Skip to main content

Pop Adalah Jawaban Dalam Pencarian Selera Musik Irfan Popish

Pop Adalah Jawaban Dalam Pencarian Selera Musik Irfan Popish

 

Musik pop, musik yang sudah tidak asing lagi bagi para penggiat skena musik hingga masyarakat luas di berbagai belahan dunia. Musik yang sangat familiar ini menjadi salah satu jenis musik yang memiliki banyak penggemarnya. Rupanya musik pop sudah menjalar keseluruh belahan dunia dan merasuki kehidupan banyak anak muda. Pop tidak hanya popular dibeberapa negara seperti beberapa jenis musik yang ada. Tidak hanya anak muda, jenis musik yang satu ini memiliki penikmat lintas usia yang sangat beragam. Keberagaman ini yang menjadikan musik pop menjadi salah satu candu bagi masyarakat luas. Pop tidak hanya milik satu golongan atau hanya milik satu kalangan tertentu, pop menjadi roh yang menghidupi kehidupan sehari-hari para pecintanya. Tidak sedikit pula anak muda yang membaptis dirinya sebagai pecinta musik pop ini.

 

Setelah menjadi sesuatu yang memiliki persebaran yang sangat amat luas, pop menjadi suatu subkultur bagi sebagian anak muda yang berkecimpung didalamnya. Mereka menjalin komunikasi didalam komunitas tersebut, atau yang biasa mereka labeli dengan kata “skena”. Skena musik pop sangat menjamur diberbagai belahan dunia, termasuk di negara dunia ketiga ini, Indonesia. Musik pop seperti sudah menjadi bagian hidup dari anak muda yang berada di Indonesia meski terkadang para penggiat skena musik pop selalu mendapatkan perbandingan dengan penikmat musik keras, tetapi siapa juga yang memperdulikan hal itu, pop bukan hanya sekedar musikyang dimainkan oleh sekelompok orang diatas panggung besar.

 

Pop menjadi sesuatu yang memiliki nilai multicultural dan tidak pernah memperdulikan siapa yang memainkannya dan pop juga menerima siapa saja yang ingin berada didalamnya. Mengingat fashion tidak akan pernah dapat terpisahkan dari musik, pop memiliki daya tarik tersendiri dalam segi fashion. Seperti kita ketahui, salah satu pergerakan anak muda di Inggris khususnya dikota Manchester yang melabeli kelompoknya dengan kata “Madchester” yang tampil nyentrik dengan pakaian yang over size, celana baggy dan bucket hat yang melengkapi penampilannya. Tetapi rupanya kesampingkan dulu fashion dari Madchester karena kita akan mengulas lebih lanjut salah satu penggiat skena musik pop di Indonesia sekaligus penulis buku Bandung Pop Darlings yaitu Irfan Popish.

 

Irfan Popish, salah satu nama yang mencuat ke khalayak diluar skena musik pop ini menjadi perbincangan yang menarik dikalangan anak muda setelah ia berhasil merilis karyanya dalam bentuk buku yang ia beri judul Bandung Pop Darlings. Irfan Popish mengawali perjalanannya didalam skena musik pop pada tahun 2006 ketika ia menginjakan kaki dibangku Sekolah Menengah Atas dan pada saat itu ia menemukan band asal Dublin yaitu My Bloody Valentine. Hal ini terjadi ketika Irfan Popish mencari band metal asal Bridgend, Wales yaitu Bullet For My Valentine. Pada saat itu Irfan Popish masih mencari musik mana yang cocok bagi dirinya dengan masih mendengarkan jenis musik yang beragam. Setelah menemukan My Bloody Valentine, Irfan Popish awalnya merasa aneh dengan musik yang dimainkan oleh unit progressive rock asal Dublin ini. Tetapi rupanya Irfan Popish merasa cocok ditambah dengan setelah ia mengetahui The Milo band asal kota Bandung juga memainkan musik seperti My Bloody Valentine.

 

 

Setelah hal ini terjadi, Irfan Popish mulai menghadiri beberapa pertunjukan musik pop yang ada di Bandung dan mengenal banyak teman baru yang memiliki frekuensi yang sama dengan dirinya. Irfan Popish semakin larut dalam skena musik pop, bertambahnya literasi yang didukung dengan circle baru membuat Irfan Popish dengan tegas meyakinkan bahwa “Ieu yeuh aing pisan” kalimat tersebut merepresentasikan bahwa Irfan Popish merasa sepenuhnya cocok dengan skena musik pop ini. Pop muncul sebagai jawaban ketika Irfan Popish kurang menyukai musik dengan ritme yang cepat.

 

Irfan Popish terus mencari literasi tentang dunia musik pop ini dan pada beberapa literasi yang ia temui ia menemukan bahwa pop adalah punk dengan citra yang manis dan pada saat itu juga Irfan Popish menemukan beberapa sosok yang mengisnpirasi dirinya. Jarvis Cocker, Bez dan The Charlatans adalah sosok yang mempengaruhi Irfan Popish dalam mencintai musik pop ini. Hal ini juga yang mempengaruhi gaya berpenampilan Irfan Popish, rapih dengan tetap memiliki semangat anak muda yang urakan, begitu tuturnya.

 

 

Dikota Bandung sendiri pada tahun 90an musik pop menjadi salah satu virus baru dikalangan anak muda. Disalah satu tongkrongan yang berada di jalan Dago yang bernama Kintam. Sekumpulan anak muda yang tergabung dalam tongkrongan ini sangat mengadopsi sosok yang berada didalam dunia musik pop, tidak jarang dapat ditemukan anak muda dengan kaca mata besar ala Jarvis Cocker, kemeja ketat ala Brett Anderson hingga cara jalannya Ian Brown. Rupanya hal ini tidak dapat dilepaskan dari fanatisme seperti apa yang sebelumnya terjadi di Kota Kembang ini.

 

Pada tahun 2010 Irfan Popish membentuk sebuah grup band bersama beberapa temannya. Pada suatu waktu setelah Irfan Popish sering menghadiri pagelaran musik yang menampilkan The Milo, Irfan Popish menghadiri acara yang bernama Super Sonic Sound Fest yang menampilkan beberapa band shoegze asal Jakarta, Bandung dan Jogja dan juga melakukan tour lima kota pada saat itu dan Irfan Popish semakin larut dalam dunia musik indie pop. Sebagai mahasiswa tingkat awal Irfan Popish semakin tertarik kedalam dunia ini setelah ia merasa bahwa isu-isu sosial juga menjadi salah satu hal yang diminati didalam skena musik pop ini dan hal inilah yang melatar belakangi terbentuknya band yang ia bentuk bersama beberapa temannya.

 

Gayung bersambut, pada suatu ketika Irfan Popish menghadiri pagelaran musik yang memiliki tema “Britpop’s Coming Home”. Pagelaran yang bertajuk tribute ini memiliki beragam musik yang dimainkan oleh pengisi acara dalam acara tersebut. Tidak melulu Oasis dan Blur, Inspiral Carpets, The Charlatans dan Happy Mondays yang pada saat itu band-band tersebut masih asing dikalangan anak muda. Hal ini juga yang membuat Irfan Popish penasaran dan selalu menanyakan pada temannya lagu apa yang tadi dibawakan oleh pengisi acara di event tersebut. Irfan Popish akhirnya cukup menggilai dunia musik Britpop pada saat itu dengan segala referensi yang ia dapatkan.

 

 

Menurut Irfan Popish dari berbagai literatur yang ia dapatkan, Indie pop pada awal kemunculannya adalah ketika munculnya kompilasi C86 yang diprakarsai oleh British Music Magazine NME yang pada saat itu mereka melabeli bahwa indie pop adalah musik pop yang amatir dan beberapa band indie pop adalah orang-orang yang tidak lihai memainkan alat musik. Tetapi kendati demikian skena indie pop ini adalah salah satu pemantik dari munculnya skena musik nasional yaitu Britpop, walaupun ada beberapa skena lain seperti Madchester yang juga menjadi awal mula lahirnya skena musik Britpop ini.

 

 

Indie pop bukan hanya sekedar musik, bagi beberapa penggiat skena musik ini meyakini bahwa indie pop melibatkan pola pikir dan estetika lainnya. Hal ini juga yang melatar belakangi perbedaan pola pikir antara indie pop dan indiepop. Perbedaan ini tidak hanya terletak dalam penulisan saja, indie pop dan indiepop memiliki perbedaan dalam segala aspek seperti salah satunya ketika indie pop men generalisir semua musik pop yang dikemas secara independen walaupun tidak dikemas dengan segala idiologi awal munculnya yang berbeda dengan indiepop yang masih mempertahankan segala pola pikir dan estetika nya sendiri.

 

Pada kisaran tahun 2011-2012 Irfan Popish yang menggilai salah satu record asal Inggris yaitu Sarah Record, Irfan Popish pada saat itu tertarik untuk melakukan penelitian dalam skripsinya yang membahas segala gejala yang ada didalam Sarah Record dan pengadopsian nya oleh anak muda di Bandung pada saat itu. Tetapi pada saat itu dosen pembimbingnya menolak ketertarikan Irfan Popish tersebut karena literasi yang ia butuhkan masih sangat terbatas dan akhirnya Irfan Popish memutuskan untuk meneliti skena musik Britpop yang diadopsi oleh anak muda di Bandung pada saat itu.

 

 

Gayung bersambut, setelah menyelesaikan penelitian skripsinya, Irfan Popish merasa kurang dengan apa yang ia teliti, karena ia meneliti hanya satu aspek saja dan akhirnya ia memiliki niatan untuk menulis buku, mengingat sejarah musik pop di kota Bandung sangat panjang dan memiliki keragaman dalam turunannya. Irfan Popish memulai menulis buku Bandung Pop Darlings pada tahun 2012, tetapi dengan segala kesibukannya mengakibatkan projek ini selesai pada tahun 2016. Selama pengerjaan yang kurang lebih tiga tahun lamanya, Irfan Popish mencatat hampir lebih dari 20 skena musik pop yang ada dikota Bandung. Mulai dari siapa yang pertama membawa skena musik pop ke Bandung, bagaimana cara mendapatkan informasi dan lainnya Irfan Popish dokumentasikan secara apik didalam buku Bandung Pop Darlings ini. Tidak hanya itu, buku Bandung Pop Darlings ini sendiri menceritakan bagaimana skena musik pop di adopsi, berbagai macam turunan dari musik pop dan ide-ide politis pun tidak luput dari pembahasan yang ada didalam buku ini.

 

 

Menurut Irfan Popish korelasi sepak bola dan musik pop di Indonesia baru dikenal pada tahun 2010. Pada tahun 90an gejala ini kurang menjamur dikarenakan minim nya informasi mengenai hubungan antara dunia musik pop dan sepak bola walaupun dinegara kelahirannya Inggris, budaya musik dan sepak bola local sangat berhubungan erat ketika mengingat Jarvis Cocker sebagai vokalis Pulp adalah pendukung dari Shefield Wednesday tim sepak bola asal kota Sheffield, Inggris yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas di Indonesia. Kecintaan pada fashion, tim sepak bola lokal dan musik di Inggris memang sudah menjadi suatu kesatuan yang tidak mungkin dapat dipisahkan bagi warga Inggris sendiri.

 

Di Bandung sendiri Irfan Popish menuturkan bahwa penyebaran virus musik Britpop sudah lama terjadi ketika banyaknya gelaran musik yang bernuansakan tribute dari band-band Britpop. Tidak lama kemudian muncul fenomena baru di kota kembang ini dengan lahirnya sekumpulan suporter sepak bola yang mengadopsi subkultur football casuals pada tahun 2010 dan hal ini yang juga kembali menjadi pemantik semangat musik pop di kota Bandung dan beberapa kota besar di Indonesia. Lagi lagi Bandung mengadopsi secara sempurna subkultur asal Inggris ini yang melibatkan musik, fashion dan sepak bola dengan lahirnya kompilasi Extra Time pertama yang menampilkan tiga band pop asal Bandung Bluecorners, All Day I Dream And Shine dan The Fish.

 

 

Gemuruh musik pop dengan menjamurnya berbagai skena yang tetap membawa semangat kelas pekerja menjadi nilai tambah yang menjadikan skena skena yang diprakarsai oleh gerakan anak muda di Indonesia menjadikan musik ini tidak pernah mengalami masa redupnya. Akhir cerita kami tegaskan dengan statemen dari Irfan Popish, pop bukan hanya sekedar musik, banyak idiologi dan estetika lain yang melengkapi dunia musik ini. See u lads!

 

 

Penulis: Rifqi Maulana

Comments

Be the first to comment.

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.
Thanks for contacting us! We'll get back to you shortly. Thanks for subscribing Thanks! We will notify you when it becomes available! The max number of items have already been added There is only one item left to add to the cart There are only [num_items] items left to add to the cart