tangerang juga mendapat sorotan. Pertandingan yang juga menuai kontroversi keputusan wasit terbaru ini pun pada laga Persebaya vs Persela, pihak Persebaya Surabaya pun  mengajukan protes kepada pihak operator liga. Namun rupanya pihak Liga 1 mencoba mengambil keputusan mengistirahatkan wasit yang memimpin laga tersebut.  Keputusan beberapa wasit yang menjadi pengadil lapangan ini memang sudah lama menjadi masalah yang serius bagi sepak bola Indonesia.

Tidak hanya di Liga 1, wasit yang bertugas juga melakukan keputusan kontroversial pada Liga 2. Keputusan kontroversi tersebut terjadi dalam pertandingan Kalteng Putra melawan PSBS Biak Wasit yang memimpin laga tersebut hanya menjatuhi hukuman kartu kuning kepada Charles Rumbino. Padahal tendangan kung fu pilar PSBS tersebut sangat berbahaya karena mengenai perut pemain Kalteng Putra, Nur Akbar. Lalu, partai Rans Cilegon kontra Badak Lampung FC. Wasit Seprio Ario, menghadiahi penalti untuk Rans Cilegon, meski pemain Badak Lampung tidak melakukan pelanggaran di kotak terlarang.

 

Di luar dari enam keputusan kontroversial yang sedang didalami komite wasit PSSI, ada satu lagi kasus yang ramai diperbincangkan. Wasit Donas Putra Damaina, mendapat kecaman karena kepimimpinannya pada laga Liga 3 yang mempertemukan Persak Kebumen dengan PPSM Magelang. Donas hanya mengasih kartu kuning kepada Tri Hartanto. Padahal, secara jelas ia melihat pemain Persak tersebut menginjak leher bek PPSM, Santino Berti.

Melihat keputusan wasit yang kontroversial terus terjadi, PT Liga Indonesia Baru (LIB) berencana menggunakan video assistant referee (VAR), pada Liga 1 musim depan. Operator kompetisi tersebut menganggarkan $6 juta atau sekitar Rp85 miliar untuk membeli satu set alat VAR. Direktur utama PT LIB Akhmad Hadian Lukita, menyatakan sudah melakukan perbincangan dengan PSSI untuk menggunakan VAR sejak tahun lalu. Akan tetapi, pembahasan tersebut terpaksa terhenti akibat pandemi virus corona melanda. "Tahap awal, kami akan membeli satu set VAR. Kalau nanti kompetisi kembali ke format semula, kandang dan tandang, kami harus membuat klaster VAR agar tidak jauh perpindahannya," ujar Lukita. Namun apa benar sepak bola Indonesia membutuhkan VAR? jika melihat beberapa kontroversi di Eropa dan berbagai belahan dunia lain mengenai VAR, alat ini tetap menuai kontroversi dan mendapat penolakan dari elemen suporter, oke coba kita ulas apa saja kontroversi yang terjadi dalam penerapan VAR di beberapa negara.

 

Penerapan VAR Dalam Sepak Bola.

Turnamen pemanasan menjelang Piala Dunia, yakni Piala Konfederasi 2017 yang digelar di Rusia pada 17 Jun 2017 – 2 Jul 2017 lalu, menjadi gelaran sepakbola akbar pertama yang menerapkan teknologi VAR. Selain diadakan guna meninjau kesiapan Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia yang digelar tahun 2018 lalu, turnamen yang berhasil dimenangkan Jerman itu menjadi kelinci percobaan penggunaan teknologi VAR. Hasilnya, pihak FIFA menganggap teknologi tersebut berhasil membantu tugas wasit di lapangan.

Teknologi VAR lahir dari hal sederhana yang sebenarnya sudah lahir sejak dulu kala. Video yang dianalisis wasit keempat di dalam ruangan VAR rupanya berasal dari siaran pertandingan. Siaran televisi secara langsung sudah dimulai sejak Piala Dunia 1954 di Swedia. Masalahnya pada Piala Dunia 1954, 1958 dan 1962, teknologi instant replay belum ditemukan. Tanpa instant replay, sulit melihat tayangan ulang yang terjadi saat pertandingan. Mereka yang menonton di rumah akan merasakan pengalaman yang sama seperti yang dialami penonton di stadion.

 

Pada era itu rekaman tayangan ulang bukan hal baru. Sejak tahun 1955 televisi CBC sering melakukannya di acara hoki dengan menggunakan sistem kinescope atau Ampex Quadruplex. Hanya saja rekaman ini amat tak instan karena baru bisa ditayangkan dengan jeda cukup lama hingga memakann waktu beberapa menit. Sistem ini juga tak mampu menampilkan gerakan lambat dan memajukan atau memundurkan momen tertentu yang fleksibel.

 

Tony Verna, Direktur Olahraga CBS yang kali pertama menemukan sistem instant replay ini. Ia membuat sebuah sistem yang memungkinkan sebuah mesin kaset video standar diputar ulang secara langsung. Mesin ini beratnya 590 kg dan kali pertama diuji pada 7 Desember 1963.

Gayung bersambut, tayangan instant replay yang ditemukan oleh Tony Verna mulai digunakan di Piala Dunia 1966. Stasiun BBC yang kala itu menyiarkan laga final, menampilkan rekaman ulang saat Hurst menjebol gawang kiper Jerman Barat, Hans Tilkowski. Ada tiga kamera yang dipakai: dari atas tribun, dari pinggir lapang dan dari belakang gawang. Dari rekaman ini terlihat bahwa bola memang belum melewati garis gawang.

 

Pada awalnya, FIFA penganut pemahaman yang bersikukuh menolak teknologi ikut campur terlalu jauh dalam sepakbola. "Tidak ada gunanya berdebat tentang itu (penggunaan VAR dan GLT). Kontroversi itu bagian dari sepakbola," tulis FIFA dalam rilis pada 5 Januari 2005 lalu. Namun sekarang federasi yang menaungi sepak bola dunia itu telah melunak bahkan memuji dua teknologi ini membuat sepakbola menjadi lebih baik dan adil.

 

Pada gelaran Piala Dunia 2018, panitia mengklaim teknologi VAR dan GLT yang dipakai amatlah canggih. Mereka menggandeng perusahaan teknologi olahraga Hawk-Eye Innovations untuk mengerjakan GLT. Sedangkan VAR dikerjakan Crescent Comms (audio) dan Hawk-Eye Innovations (video). Penggunaan VAR pada gelaran Piala Konfederasi 2017 mendapatkan pujian dari beberapa elemen yang ada dalam dunia sepak bola, salah satunya adalah pelatih flamboyan asal Italia, Carlo Ancelotti.

 

"VAR? Menurut saya teknologi itu bahkan sudah terlambat dan harusnya bisa datang lebih cepat. Hanya orang bodoh yang merasa VAR tidak dibutuhkan," kecam Ancelotti, seperti dilansir La Gazzetta dello Sport.

 

"VAR bisa memecahkan banyak masalah yang selama ini menjadi kontroversi dan membuat wasit merasa tenang. Untungnya, teknologi ini [VAR] akan diterapkan pada Piala Dunia 2018 yang akan datang," ujar Carlo Ancelotti.

 

Kecaman dan Protes Terhadap VAR.

Mengingat pentingnya keputusan wasit yang adil dan tidak merugikan, beberapa liga di berbagai negara mulai menggunakan video assistant referee (VAR). A-League di Australia menjadi yang pertama dalam penerapan sistem VAR untuk sebuah pertandingan liga profesional pada 7 April 2017, saat Melbourne City menghadapi Adelaide United meskipun pertandingan ini berakhir tanpa menggunakan VAR. Intervensi VAR pertama kali digunakan pada pertandingan liga profesional yang digelar pada 8 April 2017 saat Wellington Phoenix menghadapi Sydney FC. VAR mengidentifikasi tindakan handball di dalam kotak penalti dan wasit yang memimpin laga tersebut pun memberikan tendangan penalty dan pertandingan berakhir dengan skor imbang dengan skor 1–1.

 

Setelah berhasil memperlihatkan kecanggihannya, beberapa liga di Eropa pun turut menggunakan teknologi yang dapat membantu wasit untuk mengawasi jalannya pertandingan. Dalam beberapa tahun kebelakang, liga kelas dunia seperti Bundesliga, Serie A, dan La Liga pun menggunakan teknologi terbaru yang turut mencampuri dunia sepak bola. Seolah tidak mau ketinggalan, pada musim 2019/2020 Premiere League pun turut menggunakan VAR. tidak hanya liga kenamaan di Eropa, beberapa liga di Amerika dan Asia Tenggara pun tidak mau kalah dan memutuskan untuk menggunakan VAR.

 

Meskipun dirasa cukup membantu keputusan wasit dalam suatu pertandingan, VAR tidak dapat lepas dari beberapa kontroversi. Penolakan hingga kecaman yang diutarakan pada keputusan teknologi terbaru ini. Anehnya, beberapa pelatih dan pemain kenamaan di liga Eropa membenci dengan hadirnya teknologi VAR ini.

Bintang Liverpool, Thiago Alcantara mengaku bahwa dirinya membenci sepak bola modern dan dari awal selalu menentang penggunaan teknologi VAR dalam permainan si kulit bundar. Thiago mengakui bahwa dirinya adalah seseorang yang 'kuno' dalam sepak bola. Dengan jujur Thiago mengaku ia membenci sepak bola modern, apalagi dengan adanya VAR. "Pelatih bisa berkomunikasi dengan kami lebih baik, pemain bisa lebih berkomunikasi satu sama lain. Anda kehilangan daya saing tetapi mengembangkan aspek lain. Pergantian ekstra berarti tim yang bertahan, bertahan hingga menit ke-90; tim yang menekan Anda, menekan Anda sampai akhir," ujar Thiago kepada The Guardian.

 

"Saya memiliki mentalitas 'benci sepak bola modern'; sikap saya lebih klasik. Dan kemudian ada VAR, yang selalu saya lawan. Ini menghilangkan esensi, ketidakjujurannya," tambah Thiago.

 

“Kami membuat kesalahan ketika kami bermain, wasit juga harus membuat kesalahan. Banyak momen mistis yang tidak akan ada (dengan VAR). Dan ketika Anda mencetak gol, bahkan gol brilian dari garis tengah, Anda menunggu. Berpikir: ' Saya harap tidak ada pelanggaran dalam prosesnya, saya harap tidak ada offside, saya harap'." Ujar pria berkebangsaan Spanyol tersebut.

 

Di kalangan klub, VAR sendiri masih pro kontra. Seperti yang diungkapkan Direktur olahraga Borussia Moenchengladbach, Max Eberl, meminta VAR bisa mengambil porsi lebih besar dari si wasit itu sendiri di lapangan. Namun, mantan pelatih Bayern Munich, Jupp Heynckess, justru meminta penggunaan VAR dibatasi agar tidak terlalu merecoki pertandingan sepak bola itu sendiri. Tak cuma di Jerman, di Italia pun VAR mendapat kecaman. Para pemain dan pelatih meminta penggunaan VAR di kompetisi Serie A ditinjau ulang.

 

Tidak hanya di kalangan klub, kecaman dan penolakan terhadap VAR pun dilakukan oleh suporter yang merasa kebahagiaan mereka direnggut oleh system yang semakin merecoki hiburan mereka. Tidak hanya fans Manchester City, suporter dari Crystal Palace dan Wolver Hampton pun melakukan protes terhadap VAR dengan membentangkan kain yang berisikan kekecewaan mereka terhadap keputusan Asosiasi Sepak Bola Inggris yang memutuskan untuk menggunakan VAR pada beberapa pertandingan liga Inggris.

Tidak hanya di Inggris, suporter Gremio pun rupanya membenci dan menolak teknologi VAR. Pekan ke-29 Liga Brasil yang mempertemukan Gremio vs Palmeiras pada Senin (1/11) dini hari WIB berakhir rusuh. Suporter Gremio yang tak terima timnya kalah 1-3 langsung merangsek ke lapangan dan merusak area VAR. Mengutip laporan dari media Brasil, ge globo, suporter Gremio yang berasal dari tribun utara langsung menyerbu lapangan setelah laga berakhir. Beberapa dari mereka membawa benda-benda yang dapat mereka gunakan menuju pintu masuk terowongan akses ke ruang ganti.

 

"Sekelompok suporter ini merusak bilik dan monitor VAR, peralatan transmisi, mikrofon, papan iklan, dan panel wawancara," tulis laporan tersebut. Selain itu, pihak wasit juga menyebut bahwa ada salah satu pemain Gremio, Marcio Rafael Ferreira de Souza (Rafinha), yang mengumpat kepada para wasit dan menyalahkan VAR.

Kehadiran VAR dalam dunia sepak bola memang menuai banyak kontroversi. Bagaimana tidak, teknologi ini masih memiliki kelemahan dalam mendeteksi suatu pelanggaran. Namun jika melihat satu sisi fungsi dari VAR, ada baiknya pengadil lapangan tidak terlalu menitik beratkan keputusannya pada VAR.

 

Tugas VAR seolah membuat sepakbola menjadi bertele-tele. Penggunaanya terpaksa menghadirkan jeda dan menghambat jalannya sebuah pertandingan, karena pengadil di lapangan harus berkomunikasi dengan asisten wasit di ruang VAR. Meskipun jeda berlangsung dalam hitungan menit saja, hal ini jelas menghambat ritme pertandingan yang tengah berjalan. Suporter yang sedang menikmati tensi pertandingan dan spontanitas dalam suatu pertandingan pun menjadi sesuatu yang tidak lagi dapat dirasakan, meski di satu sisi keputusan wasit akan tampak lebih ‘sempurna’ karena saran VAR tersebut.

 

Drama kontroversi dalam sebuah pertandinganlah yang menjadikan sepakbola menjadi suatu candu bagi para pecintanya, sehingga olahraga yang satu ini dicintai banyak penduduk bumi. VAR menjadikan sepakbola kehilangan sentuhan ekspresi spontan para suporter dan seniman lapangan hijau yang tengah fokus menjalankan suatu pertandingan. Teknologi itu justru seolah berperan layaknya suporter yang menonton pertandingan lewat televisi, tetapi memiliki ‘power’ sehingga bisa menganjurkan penalti, mensahkan gol, hingga menimbang kartu warna apa yang harus diberikan kepada pemain. Ini tak jauh berbeda dengan para suporter yang protes atas keputusan wasit, lantas melemparkan botol plastik air mineral ke tengah lapangan.

 

Jika VAR diterapkan sejak dahulu kala, tidak akan ada julukan “si tangan tuhan” bagi Maradona, Belgia tak akan pernah mencapai prestasi paling tinggi dalam sepak bola mereka yakni lolos ke semifinal Piala Dunia 1986 dan tidak akan pernah ada obrolan menarik mengenai berbagai gol dan momen kontroversi yang menjadi perbincangan menarik hingga detik ini. Jadi apakah sepak bola yakin membutuhkan VAR? jawabannya ada dalam diri suporter sendiri!

Comments

Be the first to comment.

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.
Thanks for contacting us! We'll get back to you shortly. Thanks for subscribing Thanks! We will notify you when it becomes available! The max number of items have already been added There is only one item left to add to the cart There are only [num_items] items left to add to the cart