Apa Itu Glory Hunter?

Apa Itu Glory Hunter?

Sepak bola, sepak bola lagi, sepak bola terus, pemuja sepak bola gitu? Hahahaha. Ya emang gak bisa dipungkiri, sebagai salah satu olahraga nomor wahid didunia, sepak bola memang sudah dan berhasil menarik perhatian banyak orang. Gak cuma kaum adam, kaum hawa pun turut serta dalam mewarnai indahnya permainan 11 lawan 11 ini. Tidak hanya kawula muda, orang tua hingga anak kecil pun rupanya berlomba untuk menentukan siapa jagoan mereka di atas lapangan hijau.

Memang, kita dipaksa untuk memilih siapa yang patut kita dukung dan kita banggakan, masa iya mau punya beberapa jagoan kan, ya walaupun ada juga sih tipikal orang yang memiliki lebih dari satu, dua atau tiga tim yang mereka banggakan. Tapi gak sedikit juga orang yang hanya memiliki satu jagoan saja yang mereka pilih dan dukung sampai kapanpun.

Beberapa alasan untuk memilih dan menentukan siapa jagoan mereka pun memiliki berbagai alasan. Mulai dari sisi sejarah, ideologi tertentu, hingga alasan turun temurun yang menjadikan sebuah klub sepak bola menjadi suatu warisan. Bahkan, menurut mantan pemain sepak bola asal Perancis, Éric Daniel Pierre Cantona, atau yang lebih sering dikenal dengan sapaan Eric Cantona “You can change your wife, your politics, your religion, but never, never can you change your favourite football team” sebuah kalimat yang hingga saat ini menjadi sesuatu yang cukup sakral ketika para fans menentukan klub mana yang mereka dukung.

Dalam hal menentukan klub mana yang biasanya suporter sepak bola pilih memang sangat amat beragam, seperti apa yang sudah saya tuliskan diatas. Namun, beberapa klub yang memiliki nilai sejarah, klub lokal dan klub yang memiliki banyak gelaran baik di kancah nasional maupun kancah internasional menjadi klub yang sangat diuntungkan. Sebut saja beberapa klub asal Eropa yang memiliki nilai sejarah seperti Manchester United, Liverpool, AC Milan, Juventus, Ajax Amsterdam, FC Porto, Benfica, Bayern Munchen, FC Barcelonda dan Real Madrid, pasti memiliki fans yang cukup bahkan sangat banyak di berbagai belahan Negara selain di Negara klub itu lahir.

Fenomena seperti ini memang bukanlah hal baru dalam dunia sepak bola. Bagaimana tidak, tidak sedikit dari para fans yang memilih klub yang memiliki raihan banyak gelar, deretan pemain bintang dan jajaran trofi yang menjadikan kebanggaan tersendiri yang terkadang melabeli diri sebagai fans “sejati”.

Namun, tidak sedikit juga beberapa fans memilih klub yang terkadang disebut sebagai klub “antah-berantah” atau klub yang jarang sekali memiliki pemain bintang dan juga minim akan gelar, bahkan ada beberapa fans yang memilih klub yang sering di-istilahkan sebagai klub yang puasa gelar. Sebut saja beberapa klub asal Inggris seperti Arsenal, Westham United, Newcastle United, Nottingham Forest, Tottenham Hotspur dan Aston Villa.

Beberapa klub tersebut memang memiliki fans yang cukup banyak di berbagai belahan Negara, mereka memiliki nilai histori yang cukup panjang dan menarik. Namun, mereka minim akan prestasi dan tidak jarang juga, mereka dijuluki sebagai klub medioker, sungguh kasihaaaaaaan. Tapi, kalau kata Dennis Bergkamp “When you start supporting a football club, you don’t support it because of the trophies, or a player, or history, you support it because you found yourself somewhere there. Found a place where you belong” ngeri juga ya hahaha.

Nah, selain daripada kedua fans yang memilih klub yang bergelimang trofi dan fans yang memilih klub medioker, ada juga fans yang mendapat label sebagai “Glory Hunter”. Beberapa suporter atau fans sepak bola yang di cap sebagai glory hunter ini memang kerap mendapatkan hujatan atau bahkan diremehkan oleh beberapa suporter lainnya, khususnya di media sosial, ya karena media sosial jadi salah satu tempat para fans berantem hahaha. Jadi, sebenarnya, apa? Dan siapa itu glory hunter?

Glory Hunter

Istilah glory hunter mulai dikenal pada tahun 1990-an seiringan dengan mendunianya kompetisi liga Inggris yang hadir di layar kaca pemirsa. Kehadiran langsung yang didukung oleh media yang sangat besar dengan kualitas tayangan ke seluruh dunia yang semakin banyak membuat liga ini menjadi salah satu kompetisi yang memiliki banyak penikmat di dunia. Gayung bersambut, mulai bermunculan banyak penggemar tim sepak bola Eropa di berbagai negara, termasuk di Asia. Sebagian dari mereka, memang tidak semuanya menjadikan suatu klub sebagai sesuatu yang harus dibela mati-matian, mereka mengonsumsi sepak bola hanya sebagai hiburan. Itulah mengapa ada fans yang loyal terhadap satu tim, ada juga yang masih labil sehingga hanya ikut meramaikan tim yang sedang bagus prestasinya saja.

Berbeda lagi jika dibandingkan dengan suporter tradisional yang mendukung suatu klub karena faktor geografis atau demografis, fans-fans baru yang bermunculan ini mendukung tim tergantung siapa yang mereka lihat di televisi pada saat itu. Pada hakikatnya, manusia selalu ingin dikaitkan atau memiliki hubungan dengan yang terbaik, maka lumrah bagi fans sepak bola untuk mendukung tim yang mereka anggap tampil dengan performa terbaik. Tidak ada kaitan sejarah atau primordial karena memang terbatas jarak antara domisili mereka dengan klub-klub yang jauh disana dengan tanah asalnya juga.

Secara harfiah, glory artinya kejayaan dan hunter artinya pemburu. Jadi, jika diartikan secara bebas, glory hunter ini memiliki makna pemburu kejayaan. Jika disimpulkan, istilah ini memiliki makna orang awam yang memburu kejayaan dalam dunia sepak bola sebagai fans atau suporter. Maka glory hunter bisa juga disebut pemburu trofi. Ini adalah makna dasar yang sangat mudah untuk kita pahami. Nah sekarang apakah semua klub sepak bola mesti menjadi Glory Hunter? Mungkin bisa saja semuanya berambisi untuk menjadi juara, mendapatkan trofi dalam suatu kompetisi.

Nah, istilah glory hunters sendiri digunakan untuk mendeskripsikan fans sepak bola musiman yang tim kesayangannya berganti-ganti tergantung siapa yang sedang berjaya. Contohnya, pada akhir tahun 90-an, mendukung Newcastle United, pertengahan medio 2000-an mendukung Chelsea, dan sekarang menjadi fans Manchester City. Walaupun hal ini terdengar cukup ekstrim, namun hal ini memang jelas terjadi. Fenomena glory hunters ini tidak dapat dibantah lagi ketika modernisasi sepak bola terjadi dan olahraga ini merambah masuk ke budaya populer. Dan sudah jelas, suporter tradisional mendapat kawan baru dengan masuknya penggemar-penggemar sepak bola kelas sofa yang meskipun berbagi keriaan, belum tentu berbagi sentimen emosional.

Maka dari itu, karena fans sepak bola tidak bisa meraih glory secara langsung, tapi bisa menikmati glory, maka para glory hunter adalah fans sepak bola yang berupaya untuk terus dapat menikmati dan merayakan glory setiap musimnya. Bagaimana semua itu bisa terjadi? Tidak sulit rupanya bagi mereka dengan cara berpindah klub yang didukung setiap musimnya. Mereka selalu berevolusi dengan melakukan prediksi klub mana yang kemungkinan juaranya paling besar dan bisa memberikan glory untuk mereka. Jadi, para glory hunter ini bisa berganti klub setiap musim. Aneh bukan? Namun fans seperti ini benar-benar ada dan nyata. Dulu dukung Manchester United, musim ini dukung Manchester City karena Manchester City disinyalir lebih berpeluang juara. Dulu dukung Barca, sekarang dukung PSG. Fans seperti inilah yang disebut glory hunter.

Munculnya glory hunter memang marak dalam beberapa tahun terakhir, khususnya ketika sepak bola kembali mewarnai kehidupan pasca pandemi. Berbeda dengan fans pemain bola yang ikut pindah ketika sang idola hengkang, glory hunter diidentikan dengan orang yang tiba-tiba mendukung suatu klub dengan alasan kekayaan klub, trofi atau prestasi. Bisa dikatakan mereka ini latah dengan kejayaan dan industrialisasi yang terjadi dalam sepak bola modern. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan glory hunter sampai dimana mereka menghujat klub lain dengan sebutan miskin atau hinaan lain yang menyulut sebuah pertikaian. 

Glory hunter juga akhirnya menjadi kaum yang diremehkan di dalam bagian (fans) sepak bola. Mereka dianggap sekumpulan orang cupu yang hanya tahu klub dan pemain-pemain masa kini dan klub-klub besar saja. Jangankan sejarah klub lain, klub yang mereka dukung pun belum tentu mereka tahu atau memahami latar belakang klub dan sejarahnya.

 

Jadi, dalam memaknai fenomena glory hunter ini memang cukup mudah, bagaimana kita memandang sepak bola sebagai apa yang kita nikmati. Entah hanya sebagai hiburan semata atau sebagai identitas diri, walaupun hal ini sering terjadi. Jika kalian menganggap sepak bola sebagai hiburan, cukup nikmati saja jalannya pertandingan, dan jika kalian menganggap sepak bola dan klub yang kalian bela menjadi identitas diri, dukung klub yang kalian cintai dengan sepenuh hati. Namun, dirasa cukup menggelitik jika ada orang yang memiliki ketergantungan terhadap suatu klub yang bergemilang prestasi dan trofi. Maka sudah jelas, jika ada suatu klub yang melabeli diri sebagai “This club not for glory hunter” maka klub tersebut bukan tempat dimana para fans yang haus akan prestasi, bahkan trofi. Cukup sekian dan terima kasih hahahaha.

 

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.