Skip to main content

Who Said Football is Fascist Game?

Who Said Football is Fascist Game?

Ngomongin tentang sepakbola emang gak akan pernah ada ujungnya. Jangankan buat nemuin ujungnya, nemuin persamaan pendapat dan pola pikir aja minim banget, udah untung kalo ada orang yang 100% punya sudut pandang yang samaan kaya kita, tapi jarang juga sih ya. Dengan segala intrik dan drama yang ada di permainan masyarakat umum yang satu ini menjadikan sepakbola semakin menarik untuk dijadiin bahan perbincangan utama di circle kita walaupun gak semua orang suka sama permainan ini, tapi gak ada salahnya kita ngomongin apa yang ada di dalam tubuh si kulit bundar ini.

 

Sejak awal kemunculannya, salah satu bidang olahraga emang jadi hiburan sekaligus pelepas penat masyarakat yang mengharapkan gelaran ini akan tetap pada marwah nya. Tetapi rupanya segelintir orang malah ngemanfaatin keindahan permainan yang diminati oleh khalayak luas dengan berbagai latar belakang. Sepak bola emang bukan Cuma milik segelintir orang atau kelompok, tapi sepakbola milik semua manusia yang hadir di dunia, pernah denger kalau sepakbola cuma buat laki-laki? atau cuma buat orang kaya gitu? atau cuma buat presiden disalah satu negara? atau yang lebih parah sepakbola selalu dikaitkan dengan salah satu ideology tertentu, nyatanya tidak! Tidak ada satupun pembenaran yang sah mengenai milik siapa sepakbola ini, karena sejatinya sepakbola milik kita semua tanpa batasan-batasan tertentu.

 

Melihat realita dan isu yang beredar dibeberapa kalangan anak muda yang menganggap bahwa sepak bola adalah permainan fasis membuat kami berfikir, emang iya ya? atau jangan-jangan mereka hanya menjadikan sudut pandang mereka sebagai suatu pembenaran? Bebaslah mau ngomong apa juga tentang sepakbola, cuma ya ditulisan kali ini mau sedikit ngasih info aja kalau sejatinya sepakbola bukanlah permainan fasis dan perjalanan panjang sepakbola yang akhirnya mendunia hingga detik ini. Terus yang ngomong sepakbola permainan fasis gimana? Ya kita juga bakalan ngasih info kalau sepakbola salah satu permainan yang diminati banyak orang, tapi sekali lagi kami tekankan, tidak ada hubungan nya sama sekali antara sepakbola dan fasisme, gak percaya? Boleh deh disimak hahaha.

 

Sejarah Sepakbola

Sepakbola memang menjadi olahraga yang memiliki penggemar yang sangat banyak di dunia ini. Sementara menurut statistik pada tahun 2014 pada saat Piala Dunia diselenggarakan, diketahui saat itu penonton pertandingan sepak bola dari seluruh dunia mencapai 3,2 milyar! Artinya nyaris dari setengah populasi bumi saat itu menyaksikan perhelatan sepak bola terbesar di dunia tersebut. tapi nyatanya sepakbola telah dimulai sejak abad ke-2 di Tiongkok pada masa Dinasti Han. Permainan ini dikenal dengan nama Tsu Chu, permainan yang dimainkan oleh dua tim yang masing-masing tim diperkuat oleh 12-16 orang. Permainan yang memiliki aturan untuk menggiring sikulit bundar dengan kaki dan tidak boleh menggunakan tangan ini banyak diyakini sebagai rahim dari sepakbola modern. Permainan ini pun tidak hanya dimainkan oleh staff kerajaan pada saat itu, masyarakat Tiongkok pun ikut memainkan permainan ini, tapi sayangnya permainan yang menjadi cikal bakal sepakbola ini sudah mulai ditinggalkan dinegara kelahirannya.

 

Gayung bersambut, 500-600 tahun setelah kemunculan tsu chu, di jepang ada permainan serupa yang dikenal dengan nama Kemari. Permainan ini juga minim dengan elemen kompeitif karena para pemain yang memainkan Kemari hanya diharuskan menendang-nendang bola di dalam lingkaran kecil dan saling mengoperkannya untuk mencegah bola jatuh ke tanah. Atau dalam Bahasa saat ini permainan ini dikenal dengan istilah juggling. Kedua permainan ini yaitu Tsu Chu dan Kemari menjadi cikal bakal permainan sepakbola yang murni sebagai hiburan tanpa sisi kompetisi sama sekali dan kedua permainan ini pun diklaim dan di akui oleh FIFA sebagai cikal bakal dari sepakbola modern saat ini.

Berlanjut pada abad ke 19, Inggris Raya menjadi negara yang memprakarsai sepakbola modern. Namun pada awal mula kemunculannya di negara tersebut, sepak bola dikenal dengan nama folk football yang dimainkan oleh banyak rakyat Inggris pada saat itu tanpa aturan dan pakem yang sangat minim. Peraturan permainan ini pertama kali mulai banyak dibahas setelah sekolah-sekolah privat seperti Winchester, Charterhouse, dan Eton mulai mengadakan pertandingan permainan ini. Pada tahun 1843 Universitas Cambridge berhasil membuat peraturan yang terstandar dan kemudian diberi nama dengan Cambridge rules. Dua dekade kemudian, tepatnya pada tahun 1863 banyak klub-klub yang membuat aturan tercetak dimana pada aturan tersebut tidak diperkenankan menggunakan tangan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan terpisahnya rugby dengan sepakbola.

 

Peraturan baru tersebut pada awalnya tidak diterima secara langsung, hingga pada tahun 1867 Sheffield bergabung dengan asosiasi sepakbola Inggris untuk kemudian memainkan pertandingan melawan klub London dengan peraturan baru yang telah di revisi dan pada tahun 1871 ada 15 klub yang bersedia ikut serta dalam turnamen yang diadakan oleh asosiasi sepak bola inggris (FA). Kemudian kompetisi ini semakin berkembang hingga pada 1877 asosiasi Inggris Raya telah setuju untuk menyatukan 43 tim ke dalam satu kompetisi. Setelah kompetisi ini disatukan hilanglah dominasi klub London di piala FA.

Dalam perjalanan panjangnya, Inggris berperan besar dalam sejarah sepak bola dunia. Sejak tahun 1850-an para pekerja insdustri di Inggris yang memang memiliki waktu offwork hari Sabtu, banyak menghabiskan hari-hari tersebut untuk menonton atau bermain bola. Budaya ini semakin lama semakin populer dan diketahui jumlah penonton sepak bola di stadion berkembang dari 4.600 orang di tahun 1888 hingga 7.900 orang pada tahun 1895 dan 13.200 pada tahun 1905.

 

Selama awal abad 20 tercatat pula dalam sejarah bahwa perkembangan sepak bola terjadi sangat cepat dan semakin cepat setiap saat. Hal ini kemudian membuat banyak orang sadar pentingnya keberadaan suatu organisasi dunia yang menaungi sepakbola. Akibatnya pada tahun 1904 beberapa negara seperti Belgia, Denmark, Prancis, Belanda, Spanyol, Swedia, dan Swiss memutuskan untuk membentuk Federation Internationale de Football Association atau dikenal dengan sebutan FIFA. Salah satu masalah yang dialami FIFA di awal-awal pembentukannya adalah ketidakpatuhan FA terhadap FIFA sebagai organisasi baru. Di dalam sejarah sepak bola dunia bahkan tercatat FA beberapa kali “ngambek” karena beberapa hal. Tercatat FA pernah keluar dari keanggotaan FIFA pada tahun 1920-1924, 1928-1946.

 

Sejarah Fasisme

Fascismo atau fasisme adalah istilah yang berasal dari kata Latin "fasses" (ejaan Romawi: fasces). Fasses, yang terdiri dari serumpun batang yang diikatkan di kapak adalah simbol otoritas hakim sipil Romawi kuno, dan juga berarti kejayaan. Mereka dibawa oleh para liktor dan dapat digunakan untuk hukuman fisik dan modal berdasarkan perintah-Nya. Kata fascismo juga terkait dengan organisasi politik di Italia dikenal sebagai fasci, kelompok mirip dengan serikat kerja atau sindikat. Simbolisme fases menyarankan kekuatan melalui kesatuan: sebuah batang tunggal adalah mudah patah, sedangkan rumpunan akan sulit untuk mengalami perpecahan.

Awal mula teori yang mengarah pada perkembangan fasisme ini dimulai pada tahun 1880-an. Akhir abad membawa ide dan gagasan yang dibagikan secara luas bahwa masyarakat berada dalam krisis dan perlu diselamatkan. Gerakan ini menentang materialisme, demokrasi, dan rasionalisme. Gagasan ini terus berkembang selama tiga dekade ke depan. Perang Dunia I adalah peristiwa terbaru yang pada akhirnya mengarah pada pendirian partai Fasis.

 

Italia, anggota partai sosialis tidak setuju dengan pendekatan perang, adapun beberapa anggota mendukungnya dan yang lain menentangnya yang juga mempertanyakan keperluan nya. Benito Mussolini, menjadi penggagas gerakan ini setelah ia bergabung dengan gerakan anti-Jerman dan mendirikan kelompok Fasci of Revolutionary Action. Benito Mussolini adalah seorang jurnalis yang mendirikan surat kabar di Milan, Il Popolo d’Italia. awalnya ia adalaah seorang anggota partai sosialis, Mussolini meninggalkan partai tersebut ketika ia berperang dalam Perang Dunia I. Setelah perang, kaum fasis menyatakan kaum sosialis sebagai musuh publik nomor satu karena posisi mereka yang menolak pada pendekatan perang.

 

Pada 1915, ideologi kelompok itu dikenal sebagai fasisme. Kelompok ini mendapatkan dukungan dan popularitas dan pada tahun 1922, Raja Italia meminta Mussolini membentuk pemerintahan baru. Dia pertama kali menjadi Perdana Menteri sebelum menjadi diktator fasis dan mendeklarasikan negara fasis pada tahun 1925. Gerakan politik semakin populer dan Italia memulai serangan militer internasional dan kampanye pembersihan etnis. Ini menarik perhatian pemimpin partai Nazi, Adolf Hitler.

 

Ketika gerakan Nazi berkembang, fasisme menjadi lebih populer di seluruh Eropa. Protes dan pemberontakan fasis menyebar, dan sistem ini diadopsi oleh beberapa pemerintah. Fasisme diadopsi oleh Hongaria pada tahun 1932 dan Rumania pada tahun 1933. Partai-partai politik fasis menyebabkan kekacauan di Perancis pada tahun 1934. Dan pemerintah semi-fasis didirikan di Yunani, Lithuania, Yugoslavia, dan Polandia.

 

Fasisme bahkan merambah ke berbagai benua seperti Brasil dan Chili di Amerika Selatan. Setelah Perang Dunia II, fasisme memberi jalan kepada neo-fasisme, yang masih dapat ditemukan dalam skala kecil di beberapa negara. Mussolini memiliki pemikiran bahwa demokrasi adalah suatu sistem yang gagal. Tidak hanya itu, Mussolini juga berpikir bahwa kebebasan berekspresi dan kebebasan partai adalah sebuah kebohongan semata, dan fasisme akan mengatur orang di bawah kekuasaan negara. Fasisme berakar pada nasionalisme. Pemimpin pemerintahan dan para pendukungnya mendesak adanya aturan satu partai, yang menyatakan bahwa hal tersebut memungkinkan efisiensi dan efektifitas yang memungkinkan mereka untuk merespons dengan cepat terhadap ancaman militer dan masalah ekonomi. Pemimpin pemerintahan fasis biasanya seorang diktator dan anggota pemerintahannya seringkali terdiri dari anggota militer.

Sementara Partai Fasis Nasional tidak memiliki manifesto yang mudah dicerna, ada sebuah esai panjang yang ditulis oleh Mussolini yang merinci dan menjelaskan ideologinya secara mendetail. Esai, berjudul The Doctrine of Fascism, ditulis pada tahun 1932, satu dekade penuh setelah Mussolini mengambil alih kekuasaan di Italia. Dokumen tersebut menegaskan kembali pandangan Mussolini tentang gerakan yang ia ciptakan dan bahkan menyentuh evolusinya dari manifesto yang disebutkan di atas yang dia lampirkan namanya pada tahun 1919

 

Fasisme Dalam Sepakbola

Sepakbola telah menjadi olahraga yang memiliki keterikatan dengan segala hal. Begitu pula dengan paham fasisme. Beberapa orang bertanya-tanya tentang fasisme dan sepakbola. Rasa penasaran pun menyelimuti, sebenarnya siapa orang di balik penyatuan paham kuno dan permainan modern ini?

 

Dengan pemikirannya yang menganggap Italia harus kembali pada masa kejayaan Romawi, Mussolini melihat sepakbola sebagai media yang sangat kuat dalam melancarkan ideologi yang ia perjuangkan. Eksistensi Italia di kancah dunia pun harus turut dipertaruhkan dalam pencapaian yang Mussolini impikan pada saat itu. Ia menginginkan Italia dapat menjadi negara yang unggul dalam segala aspek, tidak hanya peperangan dan militer, olahraga pun harus turut serta mambangun mimpin Mussolini yang ingin menapak tilas masa kejayaan Romawi.

 

Sebelumnya Mussolini melihat sepakbola sebagai alat kunci untuk menciptakan persatuan nasional suatu negara dengan kekuasaan Internasional. Ia juga menjadi orang penting di balik terciptanya Serie A, sebagai liga nasional pertama pada 1929 yang dihelat satu tahun sebelum Piala Dunia 1930. Mussolini punya cara jitu menyatukan rakyat Italia di bawah panji “fascio”: lewat sepakbola. Sang diktator yang fans klub SS Lazio itu memang hobi menonton sepakbola. “Mussolini rutin menonton (laga-laga Lazio) di tribun stadion. Il Duce bahkan membangun stadion baru (Stadio Olimpico) untuk Lazio, menggantikan stadion lama, Stadio del Partito Nazionale Fascista,” tulis Franklin Foer dalam Mussolini’s Team.

 

Selain daripada itu, Mussolini juga berkesempatan mempopulerkan fasisme ke khalayak dunia lewat Piala Dunia 1934. Mussolini langsung bergerak cepat melobi petinggi FIFA. Hasilnya, Italia ditetapkan jadi tuan rumah event empat tahunan itu dalam pertemuan para petinggi FIFA di Stockholm, Swedia, 9 Oktober 1932.

 

“Demi menyukseskan Piala Dunia 1934, pemerintah Italia mengucurkan dana 3,5 juta lira,” singkap David Goldblatt dalam The Ball is Round: A Global History of Football.

Mussolini juga turun tangan dalam komite persiapan Piala Dunia 1934. Dengan kekuatan yang ia miliki, ia juga memilih langsung delapan lokasi penyelenggaraan: Bologna, Firenze, Genoa, Milan, Napoli, Trieste, Roma, dan Turin –tempat stadion yang menyandang nama Mussolini, Stadio Benito Mussolini, berada.  Campur tangan Mussolini tak hanya sampai situ, tapi juga merambah ke internal Gli Azzurri (timnas Italia). “Dia ikut berbicara dengan pelatih timnas Victorio Pozzo untuk memastikan Italia menurunkan tim terbaik,” tulis Fernando Fiore di buku The World Cup: The Ultimate Guide to the Greatest Sports Spectacle in the World. Agenda besar Mussolini berjalan mulus. Dengan doktrin fasisme lewat sepakbolanya ikut menentukan keberhasilan Italia merebut Piala Dunia 1934. Di final, Italia menang 2-1 atas Cekoslovakia. Namun, kontroversi menyelimuti partai final. Mussolini dituding meramu match-fixing demi kemenangan Italia. Sehari sebelum final, Mussolini mengundang Ivan Eklind, wasit asal Swedia yang ditunjuk memimpin laga final, untuk makan malam.

Tidak berhenti sampai disitu, pada Piala Dunia di Prancis 1938, La Nazionale (julukan lain tim Italia) juga tampil beda. Mereka mengganti seragam biru langit-putih empat tahun sebelumnya dengan seragam hitam-hitam khas “Fascio”. Para pemain juga selalu melakukan hormat ala fasis jelang kickoff. Italia berhasil melewati fase demi fase dengan hasil gemilang. Mereka menyingkirkan Norwegia dengan skor 2-1, tuan rumah Prancis 3-1, serta tim samba Brasil pun ikut menelan kekalahan dengan skor 2-1 di semifinal. Pada partai puncak, Italia bertemu Hungaria, tim yang menampilkan permainan ciamik pada Piala Dunia Prancis.

 

Meladeni lawan berat, Mussolini dihantui kegelisahan dan ia pun mengambil keputusan mengirim telegram berisi ancaman pada skuad Italia: “Vincere o morire!” yang artinya “Menang atau mati!” Ancaman itulah yang mungkin membuat para pemain mati-matian di final hingga menang 4-2. Nyawa mereka pun masih utuh sepulangnya ke Italia. “Saya mungkin membiarkan terjadinya empat gol ke gawang saya, namun setidaknya saya menyelamatkan nyawa mereka,” kenang kiper Hungaria Antal Szabo, yang tak menyesal timnya kalah dari Italia di final Piala Dunia 1938, sebagaimana dikutip Diane Bailey dalam Great Moments in World Cup History.

Sepakbola menjadi sesuatu yang berharga bagi dirinya, Mussolini hendak melembagakan konsep I’italiano nuovo yang menitikberatkan bahwa masyarakat Italia harus hidup sehat, kuat, dan aktif secara fisik. Pembangunan tak akan berjalan dengan baik bila masyarakatnya sekarat. Kemajuan bangsa hanya akan jadi omong kosong jika masyarakatnya lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur ketimbang bekerja, dan di saat waktu yang bersamaan, Mussolini juga menegaskan bahwa nilai kolektivitas lebih penting di atas kepentingan individu.

 

Melihat keberhasilan Italia di Piala Dunia, Adolf Hitler pun kemudian memiliki ide untuk melakukan negosiasi dengan FIFA agar negara nya memimpin Piala Dunia 1942. Pemimpin partai Nazi Jerman ini berniat untuk menguasai kompetisi besar tersebut, bahkan sangat berambisi menumbangkan Inggris, yang juga menjadi musuh mereka dalam Perang Dunia kedua.

 

Tetapi rupanya dominasi tim sepakbola yang memiliki latar belakang fasisme ini tidak berjalan dengan mulus, meskipun hingga saat ini tidak sedikit tim sepakbola dan suporternya masih menjalankan misi dan visi dari kedua diktator yang sangat terkenal seperti Benito Mussolini dan Adolf Hitler. Perlawanan pun terus berlangsung dari beberapa tim yang menjadi penolak faham fasisme yang masih hadir sampai saat ini. Beberapa penolakan terjadi di banyak tim yang tidak hanya berlaga di Italia dan Jerman, negara-negara di Amerika, Afrika, Asia dan beberapa benua lainnya turut menyuarakan kebenciannya terhadap fasisme dan segala pemahaman lainnya yang berafiliasi dengan fasisme. Sepakbola memang telah menjadi sesuatu yang dimanfaatkan oleh banyak kaum, termasuk fasis, tetapi penegasan yang perlu diperjelas adalah bahwa sepakbola bukanlah fasis game, tetapi fasis sendiri yang memanfaatkan sepakbola sebagai media untuk melanggengkan pemahaman tersebut.

 

Penulis: Rifqi Maulana 

 

Comments

Be the first to comment.

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.
Thanks for contacting us! We'll get back to you shortly. Thanks for subscribing Thanks! We will notify you when it becomes available! The max number of items have already been added There is only one item left to add to the cart There are only [num_items] items left to add to the cart