Skip to main content

Tuesday Drinking Club: Budaya Sepak Bola dan Minuman Beralkohol

Tuesday Drinking Club: Budaya Sepak Bola dan Minuman Beralkohol

Sepak bola memang menjadi satu dari sekian banyak olahraga yang memiliki daya magis tersendiri. Banyak hal menarik yang terjadi dalam olahraga satu ini. Bagaimana tidak, beberapa momen berhasil menjadi kisah jangka panjang yang melegenda hingga detik ini. Hampir semua negara yang ada di dunia ini memiliki cerita tersendiri yang melibatkan pemain sepak bola dari negara mereka. Tidak hanya pemain yang membela suatu negara, beberapa tim yang berlaga di suatu negara pun mencatatkan sejarah, walaupun mereka bukan berkebangsaan negara dimana mereka meniti karir.

 

Sebagai negara yang memprakarsai sepak bola modern, Inggris rupanya menjadi negara yang mengagungkan sejarah dan budaya sepak bola yang mereka ciptakan. Selain daripada itu, rasa bangga atas kultur sendiri terkadang mereka representasikan sampai kelewat batas. Pokoknya Britania paling oke dibanding negara lain dan tidak ada yang mampu menyamainya.

 

Negara yang dikenal dengan The Land of Hope and Glory ini memang menawarkan banyak sejarah dalam dunia sepak bola. Beberapa momen seperti kungfu yang dilakukan Eric Cantona hingga Tragedi Hillsborough menjadi dua dari sekian banyak momen yang melegenda hingga saat ini.

Kembali ke budaya Inggris. Salah satu budaya yang publik Inggris banggakan adalah bagaimana sebuah perayaan harus dirayakan semaksimal mungkin. Agar terlihat berkelas, bergelas-gelas bir harus turut serta dalam sebuah perayaan. Minuman beralkohol ini adalah stimulus utama terciptanya suasana nyaman dan awal dari sebuah kebahagiaan, bagi mereka, walaupun tidak semua warga Inggris melakukan hal tersebut.

 

Budaya menenggak minuman beralkohol di Inggris begitu panjang dalam kurun waktu yang begitu lama. Berkat masyarakat dan infrastruktur menjadi faktor pendukung satu dari sekian banyak budaya yang biasa mereka lakukan. Pub sebagai tempat mereka menenggak minuman beralkohol pun menjamur diberbagai tempat dijalanan kota hingga pelosok. Bagi mereka yang berusia muda, menenggak alkohol adalah kewajiban utama agar terlihat lebih keren.

Mengakarnya budaya warga Inggris dalam hal menenggak minuman beralkohol membuat derasnya pengaruh budaya ini tak terhentikan pada aspek apapun yang melibatkan masyarakat. Akhirnya kebiasaan buruk ini merasuk pada tubuh ‘The People Game’ atau yang lebih biasa kita kenal dengan kata sepak bola. Tenggakan minuman beralkohol berhasil menyelinap di hijaunya rumput ataupun luar lapangan.

 

Beberapa pemain seperti Jimmy Greaves, George Best dan Paul Gascoigne adalah beberapa pemain yang sangat identik dengan kecanduannya akan minuman beralkohol. Namun dibalik kecanduannya, mereka juga berhasil menjadi sosok pemain yang berhasil menorehkan pretasi bersejarah. Namun, lupakan ketiga pemain bengal itu, karena Arsenal menjadi salah satu tim dengan prestasi dan konsumsi minuman beralkohol yang tak terhentikan pada medio 80-an hingga 90-an.

 

The Tuesday Club

Kembali pada awal 1990-an. Kesebelasan asal London Utara yaitu Arsenal, menjadi tim yang sangat familiar jika kita berbicara tentang pengaruh alkohol di lapangan hijau. Tim yang berjuluk The Gooners ini terkenal memiliki budaya yang berpusat di sekitar minuman keras dan perilaku buruk pada saat itu.

 

Arsenal pernah tersohor dengan geng ‘Tuesday Club’ dimana anggotanya merupakan pilar inti di lini belakang. Dikomandoi oleh sang kapten Tony Adams, lalu ditemani oleh Nigel Winterburn dan duet Steve Bould–Lee Dixon dan aroma alkohol menyeruak di kamar ganti Highbury, kandang Arsenal pada saat itu.

 

Sebagai seorang kapten, Tony Adams jelas berada di jantung klub. Namun, tidak hanya ketika berada di atas lapangan, ia juga menjadi sosok pemimpin dari geng yang bernama ‘Tuesday Club’ Ia menjadi sosok penting bagi para pemain lain yang memiliki kesukaan yang sama dengan sang kapten, ya menenggak minuman beralkohol. Para pemain lain seperti Ray Parlour, Perry Groves dan Paul Merson juga sering hadir dan terlibat secara rutin dalam perayaan yang dipimpin oleh Tony Adams.

Lalu mengapa mereka memilih hari Selasa? Hal ini rupanya berkaitan dengan waktu latihan yang biasa mereka laksanakan selalu libur pada hari Rabu. Manajer George Graham, yang bertanggung jawab di Highbury antara 1986 dan 1995, sepenuhnya menyadari apa yang dilakukan oleh para pemainnya. Tetapi karena tim tidak perlu masuk pada hari Rabu dan dinilai tidak mempengaruhi kinerja mereka pada hari Kamis, Graham menutup mata untuk itu. Namun, apa yang mereka lakukan tidak selalu terbatas hanya pada hari Selasa, terkadang mereka menikmati beberapa minuman alkohol di hari Sabtu atau Minggu juga.

 

Salah satu gelandang Arsenal pada saat itu yaitu Ray Parlour menulis tentang The Tuesday Club dalam otobiografinya yang berjudul The Romford Pele, yang dirilis pada 2016. Dia menulis: “Itu terjadi karena pada masa itu kami biasa berlatih di Highbury pada hari Selasa. Jika tidak ada pertandingan tengah pekan, kami akan melakukan langkah kami dan kemudian libur pada hari Rabu, sebelum kembali pada hari Kamis untuk mempersiapkan pertandingan hari Sabtu.

 

“Latihan hari Selasa adalah hari fisik yang nyata, tetapi semua orang selalu mempersiapkan diri untuk menyambut hari Selasa.”

 

“George Graham akan berkata, 'Apa yang terjadi di sini?' biasanya kami akan mengenakan pakaian olahraga pada hari Senin, Kamis, dan Jumat. Tetapi pada hari Selasa kami memiliki semua perlengkapan kami seolah-olah kami akan pergi keluar pada malam hari.”

 

“Kebiasaan minum ini tidak akan pernah berhenti. Sabtu malam setelah pertandingan, kemudian Minggu sore adalah waktu terbaik dalam seminggu, biasanya di pub dijalanan kota kami.”

 

“Kami mungkin minum terlalu banyak tetapi kami menikmatinya, dan hanya berada di sekitar Tony pada waktu itu, terlalu menyenangkan untuk ditolak.

 

"Jika Tony berkata, 'Aku akan keluar,' aku seperti anak anjing kecil yang melompat mengejarnya."

Selain Ray Parlour, bek kanan Arsenal pada saat itu yaitu Lee Dixon juga berbicara tentang ke mana para pemain Arsenal biasa pergi untuk sesi minum mereka, mengatakan kepada The Independent pada 2011: “Di pagi hari, George memberi kami beberapa pelatihan fisik yang sangat sulit, berlari sampai kami hampir sakit diikuti dengan beberapa latihan di gym.

 

“Dan setelah itu kita akan pergi ke pub Bank of Friendship di sekitar sudut dari Highbury dan tenggelam bersama beberapa gelas bir.

 

“Saat itu pemain masih bisa bersosialisasi di tempat yang sama dengan suporter dan tidak akan ada masalah. Akan ada Jim tua yang duduk di sudut sambil merokok Woodbines, dan kami di bar minum bir. Saya tidak pernah peminum berat,  enam liter adalah batas saya dan saya akan menjadi benar-benar mabuk berat.

 

“Tetapi beberapa yang lain, khususnya Tony Adams, akan melanjutkan sepanjang malam. Saya dulu bergabung dengan Tuesday Club sebulan sekali, tetapi orang seperti Tony akan ada di sana setiap minggu.

 

“Itu adalah bagian penting dari tim, di mana ikatan kuat terbentuk yang membawa kami meraih beberapa gelar liga.”

Para punggawa Arsenal yang tergabung pada geng Tuesday Club semakin menggila akan kecanduannya pada minuman beralkohol yang memberikan dampak negatif bagi mereka sendiri yang berujung merugikan Arsenal sendiri. Pada tahun 1990, Nigel Winterburn, Paul Merson dan dua pemain lainnya dipulangkan dari tur Arsenal ke Singapura karena mereka mabuk berat dan melakukan suatu hal yang merugikan The Gooners. Gelandang Ray Parlour juga mengalami kesulitan di lini belakang The Tuesday Club. Pada tahun 1995, mantan pemain Inggris itu ditangkap karena melemparkan kerupuk ke sebuah taksi sebelum menabrak sopirnya.

 

Tidak hanya di Singapura, Insiden lainnya pun terjadi selama tur Arsenal ke Hong Kong, yang menyebabkan Parlor didenda oleh Pengadilan Magistrat Timur serta klub. Setahun kemudian, Adams dan Parlour menyalakan alat pemadam api di sebuah restoran karena mabuk.

 

Terlepas dari semua kejenakaan yang terjadi pada The Tuesday Club, periode di bawah asuhan George Graham adalah salah satu yang paling sukses dalam sejarah The Gooners. Arsenal merebut gelar Divisi Pertama, sebelum menjadi Liga Premier, pada tahun 1989 dan 1991. Selain itu, Arsenal juga sukses meraih gelar Piala FA pada 1992-1993 serta dua trofi Piala Liga pada edisi 1986-1987 dan 1992-1993. Prestasi puncak yang pernah diraih Graham selama membesut Arsenal tercatat pada Piala Winners 1993-1994.

Kedatangan Arsene Wenger pada tahun 1996, bagaimanapun itu mengakhiri secara tidak resmi semua budaya menenggak alkohol dan kelakuan buruk lainnya. Alkohol dipandang menjadi sesuatu yang sangat negatif di tubuh Arsenal dan diet para pemain difokuskan secara intens. Namun, mereka yang terlibat dalam The Tuesday Club hampir tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang harus disesali.

 

Arsene Wenger sempat dianggap kuno ketika datang dari Nagoya Grampus Eight dengan mengambil langkah membatasi konsumsi minuman beralkohol di Highbury. Hal ini dianggap menentang status quo yang dibangun oleh pilar senior Arsenal di ‘The Tuesday Club’. Tetapi Wenger tak bergeming. Kini justru pemain, suporter, dan petinggi klub Meriam London harus berterima kasih pada sang profesor atas kebijakan membatasi alkohol yang berujung prestasi.

 

Seiring berkembangnya zaman, bergeser pula cara manusia menyikapi kehidupan. Tak terkecuali perihal mengkonsumsi alkohol. Beberapa temuan dari institusi kesehatan di Britania Raya merilis hasil riset yang menyerukan tingginya angka kematian akibat kebiasaan minum bir.

 

Laporan dari Foundation for Liver Research menyebutkan bahwa angka kematian akibat penyakit liver naik hingga 12.000 orang per tahun. Temuan senada juga dipaparkan oleh Sheffield University dimana tak kurang dari lima orang masyarakat UK yang meninggal akibat penyakit liver per harinya.

 

Publik Inggris yang selama ini membanggakan kultur minum alkohol sontak tertampar keras. Kini, mereka harus introspeksi diri bahwa budaya yang mereka bangun tak sepenuhnya benar. Ada hal yang harus diperhatikan baik-baik kala melibatkan bir baik di meja makan maupun keramaian pub.

 

Beberapa temuan riset tadi menyiratkan bahwa kebiasaan mengkonsumsi bir di Inggris kini mulai harus dibatasi. Tampak jelas ketika bermunculan penyakit liver merupakan imbas dari tenggakan alkohol yang tak terkontrol.

 

Pengaruh minuman beralkohol di sepak bola Inggris pada dasarnya tidak pernah benar-benar hilang. Kondisinya hanya tergerus karena harus dibatasi. Serta, tentu saja, demi menjunjung semangat profesionalisme dan sportifitas dalam dunia sepak bola itu sendiri, great job The Professor!

Comments

Be the first to comment.

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.
Thanks for contacting us! We'll get back to you shortly. Thanks for subscribing Thanks! We will notify you when it becomes available! The max number of items have already been added There is only one item left to add to the cart There are only [num_items] items left to add to the cart