Skip to main content

Budaya Kritik Suporter Di Era Modern.

Budaya Kritik Suporter Di Era Modern.

Suporter, salah satu elemen dari berbagai cabang olah raga yang tidak mungkin bisa dilepaskan keterikatannya dari kegiatan ini. Suporter sendiri terbagi dalam dua kategori, baik yang teroganisir dalam suatu kelompok maupun secara individu. Fanatisme dan keterikatan emosional dalam mendukung klub kecintaannya menjadikan para suporter ini memiliki rasa kepemilikan pada tim kebanggannya. Memang hal ini bukanlah hal yang tabu dikalangan suporter, hal ini memberikan warna yang beragam dalam dunia olah raga.

 

Salah satu cabang olah raga yang memiliki suporter fanatik adalah sepak bola. Cabang olah raga ini sudah lama digilai oleh masyarakat luas yang memiliki latar belakang sangat beragam. Fanatisme ini menimbulkan rasa cinta berlebih dan tidak jarang dapat kita temukan suporter yang mendukung dengan segala konsekuensi yang mereka terima, terlebih jika tim yang mereka cintai memiliki nilai history dan prestasi yang mentereng. Tetapi hal itu tidak bisa dijadikan tolak ukur yang pasti, tidak sedikit para suoporter militan yang selalu siap mendukung tim kebanggannya dengan suka rela walaupun tim yang mereka bela tidak memiliki prestasi yang gemilang.

 

Suporter memang memiliki kebebasan dalam melakukan aksi nya walaupun klub yang mereka bela atau federasi sepak bola yang menaungi nya memberikan berbagai batasan bagi mereka. Batasan yang diberikan oleh pihak klub atau federasi ini tidak jarang dilanggar oleh para suporter dalam melampiaskan emosi yang mereka utarakan pada tim kebanggaan nya. Salah satu aksi yang sering kita jumpai adalah ketika para suporter ini mengkritisi kebijakan atau isu-isu yang ada dalam tim kebanggan mereka. Budaya protes ini menjadi hal yang menarik untuk diulas.

 

Di zaman modern ini kita disuguhkan berbagai kemudahan dalam mengakses sesuatu. Segala kemudahan ini jelas menjadi pola hidup baru bagi kebanyakan orang. Komunikasi dan interaksi sosial pun dapat dilakukan dengat sangat mudah untuk dilakukan tanpa mengkhawatirkan waktu dan jarak. Tidak ada lagi halangan atau batasan untuk melakukan komunikasi, tetapi apakah segala kemudahan ini adalah sesuatu yang relevan? Apakah segala kemudahan ini menjamin efisiensi dalam menyampaikan pendapat? Mengingat tidak sedikit orang yang mengabaikan pesan yang ditujukan padanya.

 

Budaya kritik dalam dunia sepak bola ini tidak jarang kita temui di media sosial ataupun media elektronik lainnya. Tidak sedikit juga para suporter dan aktifis dalam dunia sepak bola ini memanfaatkan kemudahan yang ditawarkan oleh zaman yang semakin maju ini. Kolom komentar salah satu pemain ataupun suatu klub sering dibanjiri oleh komentar dari para pecinta sepak bola, tidak hanya suporter yang membela tim kebanggannya, sesekali dapat kita lihat ada saja orang yang secara sengaja ikut meramaikan kolom komentar tersebut. Segala komentar dari yang positif hingga negatif juga sering kita jumpai. Hal ini menyebabkan beberapa pemain ataupun klub membatasi hingga menutup kolom komentar diberbagai platform sosial media mereka. Apakah hal ini menjadi tolak ukur keberhasilan dalam mengkritisi suatu hal? Atau hal ini dilakukan oleh klub atau pemain untuk menghindari komentar dari suporter? Eh.

 

Rupanya hal ini dirasa kurang efisien dalam mengutarakan pendapat bagi para suporter untuk mengkritisi pemain ataupun klub yang mereka cintai. Budaya kritik yang sejak lama sudah ada didalam dunia sepak bola memang harus menghasilkan dampak yang dapat dirasakan. Sebagai tolak ukur keberhasilan mengkritisi seorang pemain ataupun sebuah klub kami rasa cukup sulit, karena tidak sedikit dari mereka yang menganggap kritik ini adalah bentuk ketidak pedulian, tetapi rasanya hal ini cukup aneh dan berbanding terbalik dengan apa yang suporter lakukan karena kritik yang diutarakan oleh para suporter memiliki makna yang sangat berarti dalam mendukung tim yang dibela.

 

Upaya mengkritisi pemain atau tim tidak berakhir sampai disitu, budaya kritik terus dilancarkan oleh para suporter dan ternyata media yang paling efisien dalam mengkritisi para pemain atau klub yang mereka bela adalah dengan membentangkan kain atau spanduk dengan tulisan yang mewakili sisi emosional para suporter tersebut. Banyak hal yang dikritisi oleh para suporter ini, mulai dari kebijakan tim, prestasi, harga tiket hingga isu-isu sosial yang ada disekitar mereka.

 

Video Assistant Referee atau yang biasa kita kenal dengan VAR adalah salah satu kebijakan yang mendapatkan protes dari berbagai kalangan suporter di Eropa. VAR dirasa menghilangkan passion dan atmosfir pada pertandingan sepak bola. Mendapatkan kritikan yang sangat keras dari para pecinta sepak bola di Eropa tidak menjadikan VAR terasingkan, teknologi terbaru ini masih digunakan dalam beberapa pertandingan di Eropa.

Tidak hanya itu, isu sosial politik pun sering disuarakan oleh para suporter didalam stadion. Rasa saling menghargai kami rasa tidak cukup untuk menggambarkan hal tersebut. Kaum wanita di Iran mendapatkan perlakuan yang tidak adil, ketika dimana mereka tidak dapat menyaksikan langsung penyelenggaraan event olah raga yang ada dinegara nya sejak tahun 1998. Hal ini dirasa kurang adil bagi sebagian banyak orang. Mereka menyuarakan bentuk protes terhadap negara dan federasi yang menaungi sepak bola di negara tersebut. Protes ini tidak hanya dilakukan di Iran, beberapa suporter yang berada di Eropa juga turut mendukung aksi protes ini, lagi, lagi dan lagi bentangan spanduk terbentang didalam stadion.

Hal serupa sering terjadi dalam mengkritisi sebuah tim yang memiliki prestasi yang buruk, tidak hanya prestasi, permainan yang kurang menarik dan kekalahan beruntun pun dapat menuai sorotan dari suporter fanatik yang merasa jengah dengan hasil yang mereka dapatkan. Kurang semangatnya pemain yang berbuah kekalahan membuat para suporter ini merasa muak, tetapi tidak menghilangkan rasa bangga nya terhadap tim yang mereka bela.

 

Melihat beberapa kasus diatas kami rasa budaya kritik dalam dunia sepak bola lebih efisien dilakukan didalam stadion dan membentangkan spanduk dengan tulisan yang mewakili emosional adalah cara yang sangat tepat disbanding dengan bercuit atau mengomentari kolom komentar disalah satu platform sosial media milik klub atau pemain. Tidak sedikit orang yang menganggap hal ini adalah perlakuan provokatif dan menunjukan rasa ketidak pedulian tetapi kami rasa hal ini dilakukan atas rasa peduli akan tim kebanggan, hal ini memang memiliki polemik dikalangan suporter, tetapi apalah arti mencintai tanpa berani mengkritisi sesuatu yang kita cintai.

 

Penulis: Rifqi Maulana

Comments

obokeidokez

http://mewkid.net/when-is-xuxlya2/ – Amoxicillin Online Amoxicillin 500mg uqi.yrmw.prungtw.com.tob.ld http://mewkid.net/when-is-xuxlya2/

ixohiateh

http://mewkid.net/when-is-xuxlya2/ – Amoxicillin 500mg Amoxicillin 500mg Capsules qze.mpod.prungtw.com.lfd.xd http://mewkid.net/when-is-xuxlya2/

uhegsareg

http://mewkid.net/when-is-xuxlya2/ – Amoxicillin On Line Amoxicillin 500mg Capsules spr.grba.prungtw.com.boh.lp http://mewkid.net/when-is-xuxlya2/

abuqovumaka

http://mewkid.net/when-is-xuxlya2/ – Buy Amoxicillin Online Buy Amoxicillin smj.jlxw.prungtw.com.qgo.ju http://mewkid.net/when-is-xuxlya2/

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.
Thanks for contacting us! We'll get back to you shortly. Thanks for subscribing Thanks! We will notify you when it becomes available! The max number of items have already been added There is only one item left to add to the cart There are only [num_items] items left to add to the cart